Terus Berdiam

Kamu duduk di bawah pohon yang berdaun awan, teduh dan mendung. Matahari tertambat sinarnya kala menerangi kepalamu yang lecet. Bulan demikian sama nasibnya. Siang malam, kepalamu tetap menengadah mencari musuhmu.

Aku duduk disampingmu, mencoba diam melihat tingkahmu yang sedang-sedang itu. Bukankah pernah kukatakan, bukan? Lalu kamu tetap berbicara. Aku coba kalimatkan kata-kata tersebut, tetap saja kamu terus berbicara. Andai saja kamu masih mendengar dengan baik waktu itu.

“Teruslah bicara” katamu, hingga aku akan menemuimu terperangkap di dalam tubuh seekor semut. Aku tak habis pikir, mengapa kata-kata itu yang keluar dari mulutmu yang ramai itu. Apa yang kamu makan selama ini membuatmu begitu fasih bercerita tentang keraguan. Minuman apa yang membuatmu, mulutmu, mungkin juga pikiranmu penuh dengan keraguan?

Aku masih disampingmu, duduk diam, seperti yang aku inginkan, bahkan seperti yang kamu dambakan. Kamu masih saja menengadahkan kepala sambil meracau, tak henti-hentinya kamu membicarakan hal-hal yang itu saja, tidakkah kamu selali menjadi kamu, kamu, kamu dan masih kamu? Apakah itu kamu?

Aku takkan bisa jauh dengan pohon katamu, menirukan apa yang pernah aku bisikan padamu, lalu kini kamu benar-benar tak bisa jauh dari pohon. Ap
A yang terjadi? Mengapa begitu mentah kamu telan sesuatu yang kubisikkan padamu. Padahal kamu juga tahu itu, kalimat yang kubisikkan itu adalah dari orang lain juga.

Apa yang aku inginkan? Apa yang aku inginkan? Apa yang aku inginkan? Babak pertama perbincangan dimulai, aku mulai bicara, meninggalkan diamku bersama akar yang duduki. Ambilah! Kataku. Lalu kuambil diamku lagi. Diam yang begitu hangat. Yang membuat aku menjadi betah menggegamnya disaat-saat diriku begitu dingin seperti perjalananku ke timur, hampir menyerupai kopi pahit yang ditinggalkan bercerita oleh sang penyeduh.

Hampir lima tahun kita berdua duduk bersama di bawah pohon itu, kamu masih saja terus bicara. Aku sesekali bicara, bersanding suara dengan bicaramu. Seterusnya aku banyak diam saja. “Ambilah,” begitu kataku, sering juga. Aku menyukaimu, bukan karena mulutmu yang berkilat-kilat. Aku menyukaimu karena diamku?

Semua orang mungkin tahu ada baiknya ketika makan tak perlu ada bicara, perbincangan bisa saja. Tapi lihat, aku melihatmu ketika kamu makanpun mulutmu tak henti berbicara. “Makin nikmat”, menurutmu.

Kamu tak bisa kembali, lagi menurutmu. Aku tidak, kamu bisa tetap kembali. Lagi menurutku. Dan mulutmu keluar liur warnanya merah gelap. Baunya natural, sedikit membuat menyerengit dahiku. Kamu tetap berbicara, setelah mengelapnya. Rambutmu semakin panjang mengacak. Orang-orang makin berpikir aneh tentang kita. Aku yang duduk disampingmu, diam. Kamu duduk di naungan pohon yang berdaun awan, terus bicara. Mengapa kata-kata begitu mudah hilang. Apakah karena hari yang kamu tunggu, semakin tak pasti memberi kabar? Sampai-sampai tempat teduh ini, di bawah pohon ini kamu memilih untuk berbicara terus menerus, mengisi hari-harimu menunggu. Aku berdiam, terus berdiam. Aku disampingmu, hai kamu!

Kamarhitam, mendengarkan Pink Floyd album The Division Bell, 3Mar13.

*zn
anakwayang

One thought on “Terus Berdiam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s