Ruang Rasa Kertas

Bergegas meninggalkan ruang itu. Ruang yang dipenuhi dengan tumpukan kertas-kertas tugas yang belum selesai. Kondisi ruang itu makin tampak artistik karena toples kaleng, ember yang menampung air dari genting bocor. Sisi artistik entah dari kacamata seorang apa.

Siang masih malu-malu. Matahari bersembunyi di balik tumpukan awan yang menebal. Tanda-tanda akan hujan sepertinya. Namun doa yang terpanjat kencang dan penuh harap adalah jangan sampai mendung itu selalu berarti hujan. Habis sudah ruang itu jika benar hujan turun dengan deras. Kertas-kertas yang menyebalkan itu akan semakin menyebalkan wujudnya.

Aku sedang lelah, sering terkapar dan terjaga. Maka itu kertas-kertas yang berserakan aku biarkan. Waktu lampau itu juga, seolah terus mengejarku. Padahal sudah ku bilang padanya. Jangan mengejarku terus. Karena aku bukan kelinci yang pandai melompat. Seakan tak peduli,  waktu yang dikenal dengan kenangan terus meledekku dengan terus berbunyi detik kisahnya kala senyap hadir. Berbunyi kencang karena diset untuk berbunyi sebagai alarm pengingat. Dan kini aku tak hanya memanggul diriku. Tapi juga waktu yang dulu-dulu itu. Semuanya seperti ingin diperhatikan. Biarlah, selama aku belum tumbang kapar benar. Akan kuhadapi sekuat yang ku punya.

Aku pergi menuju sebuah warung makan idola. Di sana sering juga aku dan kawanku menjinakkan rasa lapar. Untuk menunda sejamenak lalu bersiap menjemput lapar yang lain. Dalam kondisi apapun juga.

Lapar tampak seperti monster. Mengerikan. Karena kusadari memang ilmu pertahananku tak sebaik dan setangguh para pendahulu. Namun itu bukan sebuah alasan kuat untuk tunduk pada rasa “kelaparan” yang agak beelebihan ini. Latihan demi latihan ku ikuti dengan seksama, biar nanti saatnya benar-benar sudah pertahananku tak mudah dilecehkan dengan rasa buatan itu.

Setelah menyantap dengan lahapnya. Aku mulai diam dan mulai berpikir. Tahapanku belumlah apa-apa dibandingkan dengan para pelaku prihatin. Aku sangat bersyukur dengan kondisi seperti ini. Di mana ruangku berantakan dengan kertas-kertas yang menyedihkan, dan tubuhku lemah karena sering menahan dorongan santapan serta banyaknya angin menguasai aliran darahku. Tubuhku semakin ringan saja. Makin tipis terlihat mata.

Aku kembali dengan bergesa menuju ruang itu. Kembali menata kertas yang tak lama akan berantakan lagi. Menyelesaikan jawaban satu demi satu yang bisa ditorehkan pada kertas-kertas kesenangan. Melanjutkan kesenangan-kesenangan yang kubuat lalu kuremukkan sendiri. Agar aku terus bisa merasa. Agar aku tak sekilas menembus asa. Kertas dan lapar yang menguasai ini tak bisa kuhindari. Dan jika boleh memilih biarlah kertas itu terus berserak. Biarlah lapar terus memenuhi sendi-sendi yang kosong dan tak bersegi itu.

Hingga putaran roda berhenti, mengembalikan yang tiada kembali kepads ketiadaan. Ketakkuasaan kembali pada ketakkuasaan. Dan pada akhir cerita. Kertas dan rasa itu. Dilanjutkan oleh mereka yang perlu. Tak hanya untuk kepentingan sendiri dan sekarang semata. Namun lebih jauh. Untuk pergerakan-perputaran roda yang akan mengantarkan siapa saja menemui apa yang mereka cari. Meski hanya setetes air. Meski hanya segumpal darah. Bahkan meski hanya sekelumit tanya. Kertas dan rasa itu akan selalu menggerakkan diri untuk terus menerus mencari ruang yang sedia menampung kerisauanku, kegelisahanku. Untuk semua pertanyaan yang belun tertemukan jawaban, semoga kesabaran menunjukkan jalan teduhnya.

Kamarhitam, ditemani kaset Roxette, 28MAR13.

*zn
Anakwayang

One thought on “Ruang Rasa Kertas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s