Pada Suatu

Pada suatu pagi yang tidak sekali. Sepulangku dari berkelana dalam perjalanan tidur. Matahariku sudah di singgasananya, mengolah berbagai macam bahan untuk dijadikan semacam karya yang enak di lidah. Pas di perut. Matahariku yang satunya lagi sedang bermain dengan si cemol anak kucing gang. Yang kakinya terkilir, sehingga berjalan dengan tiga kaki yang aktif. Matahariku yang satunya lagi masih berenang dengan mimpinya di kolam tidur.

Aku bergegas masuk kamar air. Kamar yang tidak cocok untuk tidur apalagi menonton tivi. Kalau mau mencari ide di kamar itu boleh jadi. Setelah selesai dengan urusan perairan. Aku memulai hari dengan menyapu lantai.

Lalu membaca buku di lantai dua. Ku seduh kopi campur gula juga susu, memakan kudapan ringan berbahan melinjo, dan sebuah buku. Setelah ritual menikmati kopi. Ku turun ke lantai satu. Kudapati matahariku yang bermain dengan si cemol tadi sudah lelap. Pastinya karena kantuk, bisa dari pengaruh obat yang diminumnya. Aku meneruskan baca. Kali ini dibisiki berita di layar kaca.

Setelah waktunya tepat. Aku pun bergegas menikmati karya matahariku. Yang berefek perut kenyang. Mahariku yang berenang juga terbangun karena kira cukup waktunya. Buku masih di tangan. Dengan pensil juga bayang-bayang.

Hari beranjak sore. Kami pun memperbaiki sistem perkabelan di bumi teratai. Setelah rampung. Aku didaulat mencari panganan beda untuk dua matahariku yang sedang berpuasa. Hujannya turun aku, aku berangkat, itulah kegunaan mantel bukan.

Sebungkus tulang berdaging serta kuah. Sepaket daging tusuk, dua bungkus kelapa cungkil, dan beberapa potong gorengan. Ada buah-buahan juga. Setelah berbenah, dan siap, kumandang azan masuk di telinga. Waktu yang berpuasa, menyantapnya. Dan aku turut menyemarakinya. Kami bersantap.

Sungguh bagi kami bersantap bersama adalah berkah. Karena kami dari penjuru angin yang berbeda. Aku dari timur. Dan sebagian lain di barat dan selatannya. Hari-hari ini adalah tidak biasa.

Semalam, orang-orang dengan caranya orang-orang, menikmati sebuah perhelatan awal tahunan. Aku berani-beraninya (me)luntur(kan) aku, melenturkan waktu untuk dapat menikmati hari-hari bersama matahari-matahariku. Ya karena aku bukanlah siapa-siapa. Ketika aku siapa, bisa jadi aku adalah penakut. :D

Malam beda kalender itu pun kami bersama, melanjutkan detik dengan memanjatkan syukur yang amat. Di atas bumi teratai, bersila dan melingkar dengan lingkaran kami. Langit malam itu basah, toh tak jadi soal. Langit dipenuhi kembang-kembang yang terbang. Bumi bersorak dengan suara riuh menyerempet. Tepuk tangan yang menggetarkan. Peluk kasih dan harap yang dikumandangkan. Banyak yang menuju ramai. Banyak juga yang menyepi. Dan aku sekarang diantara mereka-mereka.

Hari ini. Setengah abad beliau, matahariku yang berbakti dan akan terus berbakti. Bagi dirinya sendiri, untuk keluarganya, dan juga sekitarnya. Aku anak lelakimu bersujud atas semua yang telah engkau persembahkan. Terimakasih yang besar, besar sekali kepada Yang Maha Besar. Semoga tercurah kasih sayang Penguasa Hati untukmu. Semoga hari-harimu di berkahi yang Maha Seni, Aku terlampau kecil di hadapmu, dan takkan menjadi apa-apa tanpa campur tanganmu.

Inilah bekalku, apa arti “baru” jika kita ternyata masih “selalu”. :)

Semoga lebih baik lagi.
Selamat hari jadi untuk matahariku. Dihari ketika masehi berganti angka. 50 tahun yang lalu beliau menyapa dunia. Semoga sehat dan lekas pulih ya pak. Amin.

Teratai1_januari1/13- nirswara
anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s