Kembalilah!

Mengarungi waktu untuk kembali mengobati sembilu yang sembunyi diantara putihnya pasir pesisir. Sesekali tampak, selebihnya tak terlihat. Tak ada lagi rasa tawar yang dicicipnya. Sebagian manis, sebagian pahit. Sisanya adalah skenario. Sebagai tokoh yang memerankan apapun juga di setiap detiknya. Utara kini menatap langit. Ombak yang terpecah karang mengirim bunyi ke dalam kalbunya. Angin malam berkesiur lewat telinga merangkai ingatan akan kesuma, merambat, berketak-ketik hati.

Beberapa hari belakang, Dialaminya, seekor anjing hitam yang mampir di mimpi, menggigit tangannya sehingga Utara harus lalu-lalang mencari orang kepercayaan, mencegah mengobati rabies, inginnya. Lalu sembuh karena dibangunkan, diselamatkan dengan paksa. Karena memang tidak terjadi apa-apa. Hanya mimpi. Tunggu sebentar, hanya mimpi?

Anjing hitam mana yang sempat-sempatnya mampir di mimpi? Tak kurangkah makan malam yang terbuat dari sebongkah daging berkualitas dari tuanmu. Yang tinggal di ketinggian, terasing dalam kesunyian, dan terjerat oleh dingin pegunungan. Sehingga kamu secara acak, tak terduga, “menghadirkan” seekor anjing itu untuk membuat kantuk matamu, terpuaskan? Utara meminum kopinya, dari gelas sebelah kanannya, dari sisa air yang panas, yang tersaji menjadi dingin disusupi suara minor sudah mulai merasuk. Gelasnya diam. Utara diam.

Cinta itu, yang mengalun minor melewati kulitnya yang rusak karena terbakar amarah matahari. Kini tak lagi tertepiskan. Mereka, sempalan-sempalan agen semesta sudah membuatnya jauh. Utara tinggal, sendiri. Minor dan minor, terus mengalir keminoran yang didambanya, dalam hati. Hadir dengan sempoyongan sebuah pertanyaan berilengah, kenapa anjing hitam itu tak menggigit dadanya atau kepala yang menyimpan banyak nyanyian rindu, mengapa harus tangannya, bukankah sudah lama dia tak menggenggam kasih kesuma, semenderasa yang dirindunya, karena kasih itu sempak kemudian menyempal?

Tengah malam, dalam masa diam, di selatan. Utara merintih, lalu diam, sering melolong. Masih dengan niat dan semangat dimakan karat. Nilai-nilai mulai terkulai, membuatnya lari ke dalam kolong meja makan, dengan sisa-sisa tangis. Matanya keluar api.

Sampai kapan suram akan tenggelam, kembali ke lautan luas. Memberikan kesempatan untuk pantai yang putih itu membuat cerita baru yang berdaya. Semuanya, yang pernah terjejak di pasir-pasir, yang pernah hidup karena kisah. Kembalilah! Kembalilah ke lautan tenggelam didasarnya yang gelap dan dalam! Bagimu, seluruh nafasmu serta gerakmu, kau gulirkan untuk berenang, mengantar semua cerita ke tengah lautan. Sehingga kakimu keram membuatmu karam. Ada cerita lain yang akan berbiak, selepas dirimu karam. Jangan menangisi bisiknya.

Seekor anjing hitam, sungguh, sekarang duduk di sela-sela jariku. Memintaku untuk membakar bidar yang kumiliki. Agar rasa melawan, membara dalam setiap kedipan. “Jangan bunuh mereka, bunuh saja dirimu. Jangan siksa mereka, siksa saja dirimu.” Anjing hitam itu masih duduk di sela-sela jariku. Mempertanykan seni dari rasa takut yang bergelayut. Demi tumpukan karang yang dihempas gelombang. Demi nyiur-nyiur yang menari karena tertiup angin. Demi hamparan pasir pesisir yang sering dilamun ombak.

Kembalilah! Hidup! Kembalilah!

Kamarhitam, daftarmain acak, 25FEB13.

*zn
anakwayang

2 thoughts on “Kembalilah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s