Nol

Berhenti di nol kilometer. Masih seperti terakhir kali aku mengenyahkan jejak di tempat ini. Sekarang ada yang marah sekaligus ngambek. “ngapain sih tuh anak2 pada bukannya jalan juga” seorang perempuan dengan wajah yang agak murka dan juga sedih. Ditenangkan oelh temannya yang lain. Ternyata kawannya lain, serombongan sepertinya, sedang berfoto ria dengan hantu-hantu. Manusia berkostum hantu. Ada pocong, drakula,  kuntilanak, mumi, nenek sihir, sundel bolong, zombi. Ujug-ujug perempuan yang tidak suka itu berlari sambil berteriak.  Sepertinya takut mungkin. Entah pada siapa? Banyak hantunya. Sempat terucap kata “anjing anak-anak” padahal sudah jelas disitu adanya hantu-hantu bukan anjing apalagi anak-anak. =p

Sudah bahas hantunya aku jadi ingat mimpi semalam. Sekarang pindah ke sebelah kanan. Karena hantu-hantu tadi di sebelah kiri dan sudah pulang. Pindah lokasi mungkin. Nah, di sebalah kanan ada kerumunan penonton dan pemain sepatu roga jenis roller blade. Mengertikah? itu sepatu yang ada rodanya sejajar berjumlah empat.

Mereka meluncur dan menari-menari. Alangkah senangnya bisa seperti itu. Lumayan jadinya jika digunakan pergi ke kampus atau membeli makanan. Dengan catatan jalannya juga mulus. Seperti perempuan yang mondar-mondir berganti depan kami. Oh ya aku ke nol kilometernya bersama kawan, jong fuad namanya.

Kami bersepeda dari kontrakan. Melewati jalan affandi dan ke kanan jalan urip sumoharjo, jalan sudirman sampai ke tugu dan terus ke selatan. Mangkubumi, jalan malioboro, jalan Ahmad Yani. Itulah nama-nama jalan. Kenapa di kota yang katanya berseni dan budaya ini. Nama jalan-jalan utama-nya malah kebanyakan nama pahlawan? atau militer? Entahlah.

Kami bersepeda menggunakan helm dan bersepatu juga. Karena menurut kami menggunakan sepeda gigi mati (fixed gear) itu adalah aman jika menggunakan dua elemen keamanan tersebut, helm dan sepatu.

Sepeda tak hanya mengatarkanku dari satu ke tempat lainnya, sebahai transportasi. Tapi juga sebagai alat memori. Entah kenapa.

Dan sepertinya sudah mulai tanda-tanda hujan turun. Rintik, butiran rintik mulai terasa di kulit. Sepeda akan memutar memorinya lagi. Dengan musik mengalir melalui earphone. Aku mulai menyusun keping-keping puzzle yang pernah kuhancurkan. Jika sudah jadi. Akan kuhancurkan lagi. Agar bisa kususun lagi. Dari nol ke nol.

Jogya seperti itu tak pernah berhenti berusaha memberiku cerita, karena itulah kuberusaha tak berhenti berbagi cerita dalam coretan-coretan. Bagaimana dengan kawan-kawan? =)

Nolkilometer[30jan2013]
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s