Bangun

Bangun sudah jam 6. Suara kawan berusaha membangunkan. Aku berhasil bangun, lalu meninggalkan tempat tidur, menuju kamar kawanku yang satu lagi. Kubangunkan dia. Sambil melanjutkan merabahkan tubuhku lagi. Hayo bangun begitu kubilang. Ayo. Mataku terpejam. Serasa ada monster yang nongkrong di mataku. Kantuk bukan main. Terbangun. Kubangunkan kawanku lagi. Aku memejam lagi.

Kawanku yang lain masuk dan menendang-nendang kakiku. Bangun. Bangun. Sudah jam 8. Katanya. Dan untuk kali ini berhasil caranya. Aku bangun. Membangunkan kawanku yang tadi. Dan menuju kamar kecil. Mandi.

Pagi, seharusnya lebih pagi lagi kita sudah berangkat. Seperti yang telah diceritakan di atas untuk bangun lebih pagi masih saja tergoda kantuknya. Dalam percakapan di kendaraan kami membuat perkiraan, kesulitan dapat tempat. Pasti udah ramai. Pasti hampir selesai.

Kami parkir di tempat biasanya, lahan parkir rumah sakit. Berjalan menuju Masjid Gede melalui gang di kampung Kauman. Sebentar saja. Terlihat kerumunan orang sudah ramai sisi utara dan selatan. Dibatasi dengan tali tambang. Ada yang duduk sila, jongkok, banyak yang berdiri.

Aku sarapan nasi gurih (uduk), kawanku tidak jadi melihat porsinya yang tak wuih. Mungkin karena ini sarapan, jadi porsinya juga tak banyak. Aku makan. Kawanku minum. Aku juga minum habis makan. Kawanku tetap tak makan habis minum. Itu maunya.

Dan kami pun menyebar. Ikut dalam kerumunan di sebelah utara. Tujuan kami datang ke sini adalah menonton gunungan yang akan diperebutkan oleh warga atau menonton warga yang berebut gunungan. Tak hanya sekitar Sakkiwotengenipun (sekitarnya) Jogja pun hadir. Dari anak kecil sampai anak besar. Dari ibu bapak. Sampai ibunya bapaknya ibu bapak.

Kami juga melihat kawan-kawan kami yang telah lebih dulu hadir di sana. Membawa alat rekam gambar untuk mendokumentasikan upacara tersebut. Sisi selatan terlihat orang mulai tak sabar. Mereka bergoyangan. Berdorongan. Petugas keamanan turun tangan. Petugas kesehatan menjulurkan tangan, menuntun dan menandu mereka yang goyah kesehatannya.

Yang ditunggu pun datang, gunungan berjumlah tiga.Sebelumnya masuk ke dalam area masjid Gedhe para pasukan keraton uang mengiring gunungan. Kerumunan mulai bersiap-siap. Gunungan siap ditempanya. Di doakan. Dan orang-orang berlarian menuju gunungan. Mereka berebutan. Aku membekukan gerak-gerik mereka. Menonton dan terpana.

Itulah menurutku kekuatan keyakinan. Tak kenal muda tua. Mereka mengejarnya. Merebut apa yang mereka percaya. Mereka yakini adanya.

Usai upacara, kami pulang. Dengan lidah mencicipi es lilin dahulu. Mungkin di tempat lain namanya es goyang. Seingatku, di Jakarta ketika berseragam merah putih terakhir ku menikmatinya. Banyak juga kami belinya. Dan pedagang itu memberiku bonus. Satu es lilin cuma-cuma. Lumayan.

Setelah menghadiri upacara di sisi timur. Kami sampai juga di kontrakan. Lalu makan siang dengan cara sisi barat. Menunya nasi ayam tepung dan es teh. Lumayan-lumayan.

Langit malu-malu.
Bintang gemintang berbaju awan. Bulan bertopeng kelam.
Gerimis berjatuhan.
Seperti es lilin.
Serupa nasi gurih.
Semirip es goyang.
Bangun.
Yang tinggal keyakinan.
Ke-yakin-an.

Burjo-boga-rasa[24Jan2013]
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s