Bus Kota Kecil

Dalam bus kecil yang berpenumpang tiga orang. Pak supir menyetir bus itu perlahan. Kepalanya bergerak, matanya menatap setiap sisi jalan yang sepi itu. Sesekali disapanya orang yang berdiri di pinggir jalan, menawarkan jasa, dengan bunyi klaksonnya. Teett.

Sudah 15 menit kiranya aku duduk di dekat pintu depan. Ada ibu muda duduk di belakangku. Seorang pria paruh baya duduk di depan sejajar dengan pak supir.

Tak ada obrolan hanya suara mesin yang menderu. Apa yang ada dipikiran orang dalam bus ini? Aku tak tahu. Di kepalaku hanya ada bagaimana caranya agar kantuk tak membuatku kehilangannya, memandangi kondisi jalan yang sepenuhnya telah berubah.

Dulu jalan yang kulalui ini adalah jalan padat, banyak kendaraan besar-kecil lewat jalan yang terawat dan tidak banyak lubang ini. Sekarang kondisinya berubah sekali. Sepanjang jalan tadi, beberapa kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari. Ketika melewati titik keramaian sebuah pasar pun sepi bukan main. Di pasar itu sudah tak ada lagi pedagang yang berjualan memenuhi pinggir jalan. Suara peluit dari juru parkir yang melengking mengatur lalu lintas. Pos polisi seberang pasar pun tak berpenghuni.

Kota ini mati. Kataku dalam hati.
Tapi kulihat masih ada senyum ramah dari orang-orang yang kulihat. Tak ada kedinginan dari airmuka mereka. Aku yang baru saja tiba dibuatnya bertanya. Ada apa gerangan?

Kuberanikan diri bertanya. Kusapa ibu muda di belakangku. Aku pindah tempat duduk sekarang sejajar dengan ibu muda itu.

“Ibu mau ke mana?”
“Mau ke rumah saudara” sambil ia mengipas-ngipas. Pagi yang cukup gerah rasanya. Rasaku juga.
Kok sekarang sepi ya? tanyaku terlempar. Keingintahuanku mendesak hebat ia melompat lewat bibir. Tak banyak kata-kata pembuka obrolan yang banyak orang bilang itu basa basi.

“Aku tak tahu” jawab perempuan yang mengenakan daster berwarna cerah itu. Tak hilang senyum yang khas dari sini. Namun senyumnya menyimpan jawab yang tertahan.

“Oh”

“Kiri pak” ia berteriak. Supir dengan sigap, perlahan menguarangi tekanan pada pedal gasnya. Bis yang perlahan it pun berhenti. Dan si ibu pamit.

Sebelum ia turun. Ia berkata.
“untuk masa-masa telah lalu yang tak pernah kita inginkan, terkadang jawaban bukanlah sebuah jawaban, jawaban bisa jadi adalah awal sebuah pertanyaan, diam sekalipun mungkin adalah satu paket jawaban dan pertanyaan”.

Ia menepuk pundakku, lalu turun setelah membayar biaya jasa.

Aku tak mengerti. Apakah kota ini adalah masa lalu? Kenapa di kota ini, kini banyak tumbuh tanya yang tak terjawab? Aku yang baru saja tiba semakin dibuatnya penasaran. Dan supir pun bertanya, “masih siap menempuh jarak dan mengulur waktu?” Dengan lantang ku jawab. Siap!

Kamarhitam, ditemani kaset AATPSC, 27MAR13

*zn
Anakwayang

One thought on “Bus Kota Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s