Malam Utara

Utara malam ini tak lagi diselimuti kabut. Langit yang terang terlihat garis-garis cahaya berkilatan. Udara dingin yang bercampur dengan sisa-sisa gerimis dan rintik yang baru, berteman akrab dengan segelas kopi yang sudah pasti akan dingin juga. Berkawan karib dengan berbatang-batang sigaret kretek yang cepat menguap ke udara. Jangkrik-jangkrik dengan rajinnya masih ber”nyanyi” mengisi malam, bersanding dengan suara komunikasi, suara kordinasi, suara pengisi malam lainnya. Gemuruh guntur menjadi pembuka. Gerimis dengan rinting lebih besar jatuh menggoyangkan dedaunan. Malam utara sedang hening, riuhnya jauh dari campur tangan kemegahan, kemeriahan. Terasa natural. Citra dan nuansa.

Utara. Menyanyi seperti jangkrik, bernafas seperi cemara. Satu dua gerakan daun mencuri perhatiannya, terkira pandangan berkelebat seketika. Jangkrik-jangkrik masih dengan suara yang sama. Pohon-pohon masih menmpunyai bayangan yang sama. Di posisi yang sama.

Dalam keheningan seperti ini. Ketika gerimis telah berhenti sejenak. Ketika riuh kehidupan “kota” tenggelam di balik bayang cemara. Jejak langkah jadi terdengar jelas. Sosok berbentuk tak berupa sering tampak. Hanya suara langkah dan sapa. Suara angin-angin menjadi seolah nyata. Terdengar serupa. Aliran sisa yang jatuh perlahan lewat saluran air dari atap, merubah detik waktu menjadi seakan melambat pula. Beku. Pelan. Perlahan.

Menyanyikan lagu yang sama. Dengan lirik yang mampir diingatan kepala. Engkau lelaki kelak sendiri*1.

Dalam heningnya. Lelaki berusah berenang kembali. Walau dia tahu merenanginya adalah basah dan lelah. Begitu nyata kengerian suara-suara tak berupa. Gerak-gerik tak bernyawa. Membuat merinding bulu roma di batang kepala. Jangkrik-jangkrik itu pun mengingatkan kembali bahwa ada ungkapan “takut karena jauh dari Tuhan” dan menghembuskan lagi ungkapan “selalu ada tempat untuk seoranh pemberani”.

Malam ini di utara yang dingin dan hangat karena segelas minuman. Hangat dari kedekatan yang ditumbuhkembangkan. Diasah dan dirawatnya. Dalam hati, rasa takut sering kali membuat berani. Dan gelap yang baik datang menyapa.

catatan: 1. lirik lagu Iwan Fals berjudul Nak.

Wisma BIK Kaliurang, gerimis dan lampu padam, 22FEB13

*zn
Anakwayang

4 thoughts on “Malam Utara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s