Sisa Suara

i
Seketika menemukan rintik jingga. Biarlah ia larut dalam dinginnya. Memeluk erat tinggi
dan lekuk-lekuknya.
Memecah gelapnya langit.
Dia Maha Tahu.

ii
Kita takkan pernah tahu.
Telinga yang
menjadi semakin tajam,
dan kepala
menjadi semakin rendah
tertunduk.
Bukan hal mudah
berbincang dalam diam.

iii
Ku kumpulkan bilah bambu dan dedaunan,
membangun sebuah kandang untuk kamu,
tapi akhirnya
Kamu memilih
untuk tinggal
di akuarium buatannya.

Duh Gusti.

Takkan kurubuhkan kandang itu,
hanya kuletakkan cermin beserta pembersihnya,
tak perlu perkakas lain.
Nyaman atau tidak
kitalah yang mencipta.

iv
Bila pohon-pohon
jadi baliho-baliho bertiang besar,
bila taman-taman
jadi lahan2 parkir,
hutan-hutan
menjadi ladang sawit.
Bolehlah kita jadi musuh
tanpa selimut.

v
Meregang tawa,
meniadakan ragu dibalik pulangnya rombongan bangau
yang entah lebih percaya pada kakinya
atau dengan sayapnya,
dan kamu adalah paruhnya.

vi
Dan pada nyatanya
kehampaan itu bernyawa,
kesunyian seperti bara api,
dengan sadar
menghidupkan kembali
yang hampa,
membakar yang sunyi,
pantaslah!

vii
Istana
yang dibangun
dengan bahan
dasar keANGKUHan dan keKURANGPEDULIan
akan mudah HANCUR
hanya dengan lemparan telur

viii
Tuntunlah sujudku
wahai pohon yg tenang kala terluka,
kau yg menuntunku dari gelap,
meneduhkanku disaat sinarnya menyilaukan indera mata

ix
Pada senjakala
yang menolak disebutkan namanya,
meski hanya bisikan
dalam labirin ingatan
bertemankan nada-nada ragu
berbalut rindu.

x
Di jejalanan berpanas-panas,
bermelas-melas,
dan rupiah mereka habiskan,
dalam detik-detik halaman biru,
bernama bukumuka
ah dunia mereka.

xi
terbang sabar dengan sayap menanti,
berenang perlahan dengan sirip merindu.
terdampar di daratan tanda tanya tak bertuan,
hanya ada batu yang tertawa.

xii
Pada langit hampir senduuuu
Kusisipkan rindu lebam untukmuuuu

xii
Kamu yang tertidur beralaskan sisa gerimis.
Terbangun karena geliat resah fajar.
Aku rindu nafasmu
yang terdengar
seperti gelombang lautan.
Rindu. Ah!

xii
Kudengar mentari akan datang dari celah mata.
Kuintip awan beriringan lewat segelas asap.
Rindu nafasmu menghantam dinding doa.

xiv
Saat tepiku mengukur luas rindu di wajahmu.
Matamu terpejam,
   nafasmu berlari-lari menderu.
Aku pun menjadi-jadi binatang.

xv
Menuangkan air kerinduan
ke dalam gelas-gelas rettt tttak.
membasahi relung sunyi antara   jarak      –       jarak yg makin terbentang             jauh
tak
  bersapa.

xvi
Remang menerjang api sunyi,
melompati mega cakrawala.
Melempar langit dengan nyanyian kerinduan,
bermain nafas menjelajahi wajahmu.

xvii
Kucoba bercerita tentang perjalanan debu
pada secarik kartu pos.
Lalu kuterbangkan menuju mendung.
Semoga hujannya tepat jatuh di atap rindumu

Takkan kubiarkan hal-hal yang lain tenggelam begitu saja. Akan ku gali lagi. Lagi kemudian lagi. Sampai pula ia mengambang, terapung dalam ketiadaan. (sisa suara I)

Catatan:
Baris-baris diatas adalah sempalan sisisu, sisa-sisa suara @zanij. :D

Kamarhitam, daftarmain acak, 26feb13

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s