Pergi dan Kembali

Siang bermula pagi. Pagi yang menyadarkan saya, dari ketiadaaan menjadi ada dan menuju ketiadaan lagi. Dimulai dengan sebuah percakapan telepon. saudara saya menanyakan keberadaan diri. dan saya ternyata ada di kamar, yang notabene hanya terpisahkan  tak lebih dari sepuluh centimeter berbentuk tembok.

Dia memberitakan tentang Alena-nya yang sedang terdiam, ia meringkuk dalam wadah. Bisu gerak-geriknya.

Kami membawa ke klinik hewan, dan sayang sekali dokternya sudah-sedang tidak hadir disana. Kami menuju rumah sakit hewan soeparwi, berkendara menyerupai ambulan. Dan segera saudara saya menyerahkan ke dokter hewan. lalu dokterpun mengeluarkan alat jitunya, stetoskopnya. Dokterpun menggeleng. Alena sudah kembali. At Sea (we are nothing).

Terlihat saudara saya dengan mata yang tak percaya, yaaaa. Saya tertunduk tak berkata. Lalu dokter itupun membungkus alena dengan kain mori. Tubuhnya yang kecil tetap terlihat kecil. Keberadaannya yang sebentar bukan hal kecil di kediamanan kami. Rasa ingin tahu tipikal anak-anak membekas bagi kami. Dan kasih sayang yang mulai tumbuh bukanlah hal yang kecil.

Kami pulang dan terdiam. Segera melayani terakhir kalinya. Dengan cangkul tanah digali, di lahan belakang rumah. Sang tuan tanah yang berada di situ, bertanya. Beliau cerewet sekali hingga kami dua kali berganti posisi. Karena mungkin kami dianggap sedang bercanda, akhirnya kami menurut saja.

Pojok  lahan itu, letaknya ke bawah sejauh kurang lebih 30 centimeter, ia berbaring, berteman dengan tanah dan akar. Daun dan ranting yang menuju surga. Menanti jauh Kurt D Cobain di waktu yang sama, disana.

Alena tidak pergi, ia kembali. Kembali kepada Yang Mengutusnya pergi untuk sebentar menemani kami. Membuat kami tertawa geli karena aksinya, merintih aduh karena cakarnya.

Alena, sebuah cerita, sebuah nama. Nama yang terisnpirasi dari nama istri penjaga gawang pujaanya, Buffon.

Tak perlu mencari penggantinya, karena memang Alena tak berganti.

Cakarnya masih terasa, aumnya masih menggema. Miss You Kid.

Ghaust dan The Milo yang berisik dan gelas yang kosong,

sehari sebelum mendaki, 2012 april ke lima.

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s