Dinding Kelam

Melewati jalan yang sama, jalan yang tak berubah banyak sisi-sisinya, masih dengan warung tenda yang berjejer menawarkan bermacam hidangan dari yang berkuah hinggay penyetan. Masih juga ada hotel yang  berdiri menantang jalan, menantang mata yang melihatnya. Dindingnya yang kelam menggambarkan apa yang sering terjadi di sana. Sebuah warung rokok  kecil 24 jam yang juga menjual bensin dalam botol-botol kembung bekas minuman beralkohol, masih seperti dulu kala, terselip diantara bangunan-bangunan besar berdinding kelam. Di jalan itu. Kanan-kiri sisinya menarasikan pengalaman seorang pejalan. Lelaki. Beramput panjang. Berdandan urakan. Berkelana kala malam. Masyarakat sekitar biasa memanggilnya Kelam.

“aku” ujarnya.

“Apa?” tanya kawannya.

Kelam diam. Sebuah panah tertancap di matanya. Jantungnya jadi lemah semakin terasa. Ketika kawannya melempar lagi tanya.

“Apa?”

Kelam ingin bicara, bibirnya seperti hendak bergerak dia merasakan ada ujung pedang terpampang dekat lehernya. Nafasnya berat. Bibirnya juga. Kepalanya tertunduk. Jarinya dibunyikan. Krek.. krek.. sepertinya dia sedang mencari jalan keluar sederet ucapan.

Kawannya berbalik kondisi, dia yang diam sekarang. Bingung dengan perilaku Kelam barusan. Tak biasanya orang yang dikenalnya lama ini begitu diam ketika ditanya. Sekalipun sedang makan, dia akan berbicara sambil mengunyah makanannya. Jika ada pertanyaan sulit yang dia tak tahu jawabannya. Kelam akan tertawa sembari berkata. “Tenangkan pikiranmu, jangan kaya detektif, pertanyaanmu terlalu sukar kujawab. Kamu tahu sendiri bagaimana aku sedari dulu. Aku tak peduli dengan kata orang, aku memang bodoh” lalu lepas lagi tawanya yang berciri itu. Lantas dibawanya pertanyaan itu kepada orang lain. “Sebentar, sabar, aku tanyakan sama si anu,” katanya tenang menenangkan.

Seperti itulah Kelam, lain hari lain waktu, tetap sama, namun sekarang dia merasakan kelamnya seorang Kelam. Dia gelap dan semakin gelap, dalam sekejap.

Di sisi lain, masih di jalan yang sama seorang karyawan kafe dilempar asbak oleh salah seorang pengunjung. Karyawan yang kena lemparan merintih menahan sakir sembari memungut puing-puing asbak yang dilemparkan itu. Asbaknya pecah berbelah, ramai obrolan pengunjung lainnya mendadak senyap. Kafe tenang. Hanya musik pengiring yang terdengar. Dengan tertawa puas pengunjung keluar kafe. Di lemparkannya beberapa rupiah yang digenggam. “Tuh, buat keingintahuan”. Lenggang dia menuju parkir. Karyawan lainnya turun tangan membantu kawannya yang terkena tawa amarah pengunjung. Suara riuh mengambang mengantarkan sinar lampu kendaraan pengunjung tadi menjauh.

“Kenapa kamu?”

“Hmmm..” Lalu dia menuju dapur dengan membawa pecahan asbak tadi. Menunduk.

Kembali lagi ke Kelam. Suasana yang tadi belum juga menemui titik temu. Antara perubahan secepat kilat, dan pertanyaan yang memuncak. Memang di gunung yang diam itu. Banyak jawaban sehingga orang berbondong-bondong berusaha mendakinya dengan lelah payah. Lalu ketika sampai puncak menangis dan bersujud. Dan turun kembali dengan susah lelah. Seberapa banyak ada jawaban di gunung? Dan mengapa harus merenung seperti gunung?

“Aku” Kelam mulai lagi mencobanya

“Aku” diam ditelan Senyap.

Dan kepala Kelam ditemukan di dalam selokan. Terjerembab bersama pecah belah asbak yang dibuang. Dia percaya ada bintang di sana. Di jalan-jalan yang tak pernah berubah. Dinding bangunannya bernarasi dengan kenangan kelam yang sama.

Kamarhitam, mendengarkan Burgerkill dengan suara Scumbag. 4/2/2013

*zn
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s