Lembar Kelam Diam

Lembar putih di layar itu terdiam, lama-lama menghitam, musik terus mengalun mengiringi pertanyaan-pertanyaan di depan mata, apa yang harus kulakukan pada lembar kerja yang sudah menghitam itu? Kenapa aku harus berhadapan dengan lembar kerja seperti ini? Bukankah sudah kukatakan saat itu, lembar kerja macam ini tak lebih dari coretan-coretan yang akan tertutup debu dan terkena air kencing seorang raksasa dengan kepala berjumlah tiga dan berkaki satu. Keterlibatan waktu membantu hitam menjadi kelam, dan akan makin kelam.

Mataku tertuju pada tumpukan cerita benda yang berdiam diri di pojok kanan layar ini. Ada cerita tentang kuas berukuran lebar 1 inci, tingginya tak lebih dari 4 centimeter dari sebuah spidol non permanen, yang mulai menguning karena kerjanya hanya membersihkan debu-debu yang menebal, yang sulit di jangkau oleh sapu maupun kemoceng, Karena bentuknya yang kecil, ia banyak menyelamatkan sudut-sudut yang kesepian dan terabaikan. Padahal dari sudut-sudut itulah kehancuran akan berlanjut dan menular hingga akhirnya kumpulan sudut yang besar akan sakit dan kehilangan taji hingga tak seperti pertama kali ia di lahirkan atau ditemukan.

Ada juga cerita benda tentang botol plastik. Yang seharusnya dia sudah tak berbentuk karena sudah diremas sedemikian rupa lalu terperosok di lubang pembuangan sampah belakang rumah, dan akan dipungut oleh bisa memanfaatkan menjadi kumpulan-kumpulan botol plastik yang akan bertukar dengan beberapa lembar rupiah. Ia masih di situ berdiri, di sebelah kanan layar ini. Tubuhnya masih menyimpan bulir-bulir air pembasuh dahaga. Entah mengapa botol plastik pasaran itu masih di sana. Seakan mengingatkan perilaku-perilaku di diri dan sekitar yang menyerupai “plastik”, mempunyai sifat ke-dulu-an yang susah terurai dan menjadi musuh bagi tanah, ketika penggunaannya berhenti pada onggokan limbah yang menyakitkan tanpa inovasi, keinginan memperbaiki, penggunaan kembali, atau daur ulang yang menempatkan pada pembaruan wajah dan fungsi. Sebuah usaha yang baik, dengan tetap berbahan dasar – “plastik”, tentunya plastik yang baik.

Tak terasa ketika orang asing, dengan ramahnya menyapa, menampar kehadiran orang dekat yang semakin asing karena keakuannya yang beranakpinak dan menyebalkan. Orang asing yang menggerakkan jari-jemari untuk melompat ke sana ke sini. Lalu mengahabiskan dikit demi sedikit kopi di dalam gelas kaca bening bercuping itu. Menghantarkan tumpahan-tumpahan kata yang mengotori lembar buram yang kelam itu.

Sebuah kumpulan-kumpulan perayaan setiap hari, tentang cinta, tentang konspirasi kecil, tentang pertanyaan yang sama, tentang kenikmatan bercinta dengan udara, tentang ketiadaan yang semakin menyadarkan, tentang keberlimpahan yang sering membuat lupa, tentang kebahagian yang melenakan, tentang kesedihan yang menakjubkan, tentang syukur yang harus dipanjatkan, tentang kehadiran yang melegakan, dan semua itu bisa tumpah, membasahi lembar kelam yang diam itu, yang semakin terpojok, tersudut karena terang sebentar lagi akan pergi, mengunjungi belahan bumi lainnya, menyapa kehidupan di sisi sana. Dan lembar-lembar itu, yang berisi nama-nama pemain drama, akan terbang tinggi dan semakin tinggi lalu hujan turun membuatnya basah, hancur terbelah, menjadi sobekan-sobekan lembar. Semakin deras hujan turun, semakin mendalam ia menyerap dalam tanah. Kemudian tumbuh menjulang membuat bayangan besar ketika mentari menyinari. Lembar kelam yang berakhir meneduhkan.

Kamar hitam, ditemani musik dari Aurette dan Melbi, 1APR13.

*zn
anakwayang

2 thoughts on “Lembar Kelam Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s