Cerita Tentang Bayang-bayang

Sirnanya cahaya mentari yang telah berganti terang rembulan. Malam ini persis 11 tahun yang kemarin. Aku dan dirinya duduk berdua di bangku bambu di belakang tempat persembunyianku. Di pekarangan yang hampir tak ada terang. Hanya sinar sinar kecil lampu dari kejauhan. Namun kami merasa bermandikan cahaya dari rembulan yang riang. Dengan awan-awan yang menyenangkan. 11 tahun yang kemarin itu. Tak terasa lalu. Baru saja. Kemarin.

Bangku bambu yang reot. Sepertinya merasa iri dengan obrolan kami. Saya yang baru berumur 21 dan dia yang masih 19 jalan. Sedang bersemangat membicarakan nafsu indera, tentang bayang-bayang, tentang kasih asmara, tentang sentuhan-sentuhan penuh gejolak. Bangku itu makin rewel saja seolah meminta diajak berbincang. Tak tahukah ia, saat itu gelora muda kami sedang mengalir deras.

Suara tawa, nada tak percaya, suara menggoda, nada-nada manja bertukar dengan denting waktu. Saya rasa rembulan tertawa melihat tingkah kami.

Nyamuk-nyamuk seakan absen.mengganggu. Di tempat yang orang bilang kumuh macam ini. Tentunya nyamuk adalah warganya juga. Hanya mereka tak terdata. Tak punya kartu/tanda pengenal. Karena merekalah juga bayang-bayang tak perlu bergerak secara mandiri. Hanya perlu mengikuti sang pemilik bayang itu.

Kami berlalu dengan lagu. Satu dua sering kali ia mencubit pinggangku. Katanya “kamu dusta, palsu” ketika aku memuji kepandaiannya dalam memikat segala rindu orang-orang muda, salah satunya ya diriku ini. Dan aku membalas cubitan itu dengan meremas tangannya. “tanganmu nakal, seperti senyummu”. Lalu kami tertawa. Bangku juga mereot terkira.

Bulan makin miring dari kami berdua. Perlahan menjauhi kami yang sedang mabuk kata. Langit masih saja cerah. Membiarkan kami menikmati bayang-bayang malam yang bergerak malas dari peraduan.

Ketika obrolan menuju cita-cita. Saya pun tersentak, bergeser dari sisinya, sedikit. Dia melihatku aneh. Lalu mengeser tubuhnya merapatkan kembali renggangan beberapa detik itu.

Dalam hati saya tertunduk. Saya bicara. Bagaimana mungkin saya bisa menjawab pertanyaan itu. Sedangkan untuk membeli minum dan kudapan kami berdua malam ini saja. Saya harus “mencuri” dari warung kampung sebelah yang pemiliknya suka mengurangi timbangan. Bicara dalam senyap hati itupun terhenti. Karena lagi-lagi dia mencubitku. “kok kamu diam, kamu belum makan? atau? Pertanyaanku tadi?” dan lagi kuremas tangannya. Kini ku kecup punggung tangan yang dirawat itu. “aku diam karena pertanyaanmu belum ku mengerti” lalu dia pun mencubitku. Sungguh rembulan yang bulat terang itu pasti geleng-geleng karena perilaku cubit dicubit ini. Tanyanya lebih dari sekedar cubitan godanya. Aku sadari itu. Maka dari itu, ku tahan untuk tak mencubit balik. Karena rasaku padanya juga. Agar ia tak merasakan, membetulkan apa yang orang-orang bajik bilang, “kalau tak ingin dicubit, maka jangan mencubit”. Kurasa biarlah malam ini jadi cerita, tentang kompromiku. Aku senang terperangkap senyumnya. Senang betul. Mungkin di lain kesempatan akan ku jelaskan sejelas-jelasnya. Kami kembali pada nada-nada lepas. Tawa yang merdu. Suara lirih yang penuh nafsu.

“kamu tidak pulang?” tanyaku.
Daun gugur di depan kami.
“belum ingin” jawabnya langsung.
“Mungkin kamu sedang terperangkap juga?”
“tidak, aku tak terperangkap, aku memperangkapkan diriku sendiri, dengan inginku”
Daun yang gugur tadi, bergerak pindah posisi.
“baiklah jika itu inginmu”

Beberapa lampu kecil dari kejauhan padam. Aku tertambat.

Rembulan bergeser, bulatnya terhalang gedung bertingkat. Masih tersisa lebih separuh menatapku. Senyum rembulan itu, tak penuh tapi tulus.

“aku mengagumi bayang-bayangmu” kataku jelas. Dua kali ku cuapkan.
“Kenapa bayang-bayangku?” Sanggahnya heran.

Suara gaduh terdengar dari bangun kotak semi permanen tempat persembunyianku. Berteriak-teriak memanggil namaku dan nama-nama binatang. Bajingan-bajingan ber-argo telah menemukanku. Orang-orang pemberani yang sok jagoan jika beramai itu. Aku seorang pengecut tentu akan bersembunyi. Karena itulah tugas pengecut.

Kukecup keningnya sambil membisikan kata rindu menggebu. 
“tolong dengarkan cubitanku, kamu lewat sana dan segera pulang. Segera! Simpan pertanyaanmu sayang. Segeralah! Pulang.

Dia berjalan ragu. Kugerakkan tangan pertanda cepat dan mulut.yang gerak tak bersuara. lari.. lari.. Punggungnya itu. Wajah bingung dan ketakutan. Kuingat sangat. Bayangnya sekejap menghilang.

Aku berteriak “aku di sini, Keparat!” dan aku berlari berlainan arah dengannya. Kasihku.

Aku mengagumi, bayangmu yang indah, karena aku tahu lalu percaya pemilik bayang itu pastilah lebih, lebih indah.

Sambil berlari ku pegang belati yang kuselipkan di pinggang kiriku. Dan pinggang kananku, cubitmu masih terasa.

kamarhitam, ditemani tembang balada Ebiet G Ade, 25APR13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s