Pulau Satu Paragraf

Berapa lamanya setelah kamu datang membawa sekarung roti rasa-rasa dari masa yang telah jauh meninggalkan jejak-jejak bernyawa di kertas itu. Kini, sebelum semuanya menjadi api yang siap membakar hutan hujan di pinggiran pulau keheningan. Utara telah jauh meninggalkan apel-apel dalam bentuk roti tadi di rumah singgah tak berpenghuni. Untuk selanjutnya bisa dimakan oleh siapapun yang datang ke rumah itu. Dengan harapan setelah memakan roti berbahan baku ketidaktahuan dan keingintahuan yang sama besar, orang yang singgah dan memakan roti, tak akan menumbuhkan niat untuk membakar hutan hujan warisan para pendahulu. Karena seperti yang sudah-sudah, kamu tahu di hutan itu banyak makhluk yang berlindung, mencari tahu, memberi tahu. Apa jadinya jika roti-roti itu kubawa serta menuju laut. Lalu tenggelam bersama diriku yang belum pandai mendayung sampan. Seperti sekarang. Ketika ku singgah di sebuah pulau. Pulau keheningan lainnya. Yang hanya ada suaramu dan para binatang penghuni malam. Semuanya sunyi. Sangat sunyi, sampai-sampai aku berbicarapun tak bisa kudengar apa yang kubicarakan. Lidahku beku terhempas badai ketika mengapung tadi. Yang mengakibatkan sampanku terbelah dan terbawa arus. Aku berenang seadanya. Sekuat tenaga yang tersisa. Dalam “renangan” ternyata aku diharuskan merenung. Tak menyangka dalam renung gunung. Ada cumi-cumi yang iseng menyengatku dengan tentakel-tentakelnya yang rapuh namun membahayakan, menghitamkan pandanganku, aku terdiam beberapa saat dan kusadari sampan yang kutumpangi menabrak karang. Daratan di depan mata jauhnya sejengkal. Kuputuskan bermalam dan membuat perapian. Sekedar menghangatkan. Syukur-syukur saat ku lelap tak ada makhluk asing yang menghabisi nyawaku. Atau binatang buas yang mencabik-cabik tubuhku. Esok pagi sekali ketika setia matahari belum datang penuh. Aku akan mengelilingi pulau ini. Mencari tanda-tanda untukku bisa kembali mengapung. Aku harus pulang. Tak ada keinginan lain. Sebelum senyum manisnya hilang, tergantikan murung. Sebelum semuanya bertambah rumit. Dan langit tak lagi terasa legit. Kumulai malam ini api di bibir saja. Panasnya sampai ke dalam rongga dada. Dan perapianku padam terhempas ombak. Tersiram hujan. Aku terbangun. Tubuhku sudah di atas karang. Jauh dari tempatku semula berbaring di pulau itu. Kini sebagiannya sudah jelas.sebagiannya masih buram. Kucari matahari, rembulan yang datang kemari.

Kamarhitam, masih dengan daftar main yang acak oleh Pink Floyd, 6MAR13.

*zn
Anakwayang

2 thoughts on “Pulau Satu Paragraf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s