Bersama Gadis Kecilku

Aku akan pergi ke arah timur jauh dari kota ini, kota yang kutempati beberapa tahun, kota yang menjadi persinggahan untuk ku melangkah jauh dan semakin jauh, Aku memutuskan akan pergi dengan menumpang kereta. Agar bisa kunikmati waktu demi waktu menjauhnya diriku, yang melakukan perpisahan sementara dengan kota yang telah membangun segala unsur-unsur padaku kini.

Sekian waktu melakukan pencarian jawab atas tanya yang semakin tak berujung, dan tak timbulnya tanda-tanda keberpihakan padaku. Aku menikmati itu. Dengan beberapa penemuan yang semakin besar terasa, aku memutuskan untuk meninggalkannya, mengakhiri kenikmatan itu. Untuk mencari cerita lain, cerita baru yang mungkin saja bisa sangat mudah untuk dinikmati, atau lebih sulit dari kondisi sekarang. Itu tak perlu kupikirkan secara berlebihan. Setidaknya lagu lama itu untuk sementara tak akan kunyanyikan lagi ketika pagi datang, sore pulang, ketika suka menyapa, duka melanda.

Aku akan pergi dengan seorang gadis kecil. Gadis kecil yang sudah lama kuajak bicara dan bertukar pikiran. Gadis kecil yang betah tinggal di rumah dalam tempurung kepala. Ia menolak menginjak bumi, karena menurutnya ia akan sangat nyaman ketika melayang-layang. Gadis yang belum bisa kumengerti jalan ceritanya. kadang-kadang meledak hebat, seketika bisa menjadi pendiam yang menjengkelkan lebih dari kusamnya dinding. Sifatnya yang tak terduga darinya membuatku betah berlama-lama berbincang tentang apa saja. Gadis kecil yang tak beranjak dewasa, enggan dewasa, karena menurutnya, dewasa hanya adalah kepura-puraan yang lebih mutakhir tampilannya. Ia bertahan dengan kekanak-kanakan yang murni, tak dibuat-buat, tak mengada-ada. Spontan, ketidaksukaan akan membuatnya segera menangis dengan rengekan yang meruntuhkan dinding kokoh penyebab tuli telinga. Ketika berbahagia ia akan melompat dengan tawa dan pelukan terima kasih yang tulus. Ia tak segan-segan berlari kencang mengunjungi hati, ketika kepala begitu gelap dan kotor.

Hari yang kutunggupun datang, setelah berkemas. Kutinggalkan semua yang pernah membuatku berdendang tentang lagu suka, irama duka. Jendela tua yang tak lagi kokoh itu, menatapku penuh tanya, dinding-dinding merunduk diam tak berbahasa, semut-semut yang berbaris berhenti sejenak memandangku bersamaan, hanya pintu yang siap, berdiri tegak dan terbuka. Kulangkahkan kaki pelan namun bernada. Langit cerah menyapa. Tak ada satu orang menemaniku menuju stasiun. Karena itu pinta gadis kecilku. Ia tak ingin melihat awan mendung di langit-langit stasiun.

Kereta dengan 10 gerbong sudah menunggu. Tersenyum semua elemen di stasiun itu, petugas keamanan, pedagang, petugas kereta, masinis, hingga kepala stasiun. Senyum yang janggal namun luhur. Aku duduk di gerbong lima, berdekatan dengan gerbong restorasi, dan gerbong 8. Gerbong 7 memilih tinggal dan tak berangkat. Akhirnya 9 gerbong dengan satu lokomotif menembus sore yang dingin setelah menunggu lama. Tak menyangka, di gerbong itu hanya aku berdua dengan gadis kecilku. Dan ternyata di kereta yang berjalan menuju terbitnya matahari. Ditemani masinis yang tertidur, ketika mengendalikan laju kereta. Penumpangnya hanya kami berdua, aku dan gadis kecilku.

Kamarhitam, ditemani musik dari Aurette dan Banda Neira, 25MAR13.

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s