Hampir

Hari hampir berganti, kamar tengah mulai ramai orang dan barang. Bersiap-siap, menyiapkan.diri dan segala kebutuhan. Kami berencana menuju dataran tinggi di selatan. Kawasan Eko Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunung Kidul. Menuju Tepi.

Perjalanan malam, menggilas jalanan basah sisa turunnya hujan. Tujuh orang dengan berkendara dengan empat motor. Berangkat meninggalkan kontrakan hampir jam sebelas, sejenak berhenti mengisi bahan bakar.

Kami sampai pos masuk gunung api hampir pukul 12 malam. Parkir ramai kendaraan. Suara ramai orang-orang bernyanyi juga terdengar, mungkin dari mereka yang sedang berkegiatan kemah.

Disana, setelah membayar tiket masuk malam perorang Rp. 5000 (kalau siang katanya Rp. 3000, dan untuk permotor dikenakab Rp. 2000.

Kami mengawalinya dengan melingkar, memanjatkan syukur dan pengharapan. Semoga perjalanan menyenangkan dan dilindungi Sang Pengembara. Sorak diperhalus dengan tangan-tangan menjulur ke tengah lingkaran. Sssttt… Hooo….

Menapak, mengayunkan langkah meraba gelap hari yang masih dini. Menggunakan cahaya bantu dari senter, perlahan, pos satu, pos berikutnya, dan berikutnya di lewati.

Hampir 1 jam lebih dalam perjalanan yang santai, dan melewati jalur yang beda. . Seingatku perjalanan menuju ke atas tidak melewati jalur yang membuat kita harus merayap sebentar di batu seperti seekor iguana. Tapi tak jadi masalah juga, ini bukan salah jalur, namun beda jalur, yang pada akhirnya tetap bertemu dengan jalur yang (resmi) sering digunakan. Ini adalah perjalanan ku kedua ke gunung api purba. Kunjungan pertama pada siang hari, dan jalur amat jelas terlihat.

Mendekati puncaknya, bebatuan besar-besar kanan-kiri. Wangi asap kayu bakar sudah tercium, cahaya-cahaya redup mulai kelihatan. Pertanda ada kumpulan. Satu, dua tenda terlihat. Sahut sapa terucap, akhirnya kami sampai ke tempat tinggi sebelah selatan. hampir dua jam. Syukurlah.

Ada dua lingkaran disana, dan satu tenda yang berdiri gagah siap memuja angin.

Lengkap sudah lingkaran kepala. Kami menggelar alat masak. Merebus air dan menyeduh kopi. Beralaskan batu dan beratapkan langit, berdinding luas berbatas pandangan. Cahaya genit berkedipan. Kerumunan cahaya dari kehidupan koloni perumahan. Lampu berbaris bergerak dari kendaraan yang meliuk-liuk. Lampu pemancar sinyal dari tiang-tiang tinggi. Kami melingkar, berbincang apasaja, merayakan apasaja, mempertanyakan apasaja. Mengunyah kudapan, menghisap sigaret. Cerahlah langit yang baik menemani gelap ini.

Kami lanjutkan mencari lahan untuk mendirikan tenda. Arah ke utara kami berjalan meninggalkan tempat tinggi tadi. Sekarang kami sampai di deretan tenda yang sudah lebih dulu berbaris rapi. Orang-orang berbincang, api unggun menari mencipta bayangan.

Setelah lihat-lihat, dirasa-rasa dapat juga kami lokasinya, dekat dengan deretan tenda tadi. Masing-masing memegang peran.Mendirikan tenda, menggelar matras. Meracik api untuk kayu bakar yang dibawa dari bawah, diolah menjadi api unggun.

Dan alat memasak pun berkobar, merebus air untuk kopi dan mie. Kopi memutar, menjamah setiap bibir. Mie rebus bergantian dinikmati bergiliran. Waktu beterbangan. Azan subuh terdengar. Fajar akan datang, pagi akan tiba, sebentar lagi terang. Bintang gemintang yang mendekorasi langit-langit mewakili rembulan yang absen mulai berpamitan.

Cahaya indah mulai tampak, meski terhalang bayangan gunung sebelahnya. Semburatnya melayang-layang. Orang-orang berdatangan, menyambut datangnya terang. Mengabadikan momen dengan alat rekam. Beramaian, sendiri, bergantian.

Kabut datang dan pergi. Putih, berwarna datang silih bergilir. sinarnya makin terang. Tulisan makin kabur. Mata mulai merasa berarmt. Berbaring. Hampir tidur, lebih mirip tidurnya ayam.

Hampir jam delapan. Aku terbangun. Tenda sudah rapi masuk ke kantungnya. Tas-tas sudah berdiri. Muatan bekal sudah diposisinya. Kami akan kembali, dengan mengawalinya lagi, dengan syukur dan pengharapan. Perjalanan turun hampir biasanya lebih cepat, agak lama karena berfoto ria.

Sampailah kami di pos masuk. Menghela napas sejenak dengan urusan masing, cucimuka, urusan belakang. Dan sebagainya. Dengan sisa-sisa suara, sisa-sisa tenaga kami pulang. Tiba dirumah dengan hati lega. Wajah lelah dengan senyum merekah. Lapar kantuk harus dilayani segera.

Sampai berjumpa lagi di perjalanan berikutnya kawan. Menuliskan coretan, dengan terima kasih. Teguran bisa datang dari mana saja. Hampir saja.

Kamarhitam, januari13/13-putaran kipas dan teguran
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s