Keguncangan Bunga-Bunga Keguncangan

Cenderung menghindari terang hari. Bukan karena teriknya matahari. Tetapi karena gelap selalu menawarkan misteri. Darisanalah juga lahirlah jiwa yang betah dengan keresahan, kegelisahan yang berlarut. Begitu setia ia memelihara semua itu. Ke-belum-sanggup-an menatap jejak langkah yang terluka juga jadi alasan mengapa saat ke-kurangan cahaya dipilihnya untuk merasakan sakit. Tidak untuk mengeluh pada luka yang menganga. Luka yang mengerikan itu. Tak mampu menatapnya. Sekarang hanya bisa dan baru bisa merasakannya, menikmatinya, mendengar jeritannya. Keguncangan keguncangan yang dipelihara dengan baik. Membuat wajahnya murung, tak menyukai senyum palsu. Apapun yang palsu. Karena lukanya bukan sesuatu yang palsu. Tak dapat disembunyikan. Semua itu tampak jelas dari gerak-geriknya.

Ketika hari yang jingga. Dengan sorak menyambutnya. Senyum merekah menghantar surya pulang–pergi ke bagian bumi lainnya. Gemetar lalu. Kegagalan-kegagalan tampak jelas. Bersana awan-awan yang membumbung, kabung di rasa sejenak.

Pekat. Gelap pekat. Dinikmatinya. Enggan mengakhiri cerita. Untuk menutup mata. Bosan dengan mimpi yang sering membuatnya kecewa. Gigi gingsul dan pipi yang seakan berlubang ketika tersenyum. Mengiring, menuntunnya berjalan. Sosok yang sobek itu. Menawarkan asa yang berbunga. Penuh gebu dan gelora.

Bunga. Bunga. Bunga. Sebutnya. Menyayat malam yang dini. Menyambut hari yang awal. Tangan dengan jari-jari yang lancip. Kuku yang merah darah. Dinding-dinding yang penuh goresan. Cakarnya. Begitu caranya menularkan luka. Menawarkan sakit yang lain.

Makin lusuh sang gelap. Makin karat. Kering. Begitu kuatnya pelukan sang gelap. Membuatnya makin sering bersenandung. Menyanyikan renungan-renungan untuk kembali menelanjanginya dari ke-pura-puraan. Kepalsuan yang menjadi tumpukan debu. Hanya dengan sentilan kecil. Tiupan halus. Debu itu akan mudah dihirupnya. Masuk kedalam rongga saluran pernapasannya. Siap menguhukumnya. Di hadapan rembulan. Menangis menjerit. Ia memohon ampun.

Kamarhitam, ditemani Ebiet G Ade, 22APR13. Selamat hari senin ya Bumi.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s