Cerita Selonjor Kaki

Demi melancarkan misi mengistirahatkan kaki. Setelah hampir satu hari ke sana ke mari. Masih dengan para peserta kunjungan dari barat. Yang hari ini jadwalnya mengunjungi pesisir Gunung Kidul Handayani.

Tadi pagi, berangkat juga ke selatan mengunjungi pantai. Walau tidak sesuai rencana, tapi syukurlah masih diberikan kesempatan untuk menikmati debur angin pantai dan belaian pasir pesisir.

Pagi tadi gerimis lalu hujan. Rencana awal jam 6 -7 pagi berangkat namun semesta berkondisi lain. Setelah mata terbuka, gerimis menutup rencana berangkat awal. Jam 10 lebih baru meninggalkan kandang, itu juga dengan berhujan-hujan ria menggunakan mantel, karena cuaca tak bisa di prediksi jauh lagi.

Kami berangkat menuju Lempuyangan terlebih dahulu. Mengadu nasib mencari tiket kereta. Karena tiket mendadak adalah wuih jua bagiku. Tapi tidak bagi kondisi ini. Karena harus, maka kawanku mengambilnya dua tiket banyaknya untuk ke Purwokerto. Dua kawanku itu lebih dulu menjauhi Jogja karena ingin menengok sanak famili. Setelah tiket masuk ke dalam tas dan duit masuk kotak kasir. Kami menuju ke selatan juga. Dengan gerimis pula.

Setelah melewati bermenit-menit di jalan, kami tiba di pantai Pok Tunggal. Aku memesan kopi, kawanku juga sama. Setelah cukup kami kembali berfoto gembira. Pantai Pok Tunggal lagi tak ramai seperti kunjunganku terakhir. Cerita punya cerita. Kata si mbak pemilik warung bilang di sini juga hujan dari pagi. Sama seperti yang kami alami di lingkungan kontrakan, dan di jalan. Memang hari ini mendung. Tapi itu bukan halangan untuk berkunjung.

Berhubung kawan kami sorenya harus ada di stasiun dan duduk di dalam kereta. Maka kami tak berlama-lama di pantai. Puas dengan foto-foto dan menetralkan visual. Kami meninggalkan pantai. Dan menuju malioboro lagi. Ada titipan yang harus ditukar dengan uang. Yaitu tas, kaus dan suvenir.

Yang menjadi catatan adalah ketika ingin melakukan perjalanan sebaiknya tujuan sudah jelas di genggaman. Mana tempat yang ingin di kunjungi. Apa saja yang ingin di jadikan buahnya tangan. Dan lainnya. Agar terhindar dari terburu-buru dalam menawar dan menakar. Jadinya bisa lebih ‘puas’ dalam menimbang sesuatunya. Lain hal kalau memang berlimpah rejekinya. Baik waktu maupun dana. :D

Itu jadi semacam Janji Joni bersegera mengantr film. Beda Joni, beda ini kami seperti terbirit mengejar kereta. Tentunya kita yang bukan pendendam takkan menyempatkan diri untuk meninggalkan kereta suatu ketika, sebab pernah ditinggalkan kereta. :))

Sepuluh menit lagi kereta berangkat. Dan kami sudah di stasiun. Sungguh lega rasanya. Setelah berpamitan, kami meluncur kembali ke kontrakan, mengembalikan motor sewaan dan menjajaki sepiring makanan, segelas kesegaran.

Rebah sejenak. Mereka tertidur aku tidak. Dan seusai Isya kami meluncur lagi ke Malioboro, sama untuk mencari “titipan”, buahnya tangan. Dari sandang hingga pangan. Setelahnya kami makan yang segar-segar. Makan soto khas Jakarta. Jauh ke jogja makannya ya jauh dari khasnya. Karena ada keengganan rombongan untuk menikmati jamuan yang mengharuskan antri lebih dini. Jadilah soto mengisi perut malam ini.

Besok pagi mau ke Prambanan. Semoga saja semesta berkenan. Jadi sorenya mereka bisa pulang, naik bis ke barat, tidak dengan kecewa di tangan.

Cukup ceritanya, sekian dan masih selonjor kaki. :)

Kamarnya Bim, suara drama televisi dan putaran kipas, 11MAR13.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s