Berkenalan Lagi

“Sungguh mati, kepalaku mau pecah” aku mendengar ucapan itu keluar dari seorang di dekatku. Aku belum mengenalnya lagi. Dulu memang kami sempat dekat. Namun langit yang kami junjung dan bumi yang kami pijak tak lagi mendekatkan kami. Ada pohon besar berdiri menghalangi tatapan kami, pendengaran kami. Angin yang tak terduga tiupannya sering membuat kami berbincang dengan cara berteriak. Entah ucapanku yang kurang jelas. Atau pendengaranku yang sudah lemah. Semenjak otak dan otot kami mengembang. Semenjak itu pula. Pandangan kami sering terhalang.

Utara menyandarkan tubuhnya pada kursi panjang berbahan bambu. Suara rintih terdengar. Semakin lama bangku itu seringkali mengeluh. Bangku yang pernah menyejajarkan kami. Utara, dan Selatan dan Timur. Dalam tatapan dan hidangan yang sama, antara.kopi dan gorengan sambil menajamkan kepala menuju sebuah lukisan di warung kopi kegemaran kami.

Lukisan pantai yang menawan. Karya besar yang oleh pemilik warung didapati dari penjaja lukisan keliling. Lupa katanya. Ketika ditanya berapa harga lukisan itu. Harga sepertinya dirahasiakan untuk membuat lukisan itu penuh tanya misteri.

Lukisan itu juga yang membuat kami bertiga selalu memperbincangkannya tanpa habis. Pertanyaan selalu terlontar. Apa saja. Berkaitan atau tidak. Misal, kenapa kalau lukisan pantai harus ada pohon kelapanya? Harus ada ini-itunya? Dan selalu juga, jawaban itu keluar jalan, melebar menjadi bahasan baru dari Tuhan hingga batu.

Tentu menarik mempertanyakan hal-hal yang tidak pada ahlinya. Menerka-nerka, menghubungkan satu cerita, dengan cerita lainnya. Yang didapatkan dengan katanya atau bacanya. Sebenarnya bisa saja kami bertemu dengan pelukis. Lalu bertanya tentang itu semua. Pertanyaan kami ini. Tapi akan membuat lukisan tersebut tak lagi memancing imajinasi. Biarlah kepala kami sesekali seperti orang yang melukis pantai itu.

Aku merasakan sesak yang sangat. Ketika suara tentang kepala yang mau pecah, terlontar menggelegar. Bukan hal mudah menjadi pendengar. Apalagi menjadi sumber cerita. Tapi bukan juga hal yang mustahil untuk bisa keduanya.

Utara mengajakku untuk ke selatan. Ajak Selatan juga katanya. Lalu kukirim pesan singkat ke Selatan.”Bagaimana kalau kita ke pantai, menjadi pelukis?”. Tak lama menunggu, pesan balasan masuk. “Haha. Mantap!” Jawabnya. Lalu kami membuat kesepakatan. Bertemu di warung kopi biasanya. Aku dan Utara mengendarai motor. Selatan juga. Biasanya dia akan mengajak teman lainnya.

Kami bertemu sesuai dengan waktu yang disepakati. Sempat menikmati kopi sejenak. Lalu kami berangkat. Kali ini Selatan sendiri. Ia hanya berkawan dengan musik bersumber dari pemutar miliknya.

Aku menjadi penumpang. Utara yang jadi pramudi. Kami melepas waktu di jalanan. Biarkan mereka yang berjalan kencang maupun.pelan. Kami dengan kecepatan stabil melemparkan bibit-bibit ke jalanan. Bibit -bibit yang berasal dari kepala masing-masing. Aku melempar kata-kata yang akan menjadi cerita. Mungkin selatan yang terlihat cuap-cuap mulutnya tanpa suara melempar lirik ke jalanan yang akan menjadi lagu nantinya. Bisa juga si Utara melempar bibit-bibit konsep yang tumbuh menjadi gambar-gambar yang dikenal dengan karya fotografi.

Hampir duapuluh lagu berlalu. Batang hidung pantai sudah terlihat. Aroma air laut menusuk masuk hidungku. Awan sudah berpisah, mentari sudah condong ke barat.

Lukisan itu. Sekarang sudah di depan mata. Kenapa ada pohon kelapa? Kenapa ada batu karangnya? Tanya terlontar. Kami belajar menjadi “pelukis” yang mencoba menggambarkan pantai dengan kemauan masing-masing. Melalui cerita, lirik, dan citra.

Entah kenapa, kegelisah kami sudah tak seperti dulu. Kegelisahan kami yang membuat kami rajin bertanya dan mencari jawab. Selalu mengantarkan kami pada rendahnya bibir pantai hingga puncak gunung.

Kami, pun saling memandang, saling memperbaiki pandangan. Kami lantas tertawa. “Sungguh mati kepalaku mau pecah” kami sontak mengucapkannya bersamaan.

Ternyata arus gelombang dan deru angin membuat kami tetap berusaha untuk berkenalan lagi dan berkenalan lanjut. Dekat, jauh, menjadi dekat, menjauh dan begitu itu iramanya. Berkenalan lagi dan terus. Karena mungkin aku merasa. Aku lahir dari ketiadaan, kesunyian, dan kesepian maka dari itu rawatlah mereka, lalu jangan ragu berkenalan. Langit dan bumi kita mungkin juga akan sedikit banyak berubah. Aku takkan ragu untuk berkenalan lagi.

Kamarhitam, mendengarkan The Brandals album Brandalisme dan The Upstair album Katalika. 14FEB13.

*zn
Anakwayang

5 thoughts on “Berkenalan Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s