Pintu

Duduk-duduk di kursi.. tidur-tidur ya di kasur.. Timur bernyanyi dengan percaya diri walau dia percaya suaranya sendiri adalah petaka bagi orang lain. Lagu berjudul Cinta Chrisye yang dibawakan oleh the panasdalam ben keroyokan dari bandung.

Dan suaranya Timur saat itu menyakinkan bahwa dia sedang mengidap panas di bagian dalam. Disana, di studio mini miliknya, bukan sendiri. Setidaknya untuk beberapa bulan yang akan datang. Studio yang di sewanya dari seorang juragan perumahan. Timur duduk-duduk dikursi sudut studio, sambil menggenggam buku cerita, kopi di meja belajarnya tinggal setengah. Sigaret kretek asapnya membumbung, membumbung, dan membumbung meninggalkan asbak.

Tuk.. tuk.. suara pintu diketuk, “Assalamualaikum.”
Tuk.. tuk.. suara pintu lagi diketuk, “Assalamualaikum”
Dok.. dok.. dok… suara pintu makin diketuk, “assalamualaikum timur oh timur, bukakan pintu!”

Pada ketukan ketiga timur yang mendengarnya, lalu menjawab santai,
“Waalaikumsalam. tolong sebutkan password nya dahulu!”. “Endyasmu!” Timpal Utara
“Ya silahkan masuk saja, pintu tak dikunci.
“Wooo” Masuk deh, si utara bareng bunyi kreeek… braaaaaak…
Didapatinya si Timur karibnya itu sedang duduk-duduk melemparkan senyum sembari menyambut dengan tanya, “dari mana oh karibku?” Utara merebahkan diri ke kasur ya buat tidur-tidur. “aku dari tempatnya Selatan, minjem kaset The Doors, Lagi pengen denger Jim Morrison bersenandung versi pitanya. Apakah tetap berwibawa seperti versi digital atau lebih?”
“hmmm..” tanggap si timur.

Lalu The panasdalam tetap berkumandang pelan-perlahan, Timur lanjut membaca buku, Utara membuka kaset yang boleh dipinjam itu, melihat kovernya.
“Ini The Doors terinpirasi bikin nama band kayak gini dari mana ya? Hmm… Dapet ide dari mana coba? Trus maksudnya apa? Hmm..” gumam Utara.
Si Timur malah bernyanyi sembari mengikuti vokalis The panasdalam; “Dulu cari yang sudah kerja, kini banyak kerja suami dicerca.. Bangkitlah suami Indonesia. Rebut surga di telapak kakinya.. mereka ingin uang.. menunggu lilin tak mau”
“wong edyan!” Utara tertawa.

Utara dan Timur, dua karib dengan sengaja berkenalan di sebuah konser musik, akhirnya setelah banyak mengobrol dan sering bertemu di konser-konser yang itu-itu juga di Jogja. Mereka pun semakin menemukan ketidaksamaan pada diri mereka masing-masing. Dengan segala yang tak perlu ditimbang-timbang mereka akhirnya merasa cocok-cocok saja untuk berkarib, tanpa perlu repot-repot melihat dari sisi mana apalagi dari segi.

“Guk.. guk.. meong.. Aku ingat, belum dapet pintu buat kamarku.” pancing Utara.
Ujuk-ujuk persoalan pintu dimulai, jadi ternyata cerita punya cerita, pintu kamar Utara rusak, jebol. Utara sudah mencari dan kecewanya pun bersambut kecewa. Pintu sekarang mahal untuk kantung seukuran pekerja santai, padahal bekas. Kalau mau bikin sendiri, butuh waktu sama keterampilan, Utara punya waktu tapi tidak punya keterampilan. Bikin rak buku saja miring-miring begitu. Pintu berbahan benar kayu mahalnya, bekas saja dibuka harganya 500 ribu belum ditawar, kareba takut. Itu baru pintunya belum sama kusen, belum gagang pintunya, belum ukurannya pas atau tidak. Kalau kayu triplek, jelek, gampang hancur. Kalau beli baru boleh memesan, mahal lebih juga.

Mendengar si Utara mencurahkan keluh perihal perpintuan, Timur pun berkomentar “Duh sakit perut, sebentar ya. Efek kopi sama pintumu ini.”
Timur menuju kamar air. Utara pun mencoret-coret mencoba mendesain pintu dari ukuran hingga model.
Timur pun datang sehabis menyalurkan sakit perutnya yang tergolong jenis mules.

“aku menemukan ide.”
“Memang bisa nemu ide ya kalo sakit perut?” Sela Utara
“hmm.. silahkan dicoba. “ tantang Timur sambil cekikikan
“Gini, ra, kamu butuh pintu yang bagaimana? Bukankah pintu adalah bagian yang bisa terbuka dan tertutup jika kita atau angin mau, nah tak perlu bimbang apalagi risau, tambal saja dengan triplek lalu hias dengan poster konser-konser, atau mungkin poster Jim Morisson yang bertelanjang dada itu. Biar orang-orang tahu bahwa itu pintu terinsipirasi oleh The Doors. Bagaimana, hah hah?”
Utara diam, dicoret-coretnya lagi coretan pintunya tadi, ternyata pintumua hanya jebol bukannya dodol.
“oh iyaya murah lagi nuansamatik” Persoalan pintu diakhiri, tanpa ketuk pintu apalagi palu.

“Gantian, kecilin itu the panasdalam.” Utara merajuk. Utara memasukkan kaset The Doors milik Selatan ke dalam pemutar kaset milik Timur. Di putar volumenya hingga terdengar.

“This is the end
Beautiful friend
This is the end
My only friend,
the end ”

Maka daripada itu kamu janganlah suka membantung pintu. Timur pun tidur-tidur ya di kasur

Teratai1_januari3/13+thepanasdalam
Anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s