Sepucuk Surat Cerita

Kopi dingin perlahan melewati bibir masuk ke rongga tenggorokan dan entah akan pergi ke mana. Dalam gelap yang dibuat-buat ini, suara dengkuran beradu dengan musik bernuansa angkasa yang mengudara. Kopi dingin itu membakar kembali jarinya untuk bercerita, terus bercerita. Dengkur yang makin keras dan menderu tak mau kalah, terus berlari-lari mengejar kata-kata yang terangkai. Setengah jam lagi harus dibangunkan. Kenapa harus setengah jam? Kalau memang dalam posisi berbaringmu yang nyaman biarlah nanti terbangun sendiri, tersedak oleh udara menggumpal dari asap kretek murah bersahabat yang terus dihisapnya dalam-dalam sembari menajamkan mata dan ingatan akan sebuah perbincangan, pertukaran kata yang terjadi dari hari demi hari dalam kesehariannya.

Muncul sebuah tanya tentang kesenangan apa yang membuatmu sering bertanya. Tak ada jawaban yang pasti didapatn, matanya semakin tajam menatap layar berukuran 14 inchi itu. Mencoba cari celah dari kata-kata yang kurang, kata-kata yang hilang, kata-kata yang mengendap di bawah papan ketik tua. Jarinya memeluk batang kretek lagi, menghisapnya sedalam mungkin, membumbungkan ke sembarang arah asap pembakaran yang terjadi. Matanya perih, kipas angin mengembalikan lagi asap yang dibuangnya, mengantarkan ke depan muka.

Aku sedang menumpuk rindu kepada orang yang rindu akan cerita, dengan lanjutan-lanjutan yang ditunggu bagai surat menyurat. Tanpa orang lain sebagai perantara. Menarik kiranya deretan kalimat yang telah tertuang dan diceritakan, dilanjutkan dengan kepala dan jalan pikiran yang sepenuhnya pasti berbeda. Ketika bercerita tentang musik angkasa, dan entah apa yang akan dia ceritakan untuk membalas cerita itu, bisa saja tentang musik darat, musik laut, maupun musik-musikan. Ketidaktahuan itulah yang membuat menunggu menjadi kegiatan menyenangkan karena di dalamnya terdapat cerita misteri, yang sekiranya hanya bisa membuat kata kira-kira tumpah di atas meja.

Karena sadar betul akan kemampuan menyimpan ingatan, menceritakan kembali menjadi jalan keluar yang bisa dipilih. Bercerita tentang apa saja, penting tidaknya urusan nanti, bermanfaat tidaknya bisa keluar sendiri. Sekarang bercerita saja, sampai jarimu tak mampu lagi menemukan huruf yang menjadi kata-kata.

Berbagai cerita bisa menempel di dinding, mengendap dalam lantai, mengudara bersama dengkuran. Bahkan ketika langit-langit kamar dipenuhi wajahnya, cerita seakan jatuh dari sana, menimpa kepela dan menggerakkan jari jemari. Membuat sesak jika diendap, membuat jenuh karena hanya bisa mengeluh, membuat kembali rasa berani walau hanya berupa baris-baris tanpa arti. Lagi-lagi takkan membiarkan cerita itu lari dari pandanganku, seperti senyumnya akan kubekukan dalam ingatan, kutuangkan dalam paragraf-paragraf yang selalu saja sama. Menceritakan manis. Sejuk tatapannya. Membuat bosan tak menjadi apa-apa, hanya tinggal jadi kata.

Kamu, yang diam tertunduk dalam keheningan malam seribu tanya. Di kepala ini membangunkanmu, mengajakmu untuk menatap lebih yakin akan kesadaran menumpahkan berbagai cerita, membiarkannya tumpah, membasahi segala segi rasa resah. Bercerita dengan berbagai cara, bisa jadi, mungkin saja, dari hal itu munculnya jalan lain. Buat apa menanamkan hal demikian dalam gerammu yang seolah tak berkesudahan. Murka tatapmu takkan membuatmu kelihatan bertaji. Yang tampak hanya dan hanya kegundahan hati. Takkan terkira jika mata yang perih dan telinga yang tergores. Bisa didapatkan pada akhir halaman ini. Ternyata tanya-tanya itulah awal mula cerita yang mengantarkanmu berjalan dalam kesunyian dengan sepucuk surat digenggaman tanganmu.

Kamarhitam, mendengarkan Angel and Airwaves, 8MAR13.

*zn
anakwayang

2 thoughts on “Sepucuk Surat Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s