Sakit Kepalaku Sakit

Aku terbangun pagi sekali, sebelum fajar. Kepalaku sakit bukan main. Dinginnya udara pagi begitu menusuk tubuhku, terasa hingga ke dalam tulang, badanku dibuatnya menggigil, sarung yang kugunakan tak bisa menghalau hawa dingin itu. Jangan tanya selimut, aku tak punya, potongan selimut terakhir telah kugunakan untuk untuk mengubur kucing yang mati terlindas mobil depan rumah susunku, pelaku kabur, tak menghiraukan tubuh yang remuk terlindas.

Kepalaku sakit bukan main. Aku mulai sering memikirkan, bagaimana nasib hewan-hewan di rumah sewaku ini, hewan-hewan yang sudah menjadi keluarga kecilku. Hewan-hewan yang ku ambil dari jalanan, bingung dan kelaparan. Heran bukan main, manusia modern sekarang membuang sampah saja pelit bukan main, tak pernah menyisakan apa yang bisa diolah bagi makhluk lain selain manusia, hanya plastik, kertas, dan mirip besi. Malang nian nasib mereka keluarga kaki empatku, yang tidak diinginkan, lalu dibuang ke jalan, yang sudah berpenyakit-tak lucu lagi, diterlantarkan, banyak yang masih hidup dibuangnya, banyak juga kutemukan sudah kaku tak bernyawa, kecil dan nahas.

Aku bertahan sekuat tenaga hingga terang matahari. Karena suara dari mereka itu menggerakkan semua ototku, aku seperti dicambuk suara-saura minta makan. Baru ku tegakkan semua tubuhku menuju toilet untuk membasuh sedikit saja bagian wajahku. lekas ku kejar hari yang berjalan pelan.

Sudah seminggu aku mengalaminya, aku tak lagi dapat menghasilkan uang deras yang segar. Untuk menyangga setiap suapan dan tegukan diriku dan mereka. Aku menjual koran dari pagi buta hingga sore yang merah. Hingga mata berat sekali terbuka. Aku hanya meringkuk menahan situasi ini. Situasi yang selalu kualami di musim kemarau, musim yang zaman sekarang sering datang terlambat dan pulang telat-sering ingkar, karena manusia juga ini mengakar. Sehingga aku mengantar koran-koran terlambat, dan sering mendapat protes. Seringnya begitu terjadi, berdampak pada siangnya aku menawarkan koran di lampu merah.

Aku merasa pola baca yang sudah berubah menyebabkan pelangganku beralih dari bentuk fisik konvensional menjadi bacaan digital, dan kesenangan orang juga berubah memelihara hewan bukan untuk berkawan, hanya untuk gengsi belaka. Entah rasaku yang keliru atau melenceng, dan entah apa penyebabnya pastinya, aku merasa teknologi mendorong perkembangan sikap perilaku dan pemikiran, berhubungan dan bersentuhan. Dan kepalaku pusing bukan main, ditangan orang yang tepat tusuk gigi sekalipun bisa jadi benda yang membahayakan sekaligus mematikan.

Seketika aku pikirkan itu semua, aku terbangun dari tidurku, di pagi yang dingin sekali. Kepalaku sakit bukan main. Suara-suara kawanku mengajak untuk bekerja lagi, berusaha lagi.

Kamarhitam, ditemani Fariz RM dan suara lius, 3APR13

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s