Kucing Kelinci

Kucing, bukan nama sebenarnya, itu hanya sebutan dari manusia Indonesia saja. Mungkin dia juga bernama di dunia perkucingan. Sehingga jika bertemu dengan kucing lainnya dia bisa saja berkenalan menyebut nama sambil mengendus mencirikan baunya.

Jadi kucing ini sedang dibersihkan kutunya. Siang hari tadi. Yang mataharinya menyala terik. Hasil dia berjemur sebentar, lalu kutu-kutu kecil yang mendekam di bulunya keluar karena kehangatan.Dan kami kawannya membantu mem-pites-kan satu demi satu. Kutu-kutu yang bikin kucing senang garuk-garuk. Maafkan kami kutu.

Duduk-duduklah kami di luar, di teras kontrakan karena cahaya terang, kutu jelas terlihat. Sedang asik cari kutu. Seorang kawan melihat kelinci, ini juga bukan nama sebenarnya. Sebut saja. Hewan yang berkuping panjang, suka lompat-lompat, jika di kartun suka makan wortel.

Dia, kelinci itu di bawah gerobak, ditangkap sama kawan. Dan kami pegang. Kami perlihatkan kepada kucing. Kucing mengerang, bulunya mengembang, dan lari terkencang-kencang. Kaget mungkin tambah takut juga, mungkin. Terlihat dari cara larinya uang tak biasa.

Kelinci itu kami masukkan ke kontrakan. Dan kami mencari kucing. Dia, kucing itu bersembunyi sepertinya. Kami cari setiap sudut rumah. Tak ditemukan. Prediksi berkembang, sepertinya dia lari ke loteng. Memang sebelumnya sudah pernah si kucing terpergok loncat dari atas mendarat di meja dapur. Meja dapur itulah medium untuk menuju ke loteng.

Semua kawan yang ada di kontrakan bergerak mencari, ada yang naik ke loteng. Ada yang mencari ke tanah belakang kontrakan. Tak ada. Kucing di pangil-panggil tak menjawab. Dipancing dengan bebunyian pakannya dalam kaleng. Tak pengaruh. Misteri masih bergelayut perihal ketiadaan si kucing dalan sekejap itu.

Dalam pencarian seorang kawan berteriak. Tanda-tanda tempat bersembunyinya sudah terlihat. Dan kami pun seperti petugas damkar (pemadam kebakaran) di layar kaca di dunia luar sana, tak hanya berurusan dengan api tapi juga melakukan evakuasi.

Berbagai cara di coba. Akhirnya kucing bisa diajak dengan lobi-lobi aneh. Di loteng sempit tempat kucing bersembunyi dia keluar dan berhasil terjangkau dalam pelukan.

Pertanyaan pun jatuh dikata, kenapa si kucing bisa begitu takutnya sama kelinci? Apakah ini pertemuan pertama si kucing dengan kelinci? dan kelinci sudah terbiasa bertemu dengan kucing sehingga tenang.

Adakah bahasa universal yang digunakan seperti kedua hewan tersebut untuk berkomunikasi. Dilihat-lihat bahasa tubuh kucing ternyata tak mempengaruhi kelinci. Ketakutan kelinci yang diharapkan kucing ketika diberikan gerangan geram tak terjadi. Kelinci tetap tenang. Tetap dingin. Kucing mengerang. Dengan posisi tubuh semacam kuda-kuda pertahanan diri.

Kelinci menjadi tamu malam ini, ada wortel dan sawi. Sampai tetangga yang merasa kehilangan mencarinya. Dan kembalilah si kelinci.

Siapa kira?

Februari datang, lewat kucing dan kelinci. Januari lewat, 32 terbitan timbul ke permukaan. Mohon maaf telah membuat surat elektronik kalian penuh karena pembaruan tulisan yang (selalu) terkirim.

Menulis cerita setiap hari? Bercerita dalam coretan, membagi foto-foto dalam sepekan, bermain dengan sajak-sajak jejak.

Mataharinya masih sama, senjanya juga. Adakah yang membuat hari-hari beda? Pastilah ada. Tinggal kemauan jari merangkai kata. Mau membaginya. Kelinci di kandang kucing, kucing tidak di kandang kelinci, tapi kucing di kasur memperkantuk diri. seperti kucing dan kelinci, adakah pertemuan yang membuat rasa takut datang berlebih? Aku menjawab, ada.

Siapa kira?

Kamarhitam, masih dengan The Upstairs – Katalika. 1 feb 13.

*zn
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s