Ada Yang Menangis

Malam-malam belakangan sering mendengar raungan tangis di pekarangan belakang rumah. Pekarangan dengan luas lahan tak seberapa, tetapi menjadi seberapa ketika tanah-tanah persawahan yang sedikit di sana–direbutkan untuk menjadi entahlah, mungkin saja pertokoan. Tak ada siapa-siapa disana, selain beberapa pohon rambutan dan pisang berdiri.

Di belakang rumah yang kala pagi, udara segar bisa menjadi sarapan yang asik sembari membersihkan tempat “pup” kucing atau merendam pakaian kotor untuk dijadikan bahan olahraga air yang hemat lagi sehat–mencuci. Sering juga sambil menghabiskan kopi pagi dengan membiarkan kucing-kucing berlari menginjak tanah yang sebenarnya tanah. Agar mereka dan juga aku tentunya tak lupa bahwa tetap membumi adalah kewajiban.

Tangisan itu makin terdengar mengiris ketika malam makin menyudutkan sepi, makin memojokkan sunyi. Dalam deru angin yang terdengar mendayu-dayu. Tangis itu sempurna sudah membuat gelap penuh tanya. Adakah gerangan yang membuat tangis itu tak berhenti jenak sekalipun? Detik memutar, terang memudar. Isakkan–raungan itu menamparku pada ingatan mereka yang berjuang menjaga kehidupan mereka yang diambil paksa oleh penguasa karena alasan-alasan pengusaha.

Tapi apa jawaban yang kudapatkan. Tak ada, selain ranting-ranting yang patah dipaksa. Dedaunan hijau, mati muda, batang-batang dengan lingkar jadi tergeletak menunggu jemputan.

Sombongnya bunyi gergaji menyanyi-nyanyi. Diselingi tawa renyah dari pemegang kendali gergaji. Makhluk itu tak bisa melawan. Hanya pasrah diterpa cacian. Hiburan yang menyedihkan. Udara segar tak lagi mudah didapatkan. Hanya tangisan dengan darah segar yang mengalir kemudian menyerap ke dalam tanah. Hingga tanah itu mungkin menyuburkan bibit-bibit kesedihan, mungkin akan tumbuh sosok penuh dendam kehancuran.

Apa yang bisa kuperbuat kini? Selain baru bisa mendengarkan dengan seksama tangisan-tangisan itu sesekali meneriakkan.tanya kenapa. Aku sungguh takut. Takutku sampai ujung kepala juga hilir mudik mengalir ke ujung kaki. Sampai kapan tangis itu berhenti? Tak adakah penawar tangisan? Jika racun saja sediakan penawarnya?

Setiap tangisnya menjerit, sontak membuatku menangis juga. Begitu menghayutkan malam yang penuh makhluk kenyang dengan bintang-bintang, terlena denga sinar bulan. Apa guna air mataku untuk memberhentikan air mata mereka. Tangis yang mungkin tak pernah usai, hingga suatu ketika yang segar tumbuh besar, menyegarkan, lagi menyejukkan. Hingga sinar mentari jadi lebih berharga untuk kehidupan ketimbang hanya menjadi santapan jemuran yang basah dan wangi dari pengharum buatan.

Ada yang menangis di belakang rumah. Aku mendengar tangismu.

Kamarhitam, memutar kaset BIP album Udara Segar, 15MAR13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s