Bibir Kereta

Pulang dari pesisir mereka menuju arah mata angin masing-masing. Utara ke sarangnya. Selatan pulang ke kandangnya. Dan aku pulang ke kotak hitam.

Aku rebahkan tubuh, mendamaikan lelah yang kurasa. Langit senja yang sempurna, di pantai berakting menjadi “pelukis”.  Selama di pantai itu juga sudah kusimpan kanvas-kanvas yang natinya akan ku lukiskan kalimat demi kalimat, dengan cat kuas–kata-kata–dalam kepala.

Ku lemparkan pandang pada tumpukan buku cerita, kaset-kaset, dan majalah. Ada cerita disana. Mereka itu penggoda. Dan kembali ku pejamkan mata, ada cerita disini. Di kepala. Kenapa tidak mulai ku bercerita.

Ku bangkit dari rebah menuju komputer. Ku buka aplikasi yang memproses kata. Tik tak tik tak papan ketik mulai berbunyi. Ada juga musik yang mengalun. Dengan daftar main yang tak pernah berganti. Itu-itu lagi.

Lalu lama ketika kata sejenak mengambil jeda. Sepotong bibir lewat depan monitorku. Ada kereta juga. Tuuuuuuuut bel kereta berbunyi. Mereka berputar-putar di kotak itu. Mengambil alih pandanganku pada bibir dan kereta. Lalu mereka menghilang bersamaan.

Kenapa ada bibir dan kereta? Ah biarkan. Aku melanjutkan petualangan lagi. Baru dua baris kata terajut. Ada wajah yang ku kenal muncul, sosok berkerudung yang lama sudah tidak kulihat secara nyata. Sekarang ia tampak di monitorku, memenuhinya. Tak ada kaget yang kurasa. Kulihat belakangku tak ada siapa-siapa. Ku pejamkan mataku. Lelah mungkin bola mata ini atau, pertanyaan ini pun melintas: Mengapa tumpukan rindu tak pernah berdamai denganku? Atau dibalik saja, mengapa aku tak dapat berdamai dengan tumpukan rindu?

Setelah kudapati jawaban, ku buka lagi sepasang mata ini. Melanjutkan lagi cerita. Menatap langit-langit kotak hitam; kotak hitam yang selalu dicari untuk memecah misteri. Lalu lanjut bercerita mungkin tentang bibir dan kereta itu.

Dan suara halus mendekap dalam pikiran. Perahu yang kau rakit. Akan menerima pelaut baru cepat atau lambat. Pelaut yang selama ini kamu tunggu sudah memilih berlayar dengan kapten lain. Kapten yang belakangan lebih sering ada disampingnya. Kamu dianggapnya terlalu lama merakit perahu itu.

Baiklah sebaiknya aku mati sementara.

Aku melanjutkan kata-kata dalam tidurku. Entah kenapa aku bertemu sosok yang tak ku kenal wajahnya, apalagi bayangannya, dan anehnya sosok itu dengan payudara besar, sepertinya terbuat dari plastik. Terlihat dari warna-warni yang pucat, tapi dominan warnanya adalah hitam. Permukaannya menyerupai kresek yang diremas. Sontak saja membuat sesak tubuhku. Sosok yang tak kudamba untuk mampir ke tidurku. Ke ruang privat dimana ku bisa apa saja tanpa dibaca/dilihat orang lain. Mataku lanjut memejam. Alarm yang baik berteriak-teriak. Aku terbangun. Kulihat sudah jam 12:00. Sudah pas siangnya ternyata. Bangun! Nanti rejekinya dipatuk ayam atau sudah?

Akupun bangun. Dengan berat karena payudara plastik itu masih menggantung di mataku. Biar rejekiku dipatuk ayam. Nanti setelah mandi akan kumakan ayam itu, yang sudah digorenglah. Sama sayur bening dan sambal juga. Kerupuk jangan lupa.

Apakah ini karena kalau berbelanja aku sering menolak plastik? Karena mereka tak terima dengan alasanku, plastik bagiku adalah pemborosan jika sedikit belanjanya. Selama masih bisa digenggam/dimasukkan ke dalam kantung, selama itu juga ku tolak bonus plastik itu. Ini bukan soal lingkungan apalagi payudara. Ini soal sesak yang kurasa.

Selesai menyegarkan badan. Aku kembali ke komputer. Sebelumnya membaca pesan yang masuk dari Utara dan Selatan lalu membalasnya.

Di monitorku kini. Yang tertidur dari semalam karena tak sempat kumatikan. Ternyata masih ada sosok berkerudung. Yang lama sudah tak berjumpa. Ia senyum dan aku diam, makin dibuat bingung karenanya.

Cepatlah datang sore. Aku, Utara, dan Selatan akan berburu senja. Kami akan menangkapnya dengan umpan yang beragam. Kali ini diatas ketinggian, yaitu atap rumah.

Kamarhitam, mendengarkan Oasis Greatest Hits.

*zn
Anakwayang

2 thoughts on “Bibir Kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s