Gentas

Ada segelas kopi, dua wadah rokok,  satu asbak dan minuman coklat ada buku juga. Tapi mereka tidak diam, mereka bersuara. Kami berdua diam. Langit masih merembes airnya. Jalanan masih becek, yang berkendara masih jadi batman-batman dengan ponco/mantel hujan.

Sebelah kami masih bersendagurau cengar-cengir. Sebelah kami di sisi lainnya juga masih ngobral-ngobrol. Kopi masih di dalam cangkirnya. Abu rokok masih di asbaknya. Diam-diam diam kami masih di darat. Suara-suara terbang ke langit. Kopi masih hitam warnanya. Coklat masih berbusa dunianya.

Diam diam-diam menghabiskan asap sigaret. Mulut makin masam, musik berputar beragam. Tak tik tak tik suara berdenting di atas genting. Tapi tenang, langit dengan ramah membuka jalan. Tinggal diri yang mau menempuh jalan itu atau tidak. Ini bukan pilihan, sebenarnya tapi kenyataan yang harus dinyatakan, dilakukan.

Asam tak lagi berlangsung lama wajah manis samping kami membuat waktu tidak makin berdurja-muram Bagaimanapun bisanya langit menurunkan hujan jika awan tidak berkumpul memenuhi perbincangan. Biarlah hujan yang membasahi bantal. Tidak lagi dari air selokan.

Diam-diam kami dalam diam. Biarlah hujan membuka jalan yang basah. Tanpa harus tergesa-gesa. Hanya katalika (tiba-tiba -sansekerta). Menjadikan rintiknya begitu gentas (keras/nyaring – sansekerta). Pinjamkan aku sura (berani – sansekerta). Cukup kira, sura.

The Coffee shop [27januari2013] faqih, vokal wanita dan gitar
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s