Surat Simbut

Kawan datang, memanggil nama kawanku yang lain, terus memanggil namaku. Aku membalas panggilannya. Dia masuk kamar dengan cengar-cengir. Bertanya, “Mau kabar baik apa kabar buruk?” Dengan yakin ku jawab, “Kabar Buruk.” Dan ia menyerahkan dua lembar, “surat cinta”? Yang menjadi maksud dari surat cinta itu adalah, ku harus bersegera atau lupakan. Terdiam, bertanya, terdiam lagi. Deg-degan juga.

Ku berjalan menuju kamar lainnya, memberikan kabar juga, kawan yang sedang bersila di depan laptop-nya, menyahut, “sudah membacanya katanya”. Dan obrolan pun berpindah, menyebar ke kawan-kawan angkatan perang. Oh kawan, tahun ini harus menang!

Tunda kejap cerita perihal surat cinta itu, baiknya saya langsung ke sekolah bertanya pada yang berkaitan untuk informasi yang lebih rinci.

Tadi pagi, bangun dibangunkan kawan, Dia bilang “eh simbut kenapa tuh tiduran nggak bangun-bangun.” Simbut adalah kelinci yang kami ambil (temukan) di jalan, depan kontrakan. Kelinci lepas sepertinya.

Pagi tadi, kami harus mengejar waktu menuju RSH dekat kampus biru. Pagi yang sama ketika Alena juga ditemukan lemas. Kendaraan kawan dipacu, menuju bagian pendaftaran, dan dokter tanggap mengambilnya.

Simbut diduga menderita penyakit pada pencernaannya. Hampir satu pekan ketika pertama ditemukan mulutnya memang sering mengeluarkan cairan, yang menyebabkan bulu di sekitar mulutnya jadi basah dan menggimbal. Selasa sempat dibawa ke klinik, namun ternyata, sang Pemiliknya mempunyai kehendak lain.

Cairan infus disediakan, oksigen tambahan diberikan. Karena Simbut masih terlalu kecil dan sudah lemah, pembuluh darahnya sulit ditemukan, alhasil jarum untuk mengalirkan cairan infus tak bisa digunakan, dengan cara lain dokter mengalirkan cairan itu. Sesekali dengan stetoskop dokter memeriksa detak jantungnya, makin melemah.

Dengan alat oksigen yang menutup mukanya, untuk diperiksa responnya. Matanya diberikan cahaya, Simbut tak bereaksi. Sepertinya Simbut sudah koma. Simbut pun dirawat inap. Dokter bilang bisa ditinggal. Dalam obrolan kami dengannya, dokter jadi sering berucap maaf, mungkin juga menenangkan. Biasanya jika kelinci sudah begini, yang sudah-sudah adalah pulang. Kami diam dan menarik nafas dalam. Simbut kami tinggal nanti akan diberikan kabar lewat telepon, aku dan kawanku pulang setelah membereskan urusan administrasi.

Sampai di kontrakan, kopi tersaji. Kurang sejam kami tiba di kontrakan 10:35 ponsel berdering, nomor lokal. Dokter mengabarkan berita, Simbut telah pulang. Dan kami bersegera ke rumah sakit untuk mengambilnya. Simbut sudah dibaluti kain kafan. Kami mengebumikannya di tanah belakang kontrakan. Pacul kami pinjam, tanah ku gali. Kami mengebumikannya, di daerah dekat Alena berpulang juga.

Bagaimanapun juga, seperti penggalan lirik Ms. Jackson, “You can plan a pretty picnic, but you can predict the weathers” lagu asli dari Outkast, dan dibawakan lagi oleh The Vines, aku lebih sering mendengar versi The Vines-nya.

Simbut dan Surat Cinta. Kembali menegurku akan perihal pulang dan dipulangkan.

Ada yang terbakar api dalam kepala, ada tinju menerjang di dalam dada. Tenang-tenang, semoga menjadikannya energi positif yang bisa membangunkan kembali makna dari hidup dan menghidupi.

Kamarhitam, dalam daftarmain campur-campur. Feb 7 2013

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s