Semoga Lekas Pulih

Pulang, ya saya harus pulang, begitu benak bicara. Setelah beberapa kali mengantri akhirnya dapat tiket Kereta Kutojaya Selatan Jurusan Kutoarjo – Kiara Condong Bandung. Dari Jogjakarta ke Bandung tiketnya habis. Jadi naik Prameks ke Kutoarjo, sampai Bandung lalu naik apa saja menuju Purwakarta, menyusul mama yang sudah di tempat bapak.

Setelah mendengar kabar bapak jatuh dan mama jadi bingung, saya bertekad pulang, saya ingin menengok semua. Saya coba cari tiket kereta, betapa susahnya tiket kalo sudah dekat hari keberangkatan tanggal 24 oktober, setelah bolak-balik, akhirnya dapat juga. Berangkat 04.00 pagi diantar oleh kakangku Fuad setelah nonton bareng tim kegemaran kami. Jalanan jogya masih sepi, kami tiba di stasiun Tugu, saya naik kereta Prameks jadwal pertama tujuan Kutoarjo, tak lama, Fuad pulang. Loket dibuka, dan kereta berangkat.

image

Tiba di kutoarjo sekitar jam enam kurang. Saya memilih bangku untuk berbaring, kereta Kutajaya Selatan berangkat masih nanti pukul 8.35. Setelah beberapa kali mendusin, matahari makin serong menyinari saya, saya pindah posisi. Kemudian ibu pedagang membangunkan saya. Kaget bukan main, ibu menayakan tujuan saya, dan memberi tahu kereta yang saya tunggu sedang mengambil posisi, segera saja kusiapkan diri.

Saya memutuskan untuk bermalam di Bandung, ditempat Kantjoet. Bapak mama pulang terlebih dahulu ke Tangerang. Menyusul pagihari saya dan Kantjoet pulang, naik bus menuju Tangerang. Beberapa jam berlalu, sampai juga di depan rumah, ada mama yang sedang mengobrol dengan temannya. Mencium tangannya lalu masuk ke rumah, bapakku sedang menonton teve, mencium tangan, mengobrol singkat, lalu bergegas membersihkan diri. Bandung selalu berhasil membuatku anti air.

Setelah mandi, saya makan di dapur, mama menghampiri. Bercerita mama ketika sepulang dari pasar tadi pagi, melihat bapak menangis, “di rumah hanya ada kamu” kata bapak pada mama. Astaga. Saya terdiam, bapak bilang begitu, bapak pasti rindu sekali, teramat, dengan sepasang anaknya, saya beserta adik.

Segera saya selesaikan makan, lalu ke ruang tengah dekati bapak. Bapak bercerita tentang tangis pagi itu. Mama yang  menguatkannya, menguatkanku juga. Menenangkannya, menenangkanku juga. Kami bercerita apa saja, tentang sakit bapak, saking sakitnya yang sakit sehingga kadang menuju kamar mandi dengan menyeret bangku, tentang bagaimana bapak meminta mama menggunakan troli di bandara membantunya menuju taksi, tentang gerobak yang digunakan muridnya untuk mengantar bapak pulang dari mengajar, tentang adik, tentang apapun.

Akibat jatuh itu bapak berjalan pincang, begitu susah-payah, wajahnya meringis menahan sakit. Bapak jadi lebih kurus dari terakhir saya temui lebaran ramadhan kemarin. Seperti yang diceritakan mama ditelepon tempo hari. Beliau sholat dengan bantuan kursi, begitu juga di kamar mandi ada kursi plastik untuk membantunya.  Saya mengantarnya ke kamar mandi, memperhatikannya menunaikan ibadah. Kembali, pipi saya seperti ditepuk pelan-pelan, menetes, telak.

Besok sholat Idul Adha. Saya akan menemani bapak sholat. Bapak meminta saya untuk bangun lebih awal, biar bisa memilih tempat yang pas. Bapak ingin sholat tanpa bantuan kursi. Yang terbayang bagi saya adalah rasa sakit yang bukan main. Berbaring saja beliau kewalahan, apalagi sampai menekuk kaki.

Pagi datang segera setelah bersiap, saya mengantar bapak dengan motor menuju mesjid dekat rumah. “Pelan-pelan pak” sambil berjalan menuntunnya dari parkir menuju tempat yang diinginkannya, menggelar sajadah saya lalu pulang mengembalikan motor.

Duduk di kanannya. Melihat bapak memegangi kakinya terus, tongkat yang jadi teman sementara berbaring di kirinya. Takbir berkumandang. Mata saya berlinang, berlinang lagi, berlinang lagi. Berkali-kali menengadah agar tak tumpah, mengusapnya agar tak terlihat pandangnya. Mengingat kembali semuanya. Segala daya upaya, susah-payah bapak, diskusi keras kami, berbagai sajian humor, kebijaksaan, marah-sayang, romantika dan sebagainya. Saya menangis.

Seminggu kemudian, setelah menemaninya di rumah. Mama minta saya mengantarnya menggunakan motor ke Purwakarta dinipagi, ini kewajiban saya. Selama perjalanan beristirahat dua kali, ibadah subuh masjid Kalideres, dan di pom bensin Cikarang. Mama dan adik akan menyusul siang kemudian. Dan adik saya-Suza yang akan menemaninya di Purwakarta. Mama pulang ke Tangerang. Saya berat pulang ke Jogya.

image
adik, bapak, saya.

Saya, anak lelakinya. Tak berkata, tak berdaya, tak berdaya-kata. Airmata.

Ya Allah, “Ismail”kan saya, Ya Allah, “Ismail”kan saya, Ya Allah, “Ismail”kan saya. Begitu ucap-doaku terus dalam hati.

Ya Allah pulihkanlah bapak. Lekas pulih ya pak, lekas pulih, lekas pulih.
Amin.

Kamarhitam, 23okt – 3 Nov. Airnya mata. PinkFloyd, dkk.

anak_wayang

2 thoughts on “Semoga Lekas Pulih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s