Sehat

Tidak banyak yang bisa kuceritakan hari ini. Tapi tak ada alasan untuk menunda cerita. Sembari bergantian dengan gerimis yang kini membasahi jalan. Setelah tadi aku yang berlari-lari dengan cerita. Di jalan yang tak lagi halus itu. Masih banyak cerita yang telah aku dengar dan harus ku bagikan. Minimal untuk ingatanku sendiri.

Mengawali hari seperti yang sudah-sudah. Dengan segelas kopi dan selembar bacaan. Melangkah menjauhi tempat tinggal untuk tunduk padaNya beribadah Jumat. Lalu kembali dalam kegiatan yang kemarin-kemarin juga. Yang berbeda adalah rumah bagian depan sedang diperbaiki. Karena langit-langitnya harus diganti. Karena celah yang menyebabkan air berkumpul dan membuat rangka kayunya lapuk dan rusak.

Selepas Maghrib. Mengantar kawan ke rumah sakit. Entah kenapa harus bernama rumah sakit. Kenapa tidak rumah sehat, atau rumah perawatan. Pertanyaan ini sempat kami perbincangkan sembari menunggu giliran.

Setelah mendaftar, kawanku mendapat nomor antrian ke-5. Karena tidak tahu. setelah 4 langsung ke 6. Ternyata setelah diberitahu, berkas pendaftaran harus diberikan dahulu.

Pasien nomor 6 keluar. dan kawanku masuk. Berhubung di lobi itu ada fasilitas sinyal wifi cuma-cuma, aku pun menunggu sambil berinternet ria. Lebih tepatnya memperbaharui aplikasi perangkat bergerak.

Kawanku keluar, dan dia harus cek darah dahulu. Ada dua dugaan yaitu tipes atau demam berdarah, setelah mengambil darah kami pun menunggu kembali. Kurang lebih 30-40 menit lamanya. Kawanku duduk dan aku menuju warung. Mengurangi masamnya mulut.

Setelah bergabung lagi. Ponsel kawanku berdering. Dan diberitahukan untuk mengambil hasil dari pengecekan darah. Kami menuju laboratorium yang tadi. Letaknya di lantai bawah kami.

Hasil tes sudah di tangan. Bagi kami yang kurang mengerti. Dari hasil tersebut banyak negatifnya. Kira kami pun serupa.

Lalu kawanku ke ruang poli umum lagi untuk membaca hasil cek darah tadi. Aku menunggu di luar di ruang yang tadi juga.

Kali ini aku tak hanya duduk-duduk. Ku memperhatikan sekitar. Dan mataku tertuju pada seorang perempuan muda yang sedang menimang bayinya dengan wajah yang sumringah. Sekelebat pandanganku itu, ingatanku melayang menembus tembok-tembok rumah sakit, hahaha. Pada sosok yang begitu kurindukan. Hmmm. Serupa…. Ah sudahlah. :p

Dan kawanku keluar dari ruang periksa. Dia bilang bahwa demam berdarah positif. Ternyata dari pemeriksaan tersebut trombosit darah kawanku tersebut turun. Kurang dari 150. normalnya adalah 150-berapa itu.

Dan kami menuju apotik untuk menebus obat. Dan membayar biaya pemeriksaan. Kawanku dianjurkan untuk rawat inap. Tapi masih menimbangnya. Dokter pun tak melarangnya, hanya menganjurkan untuk kembali lagi mengecek kadar trombosit darahnya.

Pelunasan dan penebusan obat. Kami kembali ke kontrakan

Bubur nasi, suwir ayam, jus jambu jadi menu makan malamnya sekaligus obat-obat tadi. Semoga lekas sehat kembali bang Bedhu. Amin.

Dan untuk cerita yang kurindukan dengan tebal. Di tasku kini ada harta karun. Apa itu? Rekam jejak berupa gambar-gambar dari seluloid yang telah dipindai di markas anak Lomo. Baik-baik kamu di sana. Semoga sehat bersahaja selalu.

Seberang taman siswa_januari 18/13 lalulintaslalulalang
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s