Aku Ingat

Langit malam begitu cerah. Bulan lingkaran penuh ceria wajahnya. Semburat awan tipis menemani di sekitar sang bulan.

Utara berjalan menyusuri susunan memori yang sempat dibuatnya di trotoar jalan ternama itu. Baris berbaris pertokoan yang ramai pedagang kaki limanya. Berjalan, tersenyum simpul. Bagaimana ia mengingat pernah menapak jalan ini dengan sosok yang menarik hati dan menghabiskan ruang memorinya.
“Lucunya bangkaiku,” katanya sambil menarik asap melalui sigaret.

Berjalan, dan terus berjalan sembari sesekali melihat jajakan barang di emperan toko. Memperhatikan dengan seksama. Aku sedang ingin mencari gelang itu, gelang yang menurutku bagus bentuknya. Gelang anyaman, yang oleh penjualnya sering dibilang gelang papua. Setelah sekian lama melemparkan pandangan. Tak didapatnya. Ia tetap berjalan lengang.

Terhenti ia di sudut jalan. Jalan yang begitu banyak mulutnya. Duduk ia sembarang. Di pinggir pot-pot yang tumbuhan di dalamnya seperti pajangan tanpa arti. Sigaret yang lainnya ia bakar sembari melatunkan kicau. Mungkin jadi memori seperti sigaret, mudah hilang dengan dibakar. tapi terus menempel kisah di bibir berupang menciptakan asap-asap yang seringkali berwujud bayangan.

Dibuka tas kecilnya, diambil sebuah cacatan kumal yang multi tulis. Apapun ada di dalam catatan itu, dari daftar kegiatan, hingga segelintir uang yang habis digunakan dihari-hari isengnya

Dimulai dengan menerawang langit yang mulai semakin jelas. Karena lampu-lampu sudah banyak yang tidur.

Tak bisakah langit terus berbulan lingkaran penuh?
aku suka lingkaran
Kenapa bulan begitu senang berubah bentuk?

Senangnya mengintip lewat celah-celah dedaunan
diatas kepalaku kini, aku melihat tatap matanya
kenapa rindu selalu berembunyi seperti itu
aku mau tahu
aku tahu kamu

aku ingat

kamu yang pernah kudapati duduk manis dibawah pohon depan rumahmu
aku yang hanya bisa meringis, menularkan rindu di mataku.

aku ingat

Sigaret ternyata sudah mau habis. Di lihat sekelilingnya. Mulai sedikit langkah yang lewat. Mata dan mulut pun pulai berkurang jumlahnya. “Kusudahi rangkaian memori hari ini, akan kulanjutkan jika bintang sudi menari di halaman langitnya.” Utara kata.

Mejakarya. Radiohead & pancaran sinar petromak berpita. Agustus 1, 2012.

anak wayangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s