Taman Teduh Yang Murung

Kami duduk berdua di atas bangku taman sebuah kampus ternama di Bandung kota, melihat awan yang mendung dan burung burung yang berlindung. Teriakan burung-burung yang tampak bebas namun sebenarnya terperangkap. Pohon-pohon tak lagi banyak, tak lagi ada pilihan, untuk menetap atau terus meratap. Dan suara burung-burung menarik perhatianku, melebihi desis angin dan bisik pengunjung taman lainnya.

Dalam suasana yang teduh dan agak muram ini, seketika dentuman palu pekerja yang tak jauh dari taman terdengar juga. Daun jatuh beriringan langkah kaki yang kaku menapak di bebatuan. Bau rumput menyengat, tanah yang basah dan resah.

Langit yang sebentar cerah terlambat, menantang hari ini, kami isi dengan berkelana, sebentar saja. Berputar-putar keliling kota, melihat mereka yang merdeka dengan tutup kepala. Lalu kami tutup perjalanan kelana hari dengan bertemu kicau-kicau ini. Teduh ini dan lagi pertanyaan itu.

Untuk mengingat semua yang telah terjadi. Kami yang tak pernah bertemu, tak pernah bertatap pandang, hanya tanya yang melintasi waktu. Jika saja ada binatang di kepalaku. Adakah kau pernah melihatnya. Binatang yang selalu membuatku tampak lebih buas dan mengerikan. Binatang itu selalu ada bersamaku. Sudah lama kutampik keberadaanya. Namun percuma, binatang itu terus dan terus di kepalaku. Hingga kini.

Dan sekarang kami, diam. Melihat diri masing-masing. Masihkah ada sisa peluk untukku. Langit pun menjadi gelap. Tinggal kami berdua.

Bandung, 8APR13

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s