Dekat Ketiak

Dekat ketiak seorang pekerja. Air mukanya mengalir arus-arus lelah yang diatasnya mungkin mengambang macam-macam jenis persoalan. Tangannya besar, bergantung menggenggam begitu kuat. Kepalanya menunduk, lalu mendongak, kembali menunduk lagi, entah melihat apa, tangan satunya lagi erat memeluk tas.

Di kota yang awal harinya selalu ramai di jalan-jalannya. Ramai juga ketika akhir hari-harinya datang. Ketika jam berangkat kerja dan pulang kerja. Di mobil-mobil pribadi, di angkutan transportasi umum, di motor, di pedestrian, di awang-awang, di dalam selokan.

Begitu lalu begitu. Antrian panjang, menunggu bus datang. Barisan panjang mengular menunggu datangnya harapan. Kepala yang berisi macam-macam. Aku ingin segera menyiram badan. Duduk manis dengan kaset “baru” yang ku dapatkan sepulang kerja tadi. Sambil mengingat apa yang telah ku lakukan di tempat kerja. Sembari berkirim pesan, kabar, godaan, candaan, pada kawan-kawan dan handai-taulan. Ketika musik berhenti, aku akan segera ke dunia mimpi agar bisa bangun lebih dini dan berlari mengejar pagi.

Hari-hariku seperti ini. Terkadang jika memang berdamai dengan hari. Aku pergi ke taman tengah kota. Ada tugu menjulang di sana. Pepohonan rindang, orang-orang yang berolahraga. Dan aku diam di bawah sebuah pohon, duduk dengan minuman ringan dan majalah musik. Itu kalau hari sedang damai, jika sedang ricuh?

Aku pekerja. Mereka pekerja. Kami sesama pekerja. Makian, ungkapan ketidakpuasan atasan sering mampir ke telinga, padahal jika.aku boleh membela diri (dan hanya di sini aku membela diri). Aku melakukan apa yang mereka inginkan. Apa yang mereka bilang. Lalu mereka meludahiku dengan memberikan poin C? kamu tahu poin itu adalah nilai untuk seorang pekerja yang tak tahu bagaimana harusnya bekerja. Dan poin C adalah penghinaan karena ketika aku bertanya pada penilaiku-yang bertugas menilaiku dan semua pekerja disini. Apa yang salah denganku? Tunjukan mana yang harus kuperbaiki agar apa yang diinginkan tuan sesuai kiranya. Walau aku tahu dan pekerja lainnya juga, kalau tuan yang ini adalah bangsat!

Ya bangsat itu hanya diam jika ditanya. Membuat aku dan pekerja yang senasib denganku bertanya-tanya. Soal gaji kami syukuri. Kenyamanan kerja tentu hal yang dicari. Buat apa aku bekerja dengan panas di hati. Begitu merusak konsentrasi. Pagi hingga sore, tak seperti yang malam yang kujalani ketika musik amarah kegemaranku, atau musik dengan energi yang berbahaya, dengan musik yang panjang membuat mabuk mendengarkannya. bisa membuatku malamku merasa tenang. begitu tenang. membuat pikiranku lengang. menjadikan telingaku seperti hidung anjing terlatih. yang tajam mencium dari kejauhan.

Aku jadi sering mendengar bisik- bisik di rumah makan para pedagang jadi harus memohon maaf karena terpaksa menaikkan harga dagangannya, karena kau tahu? bahan baku sebabnya. Suara itu begitu menyita perhatianku. oh tuan sampai kapan aku selalu diberikan pendengaran yang tajam, dengan seringnya jadi ikut mendengar cerita hati mereka.

“surga sekarang jadi bla.. bla.. bla..” “iya, surga di sana juga bla.. bla.. bla..”

Ketika bis berhenti dan aku berjalan keluar dengan kepala masih tertunduk meninggalkan halte besar menuju jembatan penyeberangan. Berjalan menaiki tangga, bangsat! bangsat! setiap anak tangga yang kuinjak begitulah keberujar. Begitu gemarnya aku mengumpat macam itu hingga aku sendiri kehilangan arti dari kata bangsat! itu sendiri.

Banyaknya umpatan yang loncat-loncat akhirnya mengantarku seberang. seorang ojek coba menggodaku.

“berapa ke loket surga (loket yang menjual tiket ke surga)?”
“Rp. 35.000 bos.” dia memanggilku bos. panggilan yang tak pernah aku suka. karena aku juga tak pernah memanggil tuanku dengan bos.
“gileee mahal amat luh”
“yah segitu bos”
“ceban!”
“huuuuuuu” pengojek itu bersorak.Aku juga mebalasnya “huuuuuuuu”

Ceban (Rp. 10.000) adalah harga normal. karena aku menduga bahwa surga dekat daerah sini. pernah kudiantarkan kawan dengan motor tak lebih dari 10 menit. Aku terus berjalan. para pengojek-pramudi ojek. menggodaku. terus menggodaku. aku bertahan dengan ceban di kepalan.

Seorang pengojek memanggilku. “Tambah noceng (Rp. 2000) lagi dah bos,” pintanya. Aku pun sepakat, hanya dia-pengojek yang berani menawarkan damai untuk menuju surga.

Sepanjang jalan, aku bercerita, mengeluh juga.
“Sialan pada nawarin tinggi-tinggi amat tuh ojek.”
Si malaikat-pengojek itu kusebut malaikat menjawab.
“Rp. 20.000 biasanya bos, harga pasarannya.”
“Ah gila!” semburku.
“Padahal sayang bos,” balasnya.

Malaikat itu mengantarku, seperti yang diatas alasamya, sayang denganku, maksudnya mungkin dengan duitku, atau mungkin sayang melewatkan kesempatan untuk mampir ke surga barang sebentar. Walau hanya mengantar hingga loket semata.

Kurang dari 10menit seperti dugaanku. Aku tiba di loket surga, segera mengantri sesukaku. Malaikat yang berangkat ngojek jam 6 pagi. pulang jam 10 malam. Kebanyakan pelanggan para pekerja sepertiku juga. paling jauh dia perbah mengantar hingga ke Buitenzburg. “Harga pas. Siap antar”. Dia pun berlari kencang, tenggelam dalam pelukan cahaya merkuri.

Aku kehabisan jatah duduk menuju surga aku berdiri disamping pekerja yang bernasib sama–tak kebagian kursi. Kurang lebih 14 jam lagi aku akan sampai menuju surga. aku akan menyiram badanku, duduk manis mendengarkan musik kegemaranku dan meminum kopi kesukaanku, itu nanti.

Aku kini berdiri, tanganku bergantungan. Kepalaku menunduk. Begitu dekat. Dekat ketiak.

Gerbong tiga progo, deru desing roda kereta, 18FEB13.

*zn
anakwayang

2 thoughts on “Dekat Ketiak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s