Hutan Yang Sedang

Ada “hutan” yang akan dan atau sedang kulalui, bisa jadi setelah pengembaraan itu, hutan tersebut bisa mengajakku untuk tinggal di dalamnya atau mungkin saja aku akan segera diusir paksa karena dianggap tak mampu beradaptasi. Hutan yang mempunyai karakter sendiri, kemudahan yang tersaji, kesulitan yang menguji.

Malam ini, hutan itu sedang kuhadapi, ia berkembang dalam pikiranku yang mulai merasa cemas. Entah sebab apa, aku sedang mencari tahu kenapanya, di dalam api yang berkobar tanpa asap itu, yang sering membuat mataku perih karena terjaga.

Sekarang ini aku masih duduk bersila dengan segelas kopi depanku. Dengan asbak dipenuhi puntung-puntung sigaret kretek yang telah menuju ketiadaan. Dengan alunan musik dari perangkat digital. Hutan itu disekelilingku. menggoda, menegur, menyadarkanku.

Hutan yang lama sudah kupelajari, kubergiat di dalamnya, kugeluti setiap sendinya. Kuhabiskan beberapa waktu untuk membaca karakter hutan tersebut. Hutan yang memberikan daftar, menawarkan, keindahan dan kenyamanan.

Aku masih ingin berpetualang di dalamnya. Dengan modal yang selalu kutambah dengan cara sedikit saja membaca, memperbanyak mendengar, melebarkan telinga. Dan hutan itu, seperti swalayan, selalu menampakkan penghuni baru, penghuni yang terasa asing, penghuni lama yang berbelanja sama, rutin. Pembelanja lama yang berbeda kebutuhan.

Sehingga aku harus memperbaharui diriku, memutakhirkan pengetahuan dan rasa tahuku. Hingga terhadap orang-orang tersebut, tidaklah aku menjadi seorang yang akan melukai, menyakiti apalagi sampai menyingkirkannya. Aku hanya ingin mengenalnya, seperti halnya aku mempelajari hutan ini. Hutan yang sedang dan atau akan kulalui.
Hutan yang kupercaya menawarkan jalan ketenangan pada suatu hari, ketika semua ilmu yang kudapat bisa kubagikan kepada mereka yang mau dan berkeinginan.

Hutan itu masih dan selalu hijau, sehijau dengan diriku. Yang belum banyak tahu dan berkeinginan tahu. Hutan yang telah membagikan banyak pembelajaran dengan teori dan praktek. Dengan teks dan aksi.

Semoga aku tak tersesat di dalamnya, dan jikapun tersesat aku tak menyebabkan orang lain merasakan ketersesatan kerenaku.

Hutanku, hutan hijau penuh kesegaran
Penuh hal baru maupun usang

Hutanku, hutan murung dengan pohon-pohon tua hampir tumbang.

Bersamanya kutapaki setiap detik melompati akar dan waktu
Berlindung dari terik
Menghindar dari pekik

Di sana banyak tumbuhan
Di sana banyak hewan
Bermanfaat dan beracun
Jinak dan buas

Ditempa hatiku terus
Agar tak meninggi
Terus menunduk bukan karena malu
Terus menunduk dalam melangkah
Agar aku selalu ingat
Agar aku tidak melupakan

Darimana aku ada tumbuh dan berkembang

Sedang kukuatkan akar yang diberikan Maha Setuju
Menancap dalam pusat kematian
Menjalar rendah di hati-hati yang bongah

Tak ingin kumelukai
Tak ingin kumenakuti
Tak ingin kumenyakiti

Hingga ajal itu tersenyum padaku
Aku tersenyum padanya

Catatan:
Selamat hari puisi internasional.

Kamarhitam, mendengarkan Sawung Jabo, 21MAR13.

*zn
Anakwayang

2 thoughts on “Hutan Yang Sedang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s