Di Ruang Tunggu

Tawa tumpah ruah di salah satu meja, gelas tak hentinya berdenting, asap membumbung membentuk awan. Di sudut ruang berpencahayaan remang itu, seorang pejalan duduk menyendiri. Dengan tenang ia mengangkat gelasnya, meminum air dengan perlahan, mata lelahnya bergerak-gerak melihat sekitar hingga ke sudut-sudut yang jarang orang perhatikan. Berhenti, selalu berhenti tatapnya pada meja yang sedang ramai itu. Apa yang mereka tertawakan? Tanya pada asbak yang penuh puntung sigaretnya.

Sudah hampir tiga jam ia duduk di sudut sana. Setelah didapati pisisi yang nyaman, lalu.sejenak ia memesan minuman. Rombongan itu datang dan langsung membuat tempat itu ramai dengan suara mereka berbicara, sedikit mengobrol banyak tertawa. Nada mereka tak terkendali, tawa mereka menyerupai gemuruh di pagi hari. Segar lagi mengerikan.

Berteman dengan sebuah buku, ia lewati pengembaraan menunggu itu. Tak juga datang yang ditunggu hingga hampir lupa apa yang dia baca. Sesering ia melempar pandang ke sekitar. Jaga pandangan agar tak terlewat sosok yang membuat malam begitu lama bergerak. Kopi hangat yang tadi bercerita kini tak lagi menyengat harumnya. Kopi dingin sekarang menggantikan teman bicara. Kopi terlalu banyak diam. Ia tahu itu.

Buku yang ia baca paragrafnya melompat-lompat. Dari halaman depan ke belakang, lalu ke tengah lalu ke depan lagi seringnya ke halaman-halaman terakhir buku. Buku yang pernah ia pinjamkan seseorang yang ditunggu sekarang. Telah di buat sedemikian menarik oleh coretan-coretan pensil. Yang berkata-kata, ada juga gambar-gambar bermaksud yang belum ia mengerti. Hanya bentuk hati yang jelas ia lihat. Lainnya hanya mirip, mirip pisau, gunting dan benda tajam lainnya. Ada juga gambar menyerupai petir, awan, daun, bunga dan pohon. Tapi kata-kata berwujud sajak-pertanyaan-lah yang membuatnya sering menghampiri halaman itu.

Buku yang banyak membuatnya mengarungi malam bersama alter ego. Sebenarnya buku itu bercerita tentang perjuangan seorang manusia yang melewatkan usianya dengan menjadi binatang. Dalam perwujudan binatang itulah ia coba belajar memanusiakan manusia, manusia yang berakal dan berhati itu. Di dalam buku itulah. Seseorang telah membubuhkan coretan-coretan misteri. Sejalan dengan misteri orang yang mencoretnya.

Kembali ke meja yang basah oleh tawa-tawa gempita. Kini satu orang dari mereka telah meninggalkan pesta. Entah apa yang menyebabkabnya. Lagi tawa pun tak pudar. Kehilangan satu elemen tak menghentikan mereka untuk membuat ruangan itu jauh dari kata sepi.

Para karyawan terlihat ikut tertawa. Menertawakan mereka yang tertawa. Begitu juga pengunjung lainnya. Hanya pejalan itu yang diam menggeram. Dengan buku yang lembarannya sudah basah karena tetes air mata. Yang lecek karena amarah membara. Yang kusam karena tanya yang bergelora.

Janji yang aneh! Ketika menunggu begitu mengenaskan bagi kebanyakan orang, mengapa pejalan itu begitu menikmati masa menunggunya. Tak adakah yang bisa diperbuat selain membaca yang sudah membuat luka di kakinya lama mengering? apa yang telah dia coretkan, sehingga begitu betah ia menunggu dalam ketidakseimbangan?

Meja itu masih terus tertawa. Dan malam memeluknya dengan dingin. Meneriakan kata-kata penghibur hati yang lara. Jangan membuat lenaku menjadi raja. Dan acuh menjadi ratunya. Biarkan langit ruangan itu menggambar bibir bagusmu, wahai kembang jambu. Biarkan bangku kosong menampung gundahnya.

Kopi panas ia pesan lagi. Perjalanan masih amat panjang. Dan panas itulah yang membuat ia terjaga dan tersadar. Bukan tawa semu yang dikumandangkan itu. Melainkan tawa ragu yang membuatnya terus menapakkan kaki ke bumi. “Tidakkah kita tidak atau jangan berlebihan, apalagi terlalu.” Ia mengucapkan coretan di halaman 503 itu.

Pesan singkat masuk. Nada ponsel berbunyi. Pesan yang berisi kalimat tidak singkat.
“Aku tak bisa menemuimu, silahkan menjemput ufuk baru. atau terus menunggu hingga langit tak lagi biru. Maaf. Bukan inginku”

Dan meja itu masih saja basah dengan tawa. “Bagaimana bisa?” tanyanya ragu.

Kamarhitam, mendengarkan Quest For Fire album Lights From Paradise, 14MAR13.

*zn
Anakwayang

One thought on “Di Ruang Tunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s