Askar!

Benar saja langit sore itu sedikit muram. Tak seperti biasanya. Askar tak tahu betul kenapa ia masih disini. Barang-barang yang sudah dibungkus rapi pun ia bongkar lagi. Askar termangu.

Nah, tak disangka Askar menemukan selembar foto. Agak rusak bagian bawah foto. Tapi gambarnya masih begitu jelas. Sebongkah senyum yang pernah mengiring hari-harinya.

Dibersihkannya foto itu lalu dimasukkan ke kantung jaket kumal kesayangannya.

“Askar!” Suara dari luar terdengar. “Iyaaaa” jawabnya. “Ayo kita berangkat, nanti itu sepur akan meninggalkan kita, baru kau punya mulut menyengir.” Bergegas Askar merapikan barang bawaanya.

Suara dari kawan bernama Hego kawan perjalanan Askar. Mereka sudah lama berkawan. Hego akan mengajak Askar menuju kota tetangganya tetangga. Kota yang ditengah letaknya, jika dilihat pada kertas dari atas.

Mereka memberhentikan becak. Untuk jenis moda satu ini masih bebas berkeliaran di kota kesayangan mereka berdua. Mereka duduk tanpa batas, sejajar, begitu romantika yang sering tercipta oleh dua bedebah kecil yang sering mengacau bersama. Lambatnya laju becak. Membuat mereka bertatapan lalu lantang suara tawa memecah jalan. Semoga perjalanan ini membuat kita tahu rasa. Tahu rasa.

Depan kos kawan yang mau pulang kampung_ romantika pelajar lama. Suara Nike Ardile dari kamar sebelah. 1311.

anak_wayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s