Kami Berkirim Surat

Surat itu baru saja aku terima. Diantar oleh petugas pos yang ramah dan murah senyum itu meski wajahnya yang lelah dan berkeringat. Sebuah pembuka yang baik walau kita tak pernah tahu surat-surat yang diantarnya itu berisi berita baik atau tidak. Tak banyak yang bisa dibicarakan, bergegas ia pamit, meninggalkan pekarangan rumahku. Terima kasih kuteriakan kembali dan ia membalas dengan bunyi klakson dan kepala yang megangguk.

Surat beramplop putih itu, surat yang sudah kutunggu kedatangannya. Kugenggam dengan darah penasaran, ku bawa ia ke dalam kamar untuk segera kurobek amplopnya, ku buka dan mulai kubaca. Surat dari orang yang sudah lama kurindukan wujudnya. Karena banyak ketakutan yang tumbuh di pekarangan hingga penampakan utuh dari pengirim surat itu tak pernah sampai ke ruang untuk tamu rumahku, apalagi untuk masuk ke ruang yang paling menggambarkan diriku. Kamar yang berisi seperti cerita dalam suratku padanya, dengan dinding penuh coretan kata-kata, gambar-gambar besar dari musisi yang kukagumi, hingga foto-foto ukuran kecil yang kutempel sembarang tempat. Kamar penuh cerita dan kata-kata.

Ku baca, paragaraf pertamanya, seperti surat-surat yang sudah-sudah, pertanyaan kabar dan doa semoga selalu baik saja. Kumpulan kata pengantar yang menyenangkan, terlalu sering sehingga sudah menjadi hal yang wajib, dan agar dibilang konsisten. Setelah paragraf itu selesai, ku berhenti membacanya, kutaruh surat itu di atas meja kerja. Ku nyalakan pemutar musik, keping cakram padat dari ben asal Jogja yang juga merupakan hadiah perkenalan darinya. Selau ku putar untuk menemani membaca surat darinya.

Dan seperti yang sering-sering itu. Aku menjadi sering membaca-tidak hanya surat- sambil mendengar musik kegemaranku. Dan kebiasaan terpelihara hingga surat kesekian darinya. Kami yang berkenalan ketika menonton sebuah pergelaran musik, dan mulai berkirim kabar dan kesenangan melalu surat. Yang menurut sebagian orang itu merupakan keisengan yang menyenangkan, dan sebagian besar menganggap itu adalah kekurangkerjaan, karena teknologi semakin canggih dan kami masih saja menjadi orang “kolot” dengan mengabaikan kemudahan-kemudahan yang sudah ditemukan.

Semua orang punya cara menyalurkan rindunya, ada yang sama, banyak juga yang tidak sama. Dan inilah cara kami untuk membuka sekat-sekat di antara kami. Agar tak lagi menjadi penghalang dalam berkomunikasi. Komunikasi yang paling kontemporer sekalipun jika tak mengetahui apa arti dari komunikasi itu sendiri susah juga jadinya.

Semua ada kebaikan dan ketidakbaikan, selalu, ada kekurangan dan kelebihan. Kami tidak anti teknologi, toh kami masih memiliki yang sebagian besar orang miliki, dan kami sering juga menggunakan itu sebagai mana kami ingin dan kami butuhkan. Namun surat itu menjadi sebuah kepercayan baru bagi kami, karena kami tak ingin memusuhi kata tunggu dan turunannya. Dengan begitu kami benar-benar menggunakan kesempatan yang ada, kalaupun lengah, silahkan menunggu lagi.

Surat darinya berisi tentang kehidupan seminggu kemarin, mengalir ia ceritakan kegiatan di hari-hari miliknya, kegiatan yang ia senangi dan ia jauhi. Sadar atau tidak, cerita yang sama bisa terulang tiap minggunya. Dan aku tak pernah protes. Bagiku ceritanya tetaplah cerita walau berulang dan berulang. Karena itulah adanya, tak mengada-ada. Dan keinginannya bercerita adalah poin utama. Itu cara kami berkomunikasi, dengan cerita.

Hingga entah sampai kapan kami melakukan ini, hingga kami tak lagi percaya pada pengantar pos. hingga kemalangan menghampiri kami, hingga tak ada lagi lahan untuk kami bercerita, dan akhirnya bercerita dalam diam-diam kami. Surat itu berakhir dengan doa yang ia panjatkan dengan tulisan. Tiga lembar sudah ia bercerita. Akan bersambung setelah surat dariku sampai padanya segera.

Ku baca lagi surat itu, benar-benar mengulangnya. Masih dengan alunan suara dari pemutar musik itu. Karena memang ada 10 lagu lebih. Dan surat itu sudah kubaca cukup menghabiskan 4 lagu yang berdurasi 3-5 menit dibarengi dengan kegiatan meminum kopi, membakar sigaret. Setelah satu album itu berakhir. Menginjak lagu ke-10. Aku mulai menyiapkan alat tulisku, siap dengan kata-kata di kepala yang akan tumpah melalui tangan kananku yang kebetulan sedang payah.

Seperti halnya dia, yang wajahnya terlukis di atas kertas surat tulis tangannya-mendoakanku dengan luhur tentang ke-harap-baik-baikan. Akupun melakukan demikian, perlahan dengan niat yang baik, dan cerita yang tidak sepenuhnya baik. Untuk ia yang di kota harapan menurutnya dan aku di tempat kenyamanan menurutku. Betapa aku tak bisa berbuat banyak, Tangan kananku baru saja terluka, terkilir karena jatuh bersepeda. Sehingga tulisanku akan sulit terbaca. Maaf. Namun aku tak pernah berkeinginan untuk berhenti bercerita, melalui tulisan — surat-surat untuknya.

Kamarhitam, ditemani dengan lagu-lagu dari Efek Rumah Kaca, 29MAR13.

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s