Kamboja

Memang, sudah lama rasanya mengasingkan diri dari pergaulan pasar. Malam ini berkesempatan mengunjungi pasar tersebut, yang digelar hanya ketika malam hari, karena siang hari tempat tersebut dijadikan lahan parkir mobil pasar besar Beringharjo.

Mampir dulu mengambil film yang dari kemarin di cuci. Ketika melihat hasilnya, sayang sekali dua gulung film ternyata tidak berhasil menunjukan gambar negatif, hanya gelap yang di dapat. Padahal ada foto acara kawan yang menikah. Ya itulah resiko. Bagaimanapun juga.

Sampai di pasar senthir langsung menyandarkan sepeda di tempat biasanya. Menuju lapak pedagang langganan. Bersalaman, bersaoa kabar. Sambil berbincang-bincang ku melihat gelaran dagangan yang dijejer rapi. Namun tak ada sesuatu yang bisa dibawa pulang. Setelah berpuas mengelilingi lapak-lapak lainnya di pasar. Aku menuju ke depan benteng Vredeburg untuk duduk-duduk, baca-baca buku, minum-minum kopi.

Di bawah pohon kamboja, di bangku panjang. Dekat motor yang berbaris. Dekat mobil yang berjajar.Melanjutkan cerita Bekisar Merah ditangan, berteman kopi capucino berharga tiga ribu.

Dua orang kawan datang menemani. Ilham dan Uci. Mereka membawa buku juga. Dari pasar senthir juga.

Kami membaca buku masing-masing. Habis baca kami bercerita tentang pesan yang tersimpan, minuman-minuman kelucuan. Kelakuan jaman jahiliyah. Terkekeh-kekeh jadinya.

Ya malam yang singkat. Keluar dari zona nyaman biasanya. Membuat zona nyaman lainnya, yang mungkin bagi sebagian orang, tempat ini tak termasuk dalam kategori tempat yang nyaman untuk membaca, berbincang.

Mempertanyakan malam, wangi menikmati kembang kamboja yang jatuh. Mengendusnya seperti kumbang yang lapar. Melihat ada pasangan yang menikmati hubungannya cinta. Juga pasangan yang sedang menguji sebuah jalinan.

Dalam pelukan lampu merkuri berwarna kuning dan gemintang yang bersembunyi. Kata-kata berlari, kalimat-kalimat berkejaran. Memutar pandangan, melempar kerinduan, menarik oksigen yang dalam.

“Makin sungkan kamu menerima akibat perbuatan sendiri, makin berat beban batin yang akan menindih hati.” begitu penggalan kalimat Eyang Mus pada Darsa.

Dan kembang kamboja satu per satu mencium bumi.

Vredeburg, Januari11/2013- suara Ilham dan Uci
Anakwayang

2 thoughts on “Kamboja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s