Bis

Bandung pagi itu cerah betul, aku sempatkan menikmati kesempatan yang jarang itu dengan berjemur di depan kost-an mas Riski. Setelah itu baru mandi, dan menikmati kopi. Lanjut mewujudkan rencana yang tertunda semalam. Karena cuaca Bandung semacam ingin dibilang sering, bila sore tik tik bunyi hujan diatas genting.

Kemarin berkereta, hari ini berbis niatnya. kesana-kemari-nya bisa naik motor, motor milik mas Riski, motor bernama blackjack ngong ngong.

Setelah bergegas mandi dan minum kopi. Rencananya akan ke toko buku depan Bandung Indah Plasa, yang saya baca informasinya sedang ada program potongan harga. Lalu menuju Braga untuk mengantungi film. Kemudian ke kebon kalapa mencari buku bekas, sekiranya jodoh bisa membawa pulang kaset pita juga.

Setelah bergelut dengan kendaraan yang ramai di jalan tiba kami di toko buku. Naik lantas turun, putar sana-putar sini, Setelah bingung, tak ada buku yang berhasil menarik hati. Kami menuju destinasi berikutnya. Kami putuskan untuk menunda ke Braga.

Matahari sedang imut-imutnya dan mas Riski menyesalkan telah salah berkostum. Ia menggunakan jaket.hitam, rasanya dia bilang “seperti di sauna” haha biar langsing seperi saya dia. Tapi itu sepertinya hil yang mustahal. Hehe.

Baiklah, kami meluncur ke kebon kalapa. Buruknya jika kami melincur ke kebon siapa. Tidak lama juga sampailah kami di daerah berikitnya. Nama tempat/jalannya saya lupa, mas Riski yang mungkin ingat, coba tanya dia.

Disana banyak lapak penjual buku, yang berdempetan menjajakan tumpukan buku agar berubah menjadi tumpukan uang. Dengan kompak mereka “meminjam” sebagian jalur pedestrian.

Dimulai dari lapak sebelah kiri saya. Bergeser dan bergeser, buku yang dicari sedang kosong, entah kosong bukunya atau kosong lembarnya karena belum ditulis. Mereka selalu bilang “wah kosong”. Sempat ditemukan jenis buku yang sedang ku cari, namun sayang untuk judul itu saya sudah punya.

Perburuan tetap berlanjut hampir satu jam kiranya bergelut dengan buku dan majalah. Ingat coba ingat, tawar coba tawar, saya dapat tiga buku yang rela ditukar dengan rupiah.

Setelah kantung bernapas, kami pun menyeberang ke lapak pedagang kaset pita. “Pink Floyd ada kang?” tanyaku. Lagi harus menelan rasa penasaran. Memang untuk kaset dari ben yang satu itu sulit-sulit gampang rasanya. Sulit bagi yang kantongnya seukurun Nobita seperti saya ini. Gampang bagi mereka.yang berkantong Doraemon.

Bertanya beberapa nama? Dari Franky hingga Rage Againts The Machine. Dari sederet nama yang ditawarkan pedagang itu sudah saya miliki. Ya sudah, dengan cermat kutatap kaset yang berjejer rapi. Dan pilihan pun jatuh jua. Tawar menawar harga pun tak langsung tancap gas. Sebentar sambil melaksanakan ritual wajib mencicipi kaset dengan pemutar.  Kesepakatan harga didapat. Dua kaset bisa pulang bersama saya naik bis nantinya.

Dan petualangan buku, musik, cukup dulu. Kami lanjut ke jalan menuju terminal leuwipanjang untuk apa? untuk memilih bis yang sedia mengantar saya mendekati rumah di desa.

Mas Riski pun mengantar hingga mulut terminal sebelah depan, setelah bersayonara, saya masuk terminal, mas riski tidak, dia masuk kembali ke lautan kendaraan. Terimakasih mas riski untuk segala-galanya. Lain waktu lagi ya. Mumpung masnya masih di Bandung. Dan mumpung Bandung belum pindah.

Duduk di tempat tunggu. Sebentar melihat sekitar. Ada bis yang sebenarnya bisa dengan rela mengantarku lebih cepat. Non ekonomi begitu tulisannya. Tentunya dengan harga yang lumayan mahal, 50 ribu beserta pendingin udara, toilet, dan bangku lega. Namun lagi-lagiku saat itu tak jua rela, haha.

Pilihan pun jatuh pada teknik sambung menyambung. Primajasa jurusan Bekasi menjadi bis pertama. Yang akan mengantarkanku hingga pintu tol. Dan aku harus turun lanjut naik bis berikutnya sebelumnya aku harus menyerahkan 20 ribu dalam rupiah saja kepada kondektur yang baik hati sudah memberi karcisnya.

Bekasi saat  mendung dan sedikit gerimis. Ya ini adalah resiko bajing lumpat. Mau tidak mau kebasahan bila hujan. Berharap dalam hati segera datang bis selanjutnya.

Belum sempat menghitung domba. Tampak muka bis yang ditunggu, aku pun segera naik. Melihat banyaknyaa peminat aku sempat mengendur. Tapi diyakinkan kembali sama sang kondektor. “Masih kosong kok bang, ayo ongkosnya 8000.” dia kata. Dan aku coba percaya.

Dapatlah duduk walau bukan posisi favoritku. Tentunya aku atau siapa kalian punya posisi favorit. Apapun alasan kalian. Dan untuk bis, saya lebih senang duduk di deretan belakang sekali atau depan sekali. Karena kakiku pasti akan merasa lega jika disana, bisa selonjoran. Untuk sekarang,  sebaiknya jangan menunda, sore makin sore terasa. Dan rintik semakin genit menggoda. kuterima tekuk kaki.

Selama perjalanan banyak yang berdiri dalam bis tapi lebih banyak yang duduk. Ada penyanyi asik membawakan lagu Iwan Fals. “Kereta tiba pukul berapa” sama “Sugali” membuatku beryanyi dalam hati. Aku tak ragu memindahkan rupiah dalam kantungku ke kantung mereka. Walau aku bisa mendengar versi suara Iwan Fals dalam bentuk digital. Namun versi live para penyanyi bis beda tentunya. Dan untuk perihal mereka yang bernyanyi dengan segenap hati, saya dengan pun senang hati. Jikalau bernyanyi sembarangan lebih cocok jadi pengancam. Maaf lain kali saja.

Perjalanan dengan bis berakhir, berganti dengan angkutan kota empat diseberang enam, enam dibelakang sopir, dua sejajar dengan sopir. Dua kali naik angkot beda warna. Dua kali bayar IDR 3000 juga.

Selama perjalanan itulah jika kita sedang melek dan mata tidak membaca buku. Jadilah dia potret panjang. Tanpa putus, bisa.berpindah dari hamparan sawah hingga gedung bertingkat mewah.

Sampai juga di desa. Mampir sebentar menukar dua ribu rupiah dengan tiga pisang molen, dari pedagang yang aku sering sapa sejak masih SMP dulu.

Dari zuhr – hingga maghrib. Perjalanan dengan angkutan umum membutuhkan sekitar lebih kurang 400 menit dari terminal hingga depan rumah. Bapak, emak dan adek sudah menunggu dan kami bersatu. :)

Jika bahagia yang kamu cari, tak perlu jauh-jauh. Di keluargamu ada itu. :)

Terataisatu_30-31/12
Anakwayang

2 thoughts on “Bis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s