Jendela Yang Pecah

Aku di sebuah ruangan. Dengan sengaja menemukan sebuah jendela dengan kaca yang hitam. Kesengajaan itu yang diakibatkan keinginan. Bukan kenyamanan di dalam ruang. Aku di dalamnya. Bagaimana aku bisa memandang ke luar, dan itulah sebuah tujuanku di dalam sana, walau tak sebebas di alam. Namun di ruang itu apa yang aku perhatikan tak bisa diperhatikan orang dari luar.

Ketika jendela itu dipecahkan, hancur pula pandangan yang tercipta dariku. Aku kehilangan pelindung. Mereka- orang-orang dengan rssa ingin tahu yang besar sungguh mengganggu. Aku hanya diam dan bisu, di dalam ruang itu hanya melihat — belajar memandang tanpa pandangan orang yang mempengaruhi. Untuk Malam itu.

Malam ketika jendela itu pecah. Hatiku terbelah. Darahku mencurah. Dan akhirnya aku terkapar dalam ruang sempit itu. Karena mataku terkena pecahan kaca. Dan aku memilih untuk terpejam selama mungkin. Selama masih bisa aku katakan, ketika aku terbaring di sana juga jendela itu terbuka dan berudara. Untuk semua yang mengira pandangan itu bisa menghanyutkan. Untuk itu juga aku mulai kembali belajar melihat untuk kembali hanyut dan bermuara entah sampai mana, sampai kapan. Dan pecahannya membuatku meracau. Sekarang.

Ruang terbuka, selesai makan soto sampah, 31MAR13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s