Terbuka

Bagaimana kalau bisa menghabiskan seberapa waktu hari-hari di sebuah tempat yang teduh, hijau, sepoi-sepoi. Melihat kembang/daun gugur satu demi satu sambil membaca buku, mendengar musik atau lewatkan saja dengan berdiam diri, membiarkan pikiran melayang menembus pekat sekat-sekat kegiatan rutin yang mau tidak mau akan dilewati terus dan lagi.

Merasakan aroma udara dan suasana dari anak-anak kecil yang berlarian, kejar-kejaran dengan tawa khas mereka. Memandang damai pasang muda-mudi sedang duduk berdampingan, bersuapan kudapan. Tertawa, menertawakan cerita. Bisa dinikmati untuk berlari-lari kecil/ gerak bergerak senam kesegaran jasmani kala pagi hari. Di tempat yang kadar bahagianya lebih banyak dibanding tumpukan sampah kota yang juga banyak. Tempat orang-orang yang merayakan syukurnya.

Di mana tempat itu? Tempat yang bisa dijadikan berkegiatan seperti itu? Bisa besar kemungkinan adalah ruang yang terbuka, ruang yang hijau, ruang terbuka yang hijau.

Adakah? Kesempatan untuk merebut kembali apa yang sudah banyak diambil oleh mereka yang merasa memiliki hidup sebagian orang? Sehingga tanah lapang tempat anak-anak berlari mengolah bola hingga berbuah gol dan tawa berubah menjadi bangunan tak tentu ramah.

Ternyata kesempatan itu bermula dari kepala. Sekarang tempat terbuka yang hijau yang sudah ada haruslah tetap dirawat. Oleh siapa? Jangan tanya penguasa, mereka bisa saja mengadakan, tapi sangat bisa cepat menghancurkan. Maka, sebagai orang yang merindukan dan menikmati ruang terbuka hijau, mari jaga keberadaanya, kebersihannya. Dari lingkungan kecil dan terdekat. Sekitar tempat tinggal. Jikalau memang tak bisa bertambah. Biarlah yang sudah ada jangan sampai lenyap dimakan orang parlente mirip rayap.

Soal-soal lainnya, seperti udara sehat adalah bonus yang nyata jika memang alam di”kasihi” betul. Aku sebagai penikmat sumur, tentu akan berpikir ulang untuk mengencingi sumur tersebut.

Bukan hanya melewati hari sekedar untuk duduk-duduk di dalam ruang sekat-sekat semen, kudapan kiranya bertambah nikmat jika dinikmati di taman sambil berbincang mengenai rindu dan kehidupan. Keseimbangan diperlukan.

Ruang terbuka bisa apa saja. Bisa taman. Bisa hutan kecil kota. Alangkah nikmat kurasa jika saja senja yang tenggelam menuju peraduan bisa dinikmati sambil bersandar di batang pohon rindang. Atau tidur-tiduran di rerumputan yang hijau. Alangkah.

Dari itu pandangan singkat saya mengenai ruang terbuka yang teduh nyaman adalah sangat perlu. Bisa diakses/dinikmati siapa dan kapan saja. Bukan ruang terbuka lalu gersangnya, lalu cuma ditumbuhi kendaraan yang parkir. Lalu yang punya hanya perumahan gedongan, menjadi fasilitas yang disediakan pengembang untuk empu yang beli rumah gedongan. Orang luar dilarang mengaksesnya apalagi menikmatinya. Bukan.

Terbuka, tidak asal terbuka.

Kamarhitam, 31januari13
Sambil mendengarkan The Upstairs album Katalika

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s