Taman

Bunuh diri di taman.. Ooo.. Ooo.. bunuh diri di taman. Begitulah kami menikmati bintang dalam gelas-gelas pekat. Mencumbu bulan dengan obrolan-obrolani kisah sehari-hari. Menertawakan malam denga kisah-kisah kelaluan dan kekinian. Membiarkan langit terang lampu jalan dihiasi asap dari sigaret rasa rindu. Deru keluh kesah yang dibakar waktu. Disana kami biasa mengertinya dengan sebutan. Taman.

Semenjak masih berseragam yang sama, kami sering berkumpul berkisah tentang cinta, tentang derita. Hingga kini kami yang sudah menolak seragam, karena pengaruh kepakan sayap masing-masing yang memilih terbang menikmati proses masing-masing. Taman seakan selalu hadir, disela obrolan kabar, pesan singkat maupun jejaring sosial. Taman belum hilang begitu saja. Sebagai tempat mendarat yang asik. Bisa juga tempat landas yang unik. Taman tetaplah taman. Sampai saat ini.

Silahkan membayangkan taman yang selayaknya sebagaimana taman. Rumput hijau membentang, kursi-kursi panjang, bunga warna warni semerbak, kocar-kacir bocahnya yang berlarian penuh tawa, dan ketika terantuk lantas menangis. Silahkan saja, dan kalian akan melenceng dari perkiraan. Hehe.

Taman itu, letaknya (mungkin) di tengah komplek perumahan,  berjejer kios macam-macam yang bersanding dengan pohon-pohon rindang namun resah. Dari penjaja siomay hingga bensin eceran. Dari makanan yang ringan hingga tempat pencucian.

Posisi kami pun bergeser, dari dalam lingkaran taman menjadi di pinggiran taman. Tapi masih dengan kios yang sama. Masih bagian taman juga. Sekarang memandang taman. Nyatanya angin, debu, hujan dan nyamuk-nyamuk mabuk masih setia menemani.

Bagaimana kencangnya pembangunan fisik mempengaruhi. Tundalah dulu jiwa yang berubah menjauhi. Taman tetap dengan lapang udara bersedia kami lempar dengan lelucon-lelucon, berserah dibanting kartu. Senyap menatap ditabur sendu.

Taman tetaplah taman, sebuah titik memulai, mengakhiri sesuatu. Tempat kami berhaha-hihi. Menyanjung dan mengumpat pujaan hati, berdiskusi tentang langit serta bumi. Menyebarkan virus petualangan dan keindahan, dan hantu-hantu juga, dan sebagainya, sebagainya. pula pernah menjadi tempat rembug setelah sok-sokan berkelahi. :))

Kini para penghuni taman sudah berkegiatan macam-macam. Aku masih saja berkutat degan bangku perpustakaan dan diktat-diktat. :p seiyanya bagiku taman tetaplah taman. Sebuah ruang rindu dari banyaknya ruang yang mengisi kepalaku, dari ruang kelas, kantin, warung engkoh, jejalanan berlubang, hingga petak kamar kawan-kawan

Perihal rindu. Selalu ada saja waktu, juga luang porsinya, bukan begitu? :D

Ayo kita ke taman? :D

Teratai1-januari2/13-daftarmain acak
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s