Dari Selatan

(I)
Berjalan lepas menuju selatan
Menerjang kendaraan yang meradang
Di Betawi waktu siang
Nyali di kepala, berani di dada
Ku lewati lubang jalan satu dua dan seterusnya
Lubang yang menyimpan beraneka ketakutan
Demi sebuah pertunjukan
Di selatan Betawi kala
Tiket, tiket, tiket, mereka coba merayu
aku lupa, kita tak lama ketika setuju.

Dengan deru menusuk telinga
Melewati darat menuju pinggirnya
Dalam deru-deru doa pada bintang yang jatuh
siang berganti petang
Kamu masih muda dan manis waktu itu
Dengan kaos The Beatles warna hitam
Sekarang aku seperti tak mau tahu
Kamu belum sempat menutup pintu
Aku lupa, kita tak lama ketika bersatu

(II)
Lepas semua genggaman kecepatan
Ladang pepohonan dengan debur dan nyiur yang merengkuh
Senyummu berenang membasuh ragu
Tak berlama bersiul di dermaga
Anginnya membawa semua irama
Aku lupa, kita tak lama ketika berlagu.

Jauh obrolan begitu jauh sejauh layar kapal melayang
Dalam bincangan begitu dalam  sedalam umpan para nelayan
Harap umpan tertangkap
Turun gerimis lalu hujan dalam senyap
Membasuh semua rindu yang gegap
Dari utara menuju selatan
Untuk pulang lagi ke utara
Aku lupa, kita tak lama ketika sayat semakin membiru

(III)
Roda-roda kembali berputar
Merajut cerita berseri dalam sinar merkuri
Merengkuh sisi jalan perlahan menuju selatan
Dirimu memejam tersapu angin malam
Di atas kendaraan merendah, meminta jangan mogok di jalan.
Sampai suhu ruang menusuk badan
Tumpukan cerita berlanjutan
Sejumlah bapak datang,  hendak berujar berdaya melarang
Pukul dua aku pulang.

(IV)
Kita ceritakan jingga yang tenggelam
Kita lagukan angin-angin memuja malam
Dalam rindu-rindu kurangkaikan
Belum usai kecup keningmu sebelum pulang
Hari berganti gelap terlalu lekas datang

(V)
Tak ada tawaran untuk lagi menunggu
Tak ada tawaran untuk lebih merindu
Demi nyiur dan layar yang menari
Demi minuman kaleng yang dingin menanti
Hari-hari tidak lagi berpihak
Masa-masa tidak lagi berpijak

Diriku pulang dan pergi
Dirimu berjalan dan berlari
Aku kembali diam dengan tiket kereta malam
Aku kembali hujam dengan kopi penghujung malam

(VI)
Kereta itu kereta lalu
Dalam gerbong kamu diam kamu bisu
Karena tak ada penjaja menawarkan tunggu

(VII)
Kereta itu kereta lalu
Aku diam bukan lumpuh
Jejak masih lambat untuk berbaju
Untuk menyandingmu bersama buku dan udara dingin di dataran tinggi sekian ribu kaki
Untuk meminangmu dengan musik dan pucuk-pucuk gunung kala terbit mentari
Dengan musik dan sepoi angin di batas pantai kala pulang mentari

Kamarhitam, mendengarkan The Beatles album Sgt. Peppers Lonely Heart Club Band. 5 Februari 2013.

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s