Sepuluh Bagian Gema

Pertama

– untuk musuhku, terkasih

berapa banyak gelap yang sudah kita lewati
terus bertanya kapan kita bertemu lagi
aku ingin mengenalmu lebih menjadikanku seorang pengecut pertama kali
robek nyaliku berkali-kali
dan ini sudah yang beribu jadi
masih saja seorang pengecut juga di hadapmu
selalu
senja masih saja tak percaya
ketika masih pertama kali

Kedua

– masih untuk musuhku, masih terkasih

Lewat jendela kulihat hitam rambutmu
dengan berlaga kukatakan ini gadisku!
lalu siang pergi
malam kembali
kamu membayang
senja indah
lewat salam berkirim rasa
lewat kawan berkirim sapa

Ketiga

– lagi untuk musuhku, masih perlu bertanya tentang kasih?

gerbang yang itu
kala Ramadhan
senja berucap kata
kukirim nada dalam-dalam
pesan terbang menembus kepala suara hilang
menerjang
rindu bergumul di dada
pelindung kepala datang di beranda

Keempat

– na na na na na senandung jumat malam

rumah ini
depan sekali
ada masjid berdiri
ada pohon jadi saksi
kita melingkarkan jari
gerimis datang senja kembali

ada kangen sedari pagi
malam pergi
cerita berlari
sampai jumpa senin hari

Kelima

– la la la la la la nyanyian kereta

khawatir
aku pergi sendiri
dengan aneh menurutmu aku kamu tertegun bertanya
dan lagi
kujelaskan ini
aku yang kemarin
masih saja penikmat senja yang kemarin
dengan jari-jari yang sobek
kukirimkan kata-kata apologies seadanya

Keenam

– nada tak lagi rendah

prak pintu menggeletak
kereta senja tak bilang padaku
aku diam tertambat
bukan masalah
senjanya datang membawa resah
kamu tak suka
aku tak kecewa
baru halamanmu kudatangi
ruang lainnya belum kukenali
kereta malam pergi
kereta malam kembali

Hampir ketujuh

– nada kembali berirama

nananana
lalalalala
kita bernyanyi
kita melayani
lewat gelombang udara
kita menjalin janji

Ketujuh

– menyeruak menembus batas lantai dua

setelah kamu pergi
dering-dering berbunyi
ada kasih di hati
senja tak ragu bertanya lagi
kamu kembali
cerah datang berseri

Kedelapan

– gelombang dari laut selatan

kita pergi semaunya
tak tahu lagi kenapa
terlalu,
jangan terlalu,
jarak menjadi batu?
menggangu langkah menjadi ragu
senja tak bersamamu
masih tak bersamamu
dengan argumen-argumen itu
kita, kita, kita, berlalu dalam lagu

aku masih di kotak hitam ini
dalam lingkaran yang menyorong semua lini
langit bergemuruh
rembulan menjadi-jadi
hujan tak kenal pagi
basah entah mengapa
aku, senja, aku,
kehilangan kata

Kesembilan

– belum usai, untuk musuhku, masihkah

semua, katamu,
bolehkah, bisakah aku ragu?
di masa ketika senyummu jadi satu
dengan dia di sampingmu
aku hanya bisa termangu
diam-diam
aku mengucapkan
kalimat-kalimat rindu
ku kirim dengan sendat di udara
ku pepatkan semua sisa rasa
buatmu dan lagi kepadamu
dirgahayu untukmu
tak perlu kata baru bagimu
karena memang kamu selalu baru
teruntukmu harap baik dan baik selalu
peri kecil

Kesepuluh

– diri berbicara sendiri, dengan musuhku, dan mungkin juga musuhmu?

seperti pertama kali
aku tetap pengecut?
nyaliku saja menciut
masih membuat kecut
apalagi bukan untukmu, manis.
bukan alasan
untukmu tak perlu alasan!
biarkan lalu,
senja masih saja tak percaya,
begitu hebatnya?
senandung dalam kesunyian
meradang kadang
begitu lemahnya?
hingga hitam menghadang…

kamarhitam, pink floyd live at pompeii, 5mar13

*zn
anakwayang

2 thoughts on “Sepuluh Bagian Gema

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s