Merbabu oh Merbabu

Awal Mula

Setelah sekian lama bersemayam dalam ingatan akan cerita perjalanan singkat tentang beberapa manusia yang bersama-sama mendaki gunung lawu dan mengalami angin wuiih. Kini waktunya sudah datang, langit yang gelap tak menjadi pertanda, selama lampu pijar di atas meja ini masih ingin bersinar membagi terangnya yang tak seberapa, menemani asap-asap melantun dengan perlahan mengenai beberapa langkah yang terjejak pada gunung-gunung yang berselimut mimpi yang dingin dan harapan tentang  tinggi.

Tujuh orang; Man, Qih, Gung, Fia, Bay, Jul dan aku. Kami berangkat beroda, dan berkaki. Menyusuri terang. Menajamkan telinga di gelapnya malam. Menurunkan tensi dalam sinar lampu-lampu kota yang terlihat seperti koloni semut genit menggoda. Dalam dinginnya aku bertanya. Tatapan langit begitu membahana, bulannya bulat menatap manja.

Persiapan

Pendakian yang menarik, dalam benakku di permukaan, karena bagiku setiap perjalanan adalah menarik. Kami bersiap-siap dengan cara kami masing-masing. Di sekat kami sendiri-sendiri. Setelah usai mendata dan mengingat kebutuhan apa yang perlu disandingkan dengan kekuatan ingatan, kami pun beristirahat.

daftar

Mata yang lelah ini begitu malas terpejam. Dua jam berikutnya kami akan berangkat. Pukul empat pagi kami tertidur dengan paksa.

Pukul enam kurang datanglah menghampiri kontrakan, Ngal dan Gung beranjak dan siap mengajak. Qih dan aku bergegas, berselimut kantuk kami mengguyur selimut itu, dalam ayunan gayung yang tak seberapa banyak, dinginnya yang lebih terasa.

Kami berangkat menuju tempat perhampiran berikutnya tiga orang dari rombongan di sana. Tuan rumah Bay. Dan mereka dari seberang kota. Dua orang, lelaki dan perempuan, kawan forum Ngal dari kota perjuangan. Mereka sudah duduk-duduk manis, depan kamar. Kami bersalaman dan menyebutkan nama sendiri. Kami berkenalan. Setelah hilirmudik di bicarakan. Kami akan menuju sebuah daerah, yang asing dan baru bagiku. Sebuah daerah dimana kami akan menginjak pos awal, untuk melapor ingin naik dan meluruskan kaki ketika turun. Tempat yang dengan lidah-lidah timurnya fasih menyebut itu bernama basecamp pendakian merbabu jalur cuntel.

Perjalanan

Melewati jalan antar perumahan, lalu jalan raya dengan berbagai kendaraan berseliweran. Lepas perbatasan kami isitirahat mendadak. Satu motor rombongan harus  mampir, menggunakan jasa tambal ban untuk mengganti yang bocor. Di SPBU kami mampir menantinya. Membeli 2 bungkus the hangat dan membakar beberapa sigaret. Memperbaiki bawaan agar nyaman, pasangan yang dinanti tiba. Kami berangkat lagi.

Menanti di SPBU

Lewat muntilan. Magelang. Lewat terminal Tidar. Berbelok, berjalan menurun, dan menanjak. Langitnya cerah, matahari sinarnya tak lelah. Aku lempar pandang sejauh mungkin, yang ada hanya kesejukan hijau dan biru yang meluasnya.

Setelah beribu detik kami berjalan. Kami tiba di persimpangan, sebentar lagi tiba di Pos awal. Kami berhenti, aku mau melengkapi perbekalan, membeli beberapa makanan untuk teman nanti, di sebuah minimarket yang sudah menjamur sekian jauh, dan sekian dekatnya. Kawan lainnya menunggu di warung ujung jalan.

Bersantap di Warung Ujung Jalan

Memakan apa yang sudah dibungkuskan di warung selamat datang ujung jalan, meminum kopi dan tertawa. Kami berlanjut. Jalan aspal yang lumayan telah menemani akhirnya akan berpisah. Berteman kini dengan aspal sekiranya. Dan lalu menghilang berganti tanah.

Basecamp Cuntel

Basecamp menyapa. Kerumunan manusia dengan tas-tas yang besar sedang berkemas. Mereka tertawa dan tampak bahagia, kami pun tak luput darinya. Kami istirahat sejenak, lalu bersiap-siap ulang. Mendaftar dengan rupiah empat ribu per-orang kiranya. Dan berfoto ria. Setelah berdoa kami melangkaj. Selamat tinggal dunia ini, aku dan mereka akan menuju dunia itu.

Usai Berdoa

Cerita Satu

Perkampungan lembah gunung dengan pemandangan yang subtil. Tentang bagaimana bertahan hidup di ketinggian se-gini meter. Berteman kabut, berkawan dingin, bersaudara kesetiaan. Sebelum lepas jalan kampung. Membeli beberapa penghangat pikiran. Kami berjalan kembali. Melangkah dengan gaya masing-masing, membunuh engah dengan cara masing-masing. Tapak demi tapak kami sematkan.

Sejenak Pertama

Berpapasan dengan penghuni gunung, yang bermahkotakan kayu intuk bahan bakar. Bercengkrama dengan pak tani yang sedang bermesraan dengan asap dan pikirannya. Kami sejenak. Lalu melangkah kembali kali ini berteman pohon-pohon yang tinggi, yang masih membuat kita terlindungi.

Bertemu Senior

Sekian kiranya pos bayangan satu kami temui. menyerupai rumah dengan atap. kondisinya sudah tidak begitu kokoh, tapi masih bermanfaat. Memakan cokelat batangan pemberian dan mengunyah tawa.

Setelahnya, berjalan lagi pos bayangan dua kami tiba, Disini ada sumber air yang baik. Air yang menyejukkan tidak hanya mata, dahaga dan perut pun bisa. Mengambilnya, menuangkannya dalam wadah, sebagian untuk memasak dan menyeduh. Lalu kami melangkah lagi. Rintikya sempat turun, lanjut naik itu pilihan yang masih mungkin.

Pos satu

Pos satu (Watu Putut) persimpangan lewat sudah. Pos dengan corak beberapa batu. Pohonnya masih rindang. Sesekali lengang. Jalur yang menyenangkan jalur yang masih alami berwajah tanah. Walau teksturnya tetap saja ingin dibuat se-alami bagi manusia menapak.

Pos Dua

Pos dua (Kedokan) kami tiba setelah wilayah terbuka kami lewati, Kiri kanan bukit hijau dengan ceruk jurang menyegarkan. Ada rombongan pendaki di sana mereka sedang beristirahat ramai. Di pos ini juga terdapat air, tapi kami tidak menjemputnya. Masih cukup prediksi kami. Memakan permen dan coklat batangan lagi, menyiramnya dengan tawa.

Lukisan Langit

Bersegera langkah karena ada mozaik indah dari Maha Pelukis ketika sore menjelang ujung. Matahari jingga sedang berperan gunung sumbing sindoro berlala-lala ria. Langitnya indah. Kami merekamnya dengan ingatan, dengan alat bantu masing-masing juga. Setelah mata kamera merasa cukup, perjalanan dilanjutkan. Bukit tetangga terlihat konturnya. Detak demi detak. Langitnya sudah mulai redup. Alat penerang disiapkan. Kami berjalan tak lama dan tak akan lama pos tiga menyapa. Pos yang mereka bilang adalah kergo pasar

Cerita Dua

Pos tiga Kergo Pasar dengan lahan yang datar alamat luas. Dengan panorama yang meluas mengarah ke barat. Kami bersepakat tenda didirikan. Teman punggung berbagai ukuran akan terburai isinya, tentu “Kulkas”, candaan sapa pendaki lain tentang tas besar yang digendong oleh Qih.

Petangnya mulai segera pergi. Harapnya terang malam pun tak lekas ikut tak datang. Dan purnama menjadi perhiasan bagus malam itu. Memasak dan menari-nari dalam obrolan. Gergemul dengan dingin. Menghangatkan badan dengan cerita, kopi, judul dan sigaret. Tiga tenda juga berdiri. Satu tenda diisi satu orang, lainnya disisi dua orang dan empat orang.

Pos Tiga Kergo Pasar

Pos 4 pemancar terlihat, ya 2 jam kiranya mencapai sana, sudah dekat bukan? Langit luas dengan bintang pun terlihat. Berapa lama kesana? Sudah dekat bukan? Sebentar lagi.

Kami beristirahat dinginya semakin berharga karena sang rintik urung datang, dan harapan tak perlu datang dulu. Cerahnya dengan taburan bintang dilangit dan lampu kota menyemut biarlah menemani.

Gegas Rekam

Pagi hari kami sapa. Memotretnya, merekamnya dalam segelas kopi, dan cemilan pagi. Obrolan yang dibangun dengan macam mimpi personal tadi, namun ku tak tahu inikah mimpi. Lawu pun setara mata.

Lawu Setara Mata

Perjalanan dilanjutkan pos 4 pos yang memiliki ciri beda. Di sana ada menara radio. Dengar cerita itu punya militer dan sudah tidak berfungsi lagi. Sambil mendamaikan terangnya mentari, langkah-langkah kami luangkan.

Menjauh dari Pos Tiga

Beberapa sekian waktu kami bertemu pendaki yang lelah. Pendaki yang turun. Di bawah terlihat kejauhan rombongan pendaki mendekati kumpulan tenda yang kami tinggal. Dengan teriakan kami bersapa.

Pos Empat Menara

Tanaman mulai mengecil, cantigi mulai rajin menyapa. 2200-2500 mpl kiranya ketinggian tinggi ini. Dan pos 4 kami injak juga ada. Ramai juga disana, beberapa manusia dengan tenda-tenda yang berjejer selayaknya. Mereka yang merekam malam di sisi jalur yang bercengkrama dengan jurang-jurang menuju kawah, berdekorasi lembah-lembah.

Kami akan berhadapan dengan tujuh bukit penyesalan. Kenapa mereka menyebutnya begitu, karena mungkin kemiripan, dan puncak-puncak pura-pura yang ditawarkan, entahlah. Bagiku tidaklah menyesal, karena sudah mata menajam. Buat apa sesal penyesalan. Perlahan makin perlahan, Helipad, Puncak geger sapi terjamah kami.

Mula Bukit Serupa

Jembatan setan tak lama lagi akan kami lewati. Kenapa dinamakan jembatan setan, menurutku yang pasti harus lebih waspada. Jalurnya yang kiri kanannya jurang panjang. Tampak terlihat tidak begitu mengerikan seperti namanya, tapi kalau angin tiba dan bermortir hujan, inilah jembatan setan terasa.

Ondo Rante

Tak lama kami berkamuflase seperti cicak, Ondo Rante. Melangkah menyerupai cicak dan kepiting, berpegangan dan menyamping. Setelahnya jalur tak seperti yang terakhir ku lewati, ternyata dengar cerita ini pernah longsor. Pantas saja semakin abstrak jalurnya, tapi tetap masih bisa dipijak. Kami lebih perlahan lagi, ceruk persimpangan dua puncak menancap dekat mata, tak lama lagi.

Menuju Persimpangan

Persimpangan ke kiri menuju puncak Pregodalem yang karenapernah ditinggali oleh Mbah syarif sekarang puncaknya ternama puncak Syarif, ke kanan Kenteng Songo dan puncak Triangulasi. beristirahat sebentar di persimpangan. Lalu melanjutkan jalan. Dan tiba kami puncak, Jul dan Gung sudah lebih dulu. Alhamdulillah kami tetap menyatu.

Puncak Kenteng Songo

Merapi “santapan surga” bagi mata sedang bercerita di balik kabut yang sudah memutih. Merapi sedang absen. Kami menggelar kompor dan mengeluarkan konsumsi. Perayaan sederhana dilangsungkan dengan beberapa jenis santapan makanan dan minuman. Fia dengan maagnya yang kambuh sedari dia bilang, kini tak galak lagi. Karena sudah menemukan penjinaknya. Walau harus meminta dulu ke pendaki lain yang berbaik sangka.

Puncak Triangulasi di Sana

Puncak di merbabu tertinggi adalah triangulasi dengan beda 2 meter tingginya. Namun yang lebih familiar tentunya Kenteng Songo. Puncak ini punya riwayat tentang batu-batu menyerupai Kenteng (lumpang, berlubang, wadah tumbuk) berjumlah sembilan. Bagi mereka yang dapat melihat lebih ada sembilan jumlahnya dan terletak berjarak. Bagi yang melihat biasa. Ada 5 kenteng hadir di sana, 4 utuh dan 1 yang patah.

Cerita Tiga

Puncak (Pos 4) Menara di Sana

Setelah perut berisi. Dan kartu memori terisi gambar dengan pose-pose. Kami turun. Kepala harus kembali menyapa kaki. Nyanyian penyemangat kembali dikumandangkan. Seperti ketika mendaki. Menuruni juga perlu nafas berjarak. Seperti urutan awal, kami menurunkan tempo agar tak tergelincir. Lagi juga Qih harus berceker ria setelah sendalnya putus tak bilang-bilang.

Turun.. Turun..

Kabut menghiasi tiba di simpang pertemuan dari jalur Wekas, disana banyak batu berserak.

Batu Berserak

Gung sama Joel sedang duduk-duduk santai diatas batu, kami bergabung. Menghabiskan beberapa batang, tertawa, dan bercanda ria. Mengisi senjata ingatan dengan peluru mata dan telinga. Jul punya senang dengan batu, begitu dia bercerita.

Dari Batu

Setelah cukupkan beralas batu, panggilan dari Bay memecah. Sudah saatnya kami bergabung kembali. Menara yang kecil terlihat tadi, sudah tampak besar lagi sekarang. Pos empat sudah di absen. Beberapa lama lagi kita sampai pada peraduan di pos tiga yang sepi ditinggalkan tak berkawan.

Turun Menuju Pos Tiga

Sambil berbincanng dan bernyanyi. Angin datang, bawa awan, awan diam menjatuhkan rintik. Hujan kecil mencoba ikut bernyanyi bersama sampai ke peraduan. Kami mulai berkegiatan rutin lagi, menjadi koki untuk santapan kerajaan lapar. Setelah bercengkerama dengan api dan air hangat. Memakan nasi dan mie, sosis juga. Akhirnya kami masuk ke tenda dengan terbuka. Kami mulai mengisi malam dengan bercerita dengan awal mula bisa senang berkegiatan alam bebas, terutama mendaki gunung. Tak terasa malam seperti berlari. Berbincang-bincang jam sepuluh sudah datang. Kami pilih untuk memejamkan badan. Jul bergabung dalam tenda kami, lima orang masih cukup. Tendanya dibiarkan sendiri. Malam terus berlari.

Cerita Empat

Negeri Gegana

Bay membangunkan. Dia kata pemandangan pagi itu sungguh Hore. Awan yang menggumpal. Seperti permen gula di pasar malam. Putih dan bercorak. Sumbing Sindoro dan gunung-gunung lainnya tampak indah dan gagah. Bulan yang semalam pun enggan pergi sepenuhnya.

Bulan Pagi

Mereka merekam keindahan itu, aku juga, setelah merasa cukup. Ada yang memasak, kami memasak sarapan. Menunya kacang hijau dan mie. Ada juga nasi goreng. Fia menepati janjinya, dia yang akan memasak. Setelah perut menjadi anak emas, kami berkemas. Kami akan turun. Menunda cerita panjang untuk kesempatan lain. Selesai berkemas, kami sudahi dengan berdoa. Langkah pertama hari itu dimulai, kami turun gunung serta turun rintik dan kabut.

Kabut berselimut harap sebentar. Jejak kian terasa pendek. Musik memancar dari alat komunikasi luar ruang milik Ngal menemani langkah, menjaga mata. Lagu jawa rasa bossanova, berkali-kali menggaung, berulang. aku hanya ingat satu judul saja yaitu lingsir wengi. yang satu lagu lagi. lupa. Bernyanyi hingga kurang daya, lalu membuatnya diam.

Pos demi pos akan kami salami. Berhenti di pos dua mengisi persediaan air kami yang langka. Rencananya kami adakan perayaan di bawah saja. Di pos bayangan dua yang ada air juga. Pos satu membuat air warna yang segar, lanjut lagi.

Rombongan terdepan Jul, Gung, Bay, dan Fia sempat melihat rombongan kera yang berlompatan dari dahan ke dahan. Kami rombongan belakang, Qih, Man dan aku tidak mendapatkannya.

Kami terus bernyanyi, menambah ceria jari kaki. Dari lagu macam apa, hingga lagu macam-macam. Kebahagian bagiku bukan dicari, kebahagian sebaiknya diciptakan, dan aku berusaha mempraktekan itu.

Kami tiba di pos banyangan dua, menggelar perapian dan memasak bubur dan memakan sari kelapa, sukur nikmatnya. Setelah cukup, kami lanjut menurun. Pohon-pohon yang tinggi kanan kiri, dan hujan lagi turun.

Hujan Kembali

Derasnya membuat lagu kami mengeras. Perlahan, air mengalir menemani langkah, mengisi jalur. Perlahan lebih perlahan, tapak dijejakkan. Berbagi akomodasi, berbagi suara dan bernyanyi. Atap pemukiman semakin tampak. Hujannya terbang tenggelam. dan persinggahan tapak mencapai aspal pemukiman. Setelah berpisah dengan ladang, aku mampir ke kedai membeli sigaret untuk perayaan berikutnya.

Sukur. Basecamp kami sudah jangkau. Berbenah membuat diri hangat. Ada yang membersihkan diri, membeli bakso-tahu, dan membuat kopi. Kami kembali dalam lingkaran cerita.

Apa yang kami alami di atas kami ceritakan lagi dengan Ando penjaga basecamp. Generasi muda yang menggantikan generasi pendahulunya. Cerita yang mengalir membuat kami bertanya-tanya, benarkah?

Singkat Cerita, Merbabu sendiri merupakan singkatan dari meru yang artinya gunung dan babu yang diartikan wanita, ini gunung wanita. Maka ketika mendaki, sebaiknya berperilaku sebagaimana kau bersikap memperlakukan “wanita”. Walaupun setiap gunung punya cara khas untuk menyematkan rindu.

Kode sandi setiap posnya adalah perlengkapan berhubungan dengan keluarga. Dari kergo pasar dan geger sapi, kenteng songo, mas Ando mengisahkan. Obrolan melanjut pada hewan endemik di gunung tersebu, selain burung, monyet, macan dan lainnya. Merekalah makhluk nyata yang lebih dulu memiliki gunung merbabu, dan manusia hanya mampir berbagi.

Setelah kiranya cukup bercerita dibalik cerita. Kami mampir ke rumah Pak Tono, yang kenal akrab dengan Bay. Bay sudah mendaki merbabu kalau tidak salah ingat untuk kelima kalinya. Pak Tono yang masih berkegiatan sebagai guru dan sahabat pendaki walau kini garda depan diganti dengan orang  muda. Dengan bersahabatnya beliau memperlakukan kami, nasi goreng disediakan. Bercerita dan tertawa, sesi silaturahmi kami sudahi dengan foto bersama. Terima kasih atas kehangatan keluarga Pak Tono. Lain waktu, kami berkunjung lagi, Semoga.

Dan malam yang baru. Kami lewati dengan roda dan sisa-sisa tenaga, berteman kendaraan lainnya. Kami tiba jua di kediaman bayu. Melingkar lagi. Basah dengan cerita lagi diceriakan susu kopi, Sambil lalu melihat-lihat hasil rekaman senjata masing-masing.

Kali ini berenang dengan cerita-cerita yang tadi dengan berbagai rasa dan variasi. Ah, rumusnya tersangka. Ku tak kuasa, kucing yang katanya tak ada itu, jangan-jangan ya jangan-jangan.

Kami santai dan waktu tetap santai. Jam satu dinihari kami sudahi lingkaran ini. Besok cerita lain akan menjelma.

Terima Kasih Buat Kalian

Jul, Bay, Man, Qih, Fia, Gung. Kami dengan cerita yang mendekam bermacam. Terima kasih berkali-kali untuk kalian semua. Kalian Hobah! :D Sampai ketemu di jejak-jejak yang bersuara lagi.

1752-2050 mejakuhibiniu. Cerewetnya Pink Floyd. 22 april di tahun 2000 ke 12
anakwayang


2 thoughts on “Merbabu oh Merbabu

  1. sekiranya saya suka akan mendaki lagi dengan kawan-kawan, kapan nanti kita menuju punjak kembali dengan bekal ‘kulkas’ tak apa supaya tak kelabakan dalam hal urusan minum-makan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s