Jalan Kawan

Sudah lama ku mendiami tempat ini. Pojok kota yang dindingnya dipenuhi coretan-coretan gelisah, berbagai pamflet acara, selebihnya hanya semut-semut yang berbaris melewati poster-poster iklan, sampah visual. Dan herannya aku makin cinta tempat ini.

Kemarin. Ketika malam berlalu dengan melaju. Tembang-tembang dari radio warung jalan mengalun menggoda waktu. Sehabis aku mampir membeli cigaret di warung itu. Berjalan pulang dari melihat batu-batu beterbangan di layar kaca tempat kerjaku. Berjalan kaki di pedestrian yang amburadul. Yang mana kios kaki lima, yang mana “pot uang”, belum lagi kendaraan yang parkir menyita jalanannya pejalan.

Suara siulanku berhenti. Perlahan menata langkah. Ku melihat ada sesuatu yang teronggok dengan siraman merkuri. Semakin ku berjalan perlahan semakin sesuatu yang telungkup itu menjadi besar karena mendekat. Di pinggir jalan. Aku mendekati sosoknya, semakin dekat, semakin tampak punggung sosok itu. Kudapati tangan kanannya memegang belati.

Kubalik paksa badannya, ia kawanku! Mukanya, bajunya aku kenal. Muka itu, yang sering menemaniku bermain di genangan air jalanan. Sehabis hujan bulan November. Ia adalah periang. Dalam benakku tertanam dirinya. Suka tertawa dan tak memilih kawan. Kini mukanya berubah tak beraturan.

Darah mengalir dari mulutnya, membasahi kaos yang sering ia gunakan. Bukan karena merupakan baju kegemaran. Namun hanya itu yang pas ia kenakan. Baginya kaos adalah bungkus. “Berbungkus yang kusuka saja. Orang-orang dengan otak brilian itu akan berpendapat hina. Apalagi baju yang tak kusuka. Bisa jadi aku semakin, semakin hina dimata mereka,” jelasnya.

Meski begitu dia tak pernah menaruh dendam. Kepada orang-orang yang menyingkirkannya. Bagaimana bisa orang yang mau tampil baik, harus diberikan cermin yang kotor? Secara individu saja dia bisa keliru berpandangan. Dengan cermin yang kotor itu. Ia sering kali mengeluh. Berlari dengan berjuta peluh. Mencari-cari cermin yang bersih. Tanpa banyak bertanya. Hanya mengikuti hati berkata. Sampai saat ini.

Dia yang kalah malam itu. Kawan dekatku. Kawan penghuni pojok kota ini. Dengan segala atribut yang ia kenakan. Ia sudah dipikir dan dituduh berkhianat. Tanpa obrolan tanpa teguran, tanpa sebab tanpa alasan. Dan siapapun tahu pengkhianatan adalah kekejaman. Dan karena kaos yang sering dipakainya itu. Ia meregang nyawa. Dengan belati dan bersimbah darah. Di jalanan yang sepenuhnya lengang, hanya tembang radio yang berdendang.

Begitu banyak bayangan pergi dari lokasi itu. Jangan-jangan mereka pelakunya, atau kawanan yang coba menghabisi nyawanya. Kenapa mereka menghindar? berlari kecil lalu ditelan kelam. Ingin ku berteriak. Tapi kawanku tenang, diam tak bergerak.

Kawanku. Dengan coretan tangannya di dinding tempat kami tinggal. Tempat yang makin aku cinta kini. Menuliskan: “bagiku adalah beruntung mereka yang lahir dari jalan. Dan mati di jalan”

Kawanku beruntung sudah mendapatkan keberuntungan menurutnya. Tinggal aku sendiri di tempat ini. Setelah “bertarung” dengan/karena bungkusnya. Ia harus dikebumikan dengan kawan-kawan di kuburan tak bernama. Kaosnya itu aku kenakan sekarang. Sebagai seorang kawan, sungguh konyol melihat kawan menggelepar tak berkawan, dituduh, dihajar malam.

Melalui cerita ini. Kutuliskan sebagian corean di dinding itu. Dibawah tulisan kawanku. “kamu yang belajar lalu bisa membagi senyum di jalan, begitu beruntungnya seluruh alam”

Kamarhitam, putarankipas, 20FEB13

*zn
anakwayang

2 thoughts on “Jalan Kawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s