Cinderamata

Kembali menggulirkan roda-roda langsing menyapa jejalan kota di siang  yang lagi cerah. Mengantungi daftar tujuan. Berawal dari empat gulungan film dari yang di bungkusnya tertulis bulan September lalu. Sudah hampir empat bulan ternyata film-film itu mendekam dalam laci.

Setelah dari Central nama toko itu. Aku menuju ke pasar yang terletak di pusat perekenomian jalan legendaris Malioboro. Beringharjo. Hendak mencari tahu harga cinderamata yang akan dijadikan buah tangan seorang kawan. Dari los satu ke los lainnya ku cari apa yang sesuai, apa yang diinginkan kawanku. Setelah rasa cukup, aku mengakhiri petualangan di lorong-lorong kecil pasar besar dengan mengantungi tiga kartu nama pedagang, hitung-hitungan rupiah, dan beberapa gambar yang sempat kupotret agar kawanku dapat memperkuat pilihannya.

Setelah dari pasar, aku melipir. Mampir sebentar melihat-lihat lapak kaset yang letaknya seberang pasar. Mengobrol dengan pedagangnya mengutarakan sederet nama grup musik, penyanyi di dalam kepalaku, tidak ditemukan nama-nama tersebut dalam tumpukan, dalam baris demi baris kaset yang digelar. Nama-nama di luar kepala juga tak berhasil menggodaku untuk mengeluarkan rupiah dari kantungku. Lain kali coba lagi.

Dari lapak kaset, aku menuju ke pusat buku-buku di selatan Taman Budaya. Seperti halnya kaset ada berderet nama di kepala yang akan kuucapkan jika para pedagang menanyakan. Dari kios tengah ke kios utara. Balik lagi ke tengah sapa- menyapa. Suara pria dan wanita gonta-ganti bertanya. Ku jawab nama-nama tadi juga. Belum ditemukan.

Menuju kios paling pinggir selatan. Bingo! dapat satu, =) Penembak Misterius berhasil ku temukan. Makin ke pinggir. Lagi, Iblis Tak Pernah Mati bersemayam dalam tas. Aku sudahi petualangan bukunya. Melihat lembaran dalam dompet, baiklah pulang akan baik kiranya. Lagi mata masih saja menempel pada buku-buku di tumpukan, sepanjang jalan menuju tempat kusandarkan sepeda. Beruntung tumpukan-tumpukan itu berbaik padaku, kumpulan syair-syair ikut pulang bersamaku.

Di samping sepeda parkir. Kubuka acak lembar demi lembar buku-buku tadi. Mengatur pola napas. Pandangan ku melebar kemana saja. Langit mulai manja, warnanya jadi jingga. Kuputuskan kembali ke kontrakan. Semoga jalanan sore kali ini tak banyak serigala yang kutemui.

Dalam perjalanan pulang, kaki yang berputar berhenti di lokasi dekat stasiun, bawah jalan layang. Di tempar itu jka sore hangat datang, banyak orang tua yang mengajak buah hatinya melihat kereta. Tak hanya keluarga muda-mudi pun tampak disana, penjaja mainan, dan makanan.

Bercerita diatas jejalanan, lorong pasar, lapak kaset, kios buku, dan rel kereta. Dari dan menuju senja. Derunya, sunyinya, satu dari sekian banyak jenis Cinderamata? =)

Kamarhitam, januari10/2013- fstvlst
Anakwayang

2 thoughts on “Cinderamata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s