Pada Bukit dan Pantai

Pada Bukit. Sehat lalu Berbahagialah.

Mama menelepon, katanya beliau ingin mengunjungi kampung halaman menengok ayahnya, yang pasti adalah Mbah Kakungku. Mama akan berangkat bersama Budeku dari Jakarta. Aku dimintanya untuk ikut mengunjungi. Ya, jawabku. Aku akan ke sana mengendarai motor.

Aku berkoordinasi dengan teman jaga. Kuutarakan obrolan di telepon dengan mama. Dan sukurlah mereka mau bekerjasama. Pagi Pukul 10an aku rencana berangkat setelah jaga.

Hitung punya hitung setelah mampir dulu untuk meminjam kantung dan membeli film. Pukul duabelas aku baru menarik gas genggam dari motor saudara kontrakan. Sambil mengingat keras jalan-jalan yang harus kulewati, lurus dan lurus ingatku. Ini perjalanan ke-dua berkendara sendirian dengan motor menuju kota yang dikenal dengan goa dan pantainya. Sebelumnya aku pernah beramai-ramai dengan kawan angkatan perang, ketika masih muda dulu.

Dalam perjalanan aku berkawan dengan suara yang keluar dari pemutar musik, selebihnya berteman sepi. Lepas kota, jalur naik turun kulalui. Jalur yang sisi-sisinya bukit karang, bukit kapur, sawah, ladang, karang, petani. Santainya roda berputar.

Mengintip Pesisir

Melewati jalur yang pernah kulewati bersama angkatan perang. menyusuri bukit yang berjalan. Wangi laut makin keras terendus melewati slayer. bagaimana kawan seperjuangan bisa mendapat julukan si jempol. karena isengnya dia menendang batu di jalanan yang berakibat kuku kaki jempolnya sempal dan menggelembung. Pantai yang pernah kami datangi itu makin tampak kusempatkan merekamnya.

Seberang Rumah

Setelah berbincang dengan penambal ban. Jalanan kota ramai nampak. ya. tak lama lagi akan sampai. Sore pun tiba, Hijaunya menyapa. Aku sampai juga di rumah kediaman Pak LeK. Rumah Mbah persis sebelahnya. Kampung yang kelilingnya sepandang berdiri bukit-bukit. Setelah bersalaman aku menuju ruang dalam dan menaruh tas. Kulihat Mbah sedang berusaha memasang tali pada sepatu yang akan dikenakannya. Ku menghampiri, menyalaminya. Kami berusaha bertukar bahasa sambil kubenahi talinya, bahasa jawaku payah, karena yang kukuasai adalah jawa pasif.  Dengan umurnya, pendengaran Mbah berpengaruh juga. Dan aku memaklumi bahwa Si Mbah asing melihatku. Tidak hanya Mbah. Pengalaman menjadi orang asing di keluarga besar sudah sering kurasakan. Keponakanku yang mulai belajar berlari kencang itu harus berkenalan berkali-kali. Ya memang inilah resiko anak rantau.

Malamnya kami berkumpul di ruang tengah, menyantap ikan bakar dan teman-temannya. Ini daerah dekat dengan pesisir laut tentunya penghasil perut laut. Obrolan pun mengalir, dan bermuara pada pertanyaan kapan ku mengakhiri petualangan di dunia per-sekolahtinggi-an. Lagi-lagi jawabanku, kata-kataku terkonversi menjadi senyum-senyam. Malam pun berenang, menepi menuju kesunyian. Esok pagi mama dan budeku akan kembali ke rumahnya masing-masing.  Kami pun terlelap diringi senandung hewan nocturnal.

Pagi tiba, kami berkumpul lagi bersendagurau. Keponakanku bermain-main dengan kameraku. Tampaknya ia begitu menyukainya. Pak lek ku pamit berangkat kerja. kami sarapan dan kembali berkemas. Kuantar mereka menuju pool bis yang akan mengantarnya pergi. sempat sebentar mampir ke pusat oleh-oleh. Aku diberikan beberapa bungkus, keripik dan dodol, untuk iseng-iseng biar tasku membesar.

Pada Pantai. Buah Tangan Yang Tak Terduga.

Setelah pamit aku kembali berkendara menuju rantau. cuaca mendung dan sedikit rintik, tapi langit sebelah sana masih memancar sinar. aku mencoba merangkai cahayanya. oh ya terbesit penasaran, sekalian mampir membawa oleh-oleh sendiri, berupa beberapa frame film dalam kamera. aku mulai menjelajah. Ku lewati jalan pergi kemarin. Merekam jalanan yang masih sepi atau memang selalu sepi. Beberapa kendaraan yang tampak tak banyak menuju tempat yang belum pernah kukunjungi.

Rimbun Jalan

Tujuan pertamaku adalah pantai Srau. aku tak pernah mengunjunginya. sekiranya beberapa pantai sudah mulai dikenal, tanda-tanda penunjuk bisa saja ditemui. jika tidak, ya tinggal bertanya. Lagi lagu dan bukit karang menemani di sisi.

Masuk dengan biaya perorang empat ribu rupiah, dan motor seribu saja. Pantai srau bisa juga dijangkau. Tak mau berlama-lama segeraku berburu cahaya meninggalkan kendara. kulihat ada pengunjung yang membawa papan seluncur. Namun sayang, mungkin masih menunda untuk meluncur.

Srau
Srau
Pemancing Pantai

Setelah berkeringat dan terjaga jatah frame. Aku melanjutkan perjalanan menuju ke pantai watu karung. Tanya dengan pedagang di pantai srau. pantai watu karung tinggal mengikuti jalan saja. Nanti jelas ada tanda penunjuk jalannya. Dan Benar tinggal mengikuti jalan. Naik turun konturnya, aspal baik, aspal jahat terlindas. Akhirnya tiba juga, pantai Watu Karung jelas si batu pertanda pantai ini sering dijadikan ajang berseluncur. Pantai yang dekat dengan perumahan penduduk.

Perahu Nelayan
Perahu Penjaga Pantai
Berteduh di Teriknya

Setelah mengering nafas. Lalu kulanjutkan susur-susuran pantai. Setelah beberapa kali bertanya dan sesekali salah jalan. Bertemu dengan jalanan yang kondisinya geleng-geleng rusak bukan kepalang. Pantas saja, di jalanan ini seperti dijauhi, sunyi.

Setelah heboh bertemu dengan petani iseng yang mengancam parang demi uang limaribu untuk membeli rokok namun kuacuhkan karena caranya yang mengerikan untuk sekedar dibagi.

Akhirnya bertemu dengan rumah penduduk, bertanya lagi, dan meluncur laju. Pantai Klayar yang kutuju makin meyakinkan dengan bertemunya pos retribusi. Biayanya sama dengan Srau. Hanya Watu-karung tak berbiaya, aku masuk dengan percuma.

Klayar Selepas Pos
Hempas Ombak Klayar
Ujung Daratan

Untuk perjalanan yang tentunya asik jika beramai-ramai. Lain kesempatan kembali dengan berbondong-bondong jika perlu. Pada bukit dan pantai kulepas cerita menuju rantau. Pada bakso yang menyiram malam, kuaduk harap agar kalian sehat berbahagia. Pada Teh Manis kuteguk nikmat dan memejam memohon bertemu dengan nikmat lain segera waktu. Amin.

The S.I.G.I.T yang berisik, mejikuhiuhiu. april menuju 25, 2012

anakwayang

2 thoughts on “Pada Bukit dan Pantai

  1. Assalamualaikum ya anak wayang,aku bingung nieh mau menyapa nya dengan nama siapa gitu heheheee :: yoo wess,yang penting dah numpang komentar hihihi :),oiya blognya ente bagus juga ya,n kayaknya ente cucokkk jadi photomodels nieh wkakkka,eh kmsudnya dirimu : Photographer heheheeee :) lam kenal ya,dari kota batik ..

    Jngan lupa,singgah di blog ane ya : http://ikhsanok.wordpress.com/

    1. waalaikumsalam mas.. panggil aja ben atau zan, jangan disiulin apa lagi dipanggil dengan menjentikan jari, macam burung perkutut saja.. hehe.. terima kasih atas apresiasinya. salam kenal kembali. siap, saya singgah segera. ting! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s