Di Sepanjang Jalan Itu

Aku terbakar di jalan
Matahari berubah jadi matahati
Ku lihat banyak kendaraan mengambang tak menyentuh jalan
Para pengendara di dalamnya begitu angkuh
Menganggap lainnya tak ada
Disangka jalan adalah udara
Boleh sesuka diri mengigau dengan klakson klasiknya

Tidakkah mereka itu tahu
Mereka yang menganggap orang lain sebagai penghalang
Bahwa mereka akan marah membara lalu menangis sesenggukan ketika kendara mereka yang manis itu tergores hati yang terbakar

Tidakkah aku menjadi buta karena suara mereka itu
Yang mau lebih dahulu
Yang mau lebih awal
Yang mau lebih cepat
Yang mau kemauannya saja
Apa sebenarnya yang mereka kejar?
Apa mereka tertawa di dalam sana?
Aku betul-betul buta, mataku.
Semoga hatiku tidak bermuara juga begitu

Lalu ku berhenti sejenak
Di pinggir jalan yang makin ramai itu
Ramai dengan tamak dan seolah kegagahan
Menatapku ke bawah jauh di atas tanah
Melihat sang empu jelajah
Yaitu sepatuku yang makin tipis dimakan aspal
Berteriak ia histeris
Kemudian meringis
Meminta lawan yang sepadan

Tubuhku menangis
Mengucur airnya membasahi zirahku
Tetes kuseka di ujung kepala
Ku hempas ke dalam lamunan
Dikerumunan simpang jalan
Semoga tumbuh pohon pengertian
Tumbuh penyejuk dari kesewenang-wenangan
Dan aku mulai mengayuh lagi
Matahari menjadi matahati
Aku terbakar hari ini

Kamarhitam, ditemani Ebiet G Ade, APR13

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s