Angin Lawu Bukan Angin Lalu

Mukadimah.

Ini bukanlah catatan perjalanan, hanya coretan yang tercurah dari ingatan atas apa yang pernah kami lakukan.

“pucuk.. pucuk.. pucuk..”

Bagaimanapun pucuk itu selalu membuat saya bertanya dalam hati mengapa harus pucuk? Biarlah angin dan kabut yang mengirimkan salam rindu saya untuknya.

Intro

Persiapan

Sore itu basah, langit gelap belum pada waktunya, ia berawankan pekat. Kami berenam berkumpul sejenak membahas apa saja yang sudah disiapkan, apa yang perlu dilengkapi. Lawu menjadi tujuan bersama. Jalur pendakian cemoro sewu-Magetan, kami akan bersapa.

Setelah bersepakat sana-sini akhirnya kami berbagi tugas, ada yang membeli konsumsi, ada yang menyewa tenda.

Tenda yang ada diperkirakan kurang mencukupi buat kami berenam, tenda tambahan dengan kapasaitas 3-4 orang diperlukan. 50Ribu disiapkan ditukar dengan jangka waktu 2 x 24 jam.

Kopi gula, mi instan dan kawan-kawannya telah di bagi sedemikian rata untuk jaga-jaga, sisa jenis lainnya digabung dalam satu tas. Tenda dan alat makan terpisah, kami berenam dengan 7 tas, 3 motor. Kurang lebih jam sembilan malam kami berangkat, berhenti untuk mengisi bensin di bilangan dekat bandara, makan jagung rebus, dan lalu melaju.

Sampai solo, masuk karanganyar. Tiba di SPBU yang masih berjaga, kami berhenti disana, mengisi bahan bakar, dan membuang air yang ditahan. Perjalanan dilanjutkan.

Mendekati makam Giribangun. Kabut pekat menyapa kami, dengan perlahan kami meraba jalan, berliku dan menanjak itulah jenis jalanan yang harus dilewati, kami terperangah dan tersenyum berbahagia, maklum jarang ketemu kabut semacam itu di tempat tinggal kami.

Satu paket datang lagi, dia berwujud hujan dalam kadar gerimis, kami berteduh, menyiapkan penghangat masing-masing, ada yang menggunakan sarung tangan, menggunakan raincoat, jas hujan, ada juga yang hanya membakar sigaretnya.

Jalan lagi, tak lama setelah kami berhenti berteduh tadi tiba juga akhirnya di basecamp cemoro sewu, kami sudah di depan gerbang gunung lawu tepat kiranya pukul satu.

Memarkirkan kendaraan di halaman basecamp kami beranjak menuju warung yang masih buka, untuk menyantap makan malam dan juga menjadi makan pagi kami, nasi goreng seharga enam ribu dan kopi hitam di gelas kecil seharga dua ribu semua dalam rupiah.

Kami akhirnya masuk basecamp untuk melunjurkan kaki sekedar merebahkan badan dalam dinginnya suasana hari itu. Setelah berpamitan dengan penjaga basecamp, kami tidur, dinginnya menyelimuti, dinginnya menembus kaki. Gerak-gerik tak sadar terjadi. dan tak terasa sudah pagi.

Pagi, Cek Barang di Basecamp

Teh hangat kami buat, untuk menghangatkan pagi. Demi glukosanya kawan perjalanan nanti, setengah delapan kami berangkat dari basecamp, wangi cemara dan tumpukan jalan batu menyapa, selamat datang teman, semoga perjalanan kalian menyenangkan. Bagi saya sendiri perjalanan ini menjadi perdana setelah lama sekali berpetualang dibalik dinding dan memandang cakrawala berupa plafon-plafon putih dengan bintang menyerupai lampu neon 15 watt besarnya.

Perjalanan satu

Perjalanan ini begitu terasa, begitu terasa. Sebagian sudah ada yang merasa kehabisan nafas, saya juga. Tapi senyum bisa menjadi bahan baku efektif untuk menkonversi peluh yang kami rasa. Tidak untuk pura-pura, tapi pendakian kali ini dan sebelumnya. Adalah kura-kura, perlahan dan perlahan. Bergantian teman punggung. Mengkondisikan kekuatan badan.

Sendang Panguripan

Sendang panguripan, penanda yang menempel dipohon coba memberitahu perihal nama lokasi tersebut, ada dua bangunana, menyerupai rumah tak berdinding, bisa menjadi tempat istirahat. Di belakangnya, itulah sendang panguripan, kolam yang menampung mata air gunung lawu. Kami berisitrahat, mengambil air menambal kekurangan  yang sudah menjadi pembasah dahaga sedari bawah tadi. Tak lupa kami tetap tertawa.

Berkebun

Melangkah lagi, bertemu dengan ladang penduduk, ada bunga, ada buah, ada macam-macam disana. Pohon yang tumbang, pohon yang melintang, menjadi ornamen memanjakan mata. Terlihat ada juga petani yang sedang menggarap lahannya. Tak lupa kamera siap sedia merekam apa yang menurut saya patut direkam, dalam media film berukuran 135mm yang akan menemani selama perjalanan ini, ada 72 frame, roll berjumlah dua.

Menjelang Pos 1

Melangkah dan makin menanjak, pos 1 melambai dari kejauhan, kami semakin dekat. Ya sebentar lagi sampai. Sampai pos 2 tentunya, puncak semakin dekat, kami istirahat sejenak dengan takaran beberapa batang sigaret. Dalam penantian ada rombongan pendaki yang lewat, bergabung dalam shelter, mereka berisitirahat kami melangkah lagi.

Makan :D
Masak-masakan di Pos 2 (bangunan di belakang)

Pos 2, kami menggelar alat dapur, 2 orang dari rombongan telah tiba terlebih dahulu, mereka sedang menyantap mie, dan kami bergantian memakan mie. Merebus air mnyeduh kopi. Santapan siang itu menjadi penyegar dalam dingin yang hangat siang itu. Setelah ritual pemujaan konsumsi kami menanjak lagi.

Pos 3

Pos 3, ketika pendakian saya yang kedua di gunung lawu, pos tiga menjadi tempat kami mendirikan tenda, karena gelap sudah datang waktu itu, dan kami menjaring matahari terbenam disana. Untuk sekarang kami hanya duduk-duduk manis. Bergabung dengan rombongan anak sekolah, mereka sedang melaksanakan sholat ashar, berjamaah. Di pos tiga ini rintiknya mulai jatuh, awan dan kabut menyatu.

Tengah perjalanan dari pos 3 ke pos 4 kami diuji dengan hujan yang turun, kami berjubah semua, hujan ini bercampur dengan kabut, bergelimang dengan dingin, bermutasi menjadi ujian yang menurut  permainan konsol adalah kombo, paket beberapa dimensi.

Pos 4 (gambar diambil ketika turun)

Pos 4 kami lewati, pos ini tidak menyediakan shelter seperti 3 pos sebelumnya, hanya ada tanah seukuran satu tenda, tak berlama-lama disini kami melangkah lagi, medan yang dihadapi masih sama, susunan batuan menyerupai anak tangga, dengan bagian pinggirnya ada tangan tangga terbuatbesi yang menjadi pengaman dalam menjajaki langkah. Pohon besar sudah jarang terlihat, kabut tebal masih meliputi kami, dinginya yang bercampur basah. Pikiran disiapkan dalam kondisi yang konsentrasi penuh. Akhirnya punggung saya kalah, perbekalan harus berganti punggung. Pos 5 kami lewati, ini juga tempat yang asik menyambut matahari terbit dan saya pernah mengalaminya, pendakian pertama. Tapi ini sore, dan lagi-lagi kabut masih senang menemani. Menuju sendang drajat kami berisitirahat disana, karena disana ada warung yang menyediakan makanan, diatas ketinggian itu, masih ada yang berdagang, ya karena lawu adalah gunung yang banyak didatangi oleh peziarah.

Sendang Drajat (gambar diambil saat pagi hari)

Jam lima sore kami tiba di warung tersebut, warungnya tidak buka, mungkin karena bukan akhir pekan. Kami menggelar matras menyalakan kompor, merebus air menyeduh jahe, kopi dan kawan-kawan, makanan ringan kami santap. Tenda akan berdiri sekitar sini begitu pertimbangan kami, dua orang dari rombongan mencoba mencari lahan yang cukup. Dan kami mecobanya, di sendang drajat terdapat sejenis goa, entah buatan atau alami. Kami menaruh barang di warung, dan mendirikan tenda. Tetapi apa, angin saat itu seperti badai, tenda yang kami dirikan dengan mudahnya dibuat terombang ambing terbang, pstilah bukan ide bagus untuk mendirikan tenda ditengah gempuran angin yang besar.

Tenda Dalam Goa

Akhirnya dalam gua itulah kami dirikan tenda, disekitarnya barang kami letakkan, tenda satunya tak berguna. Dalam tenda itu kami berenam. Dan itu menjadi jalan keluar, dimana kondisi fisik kami yang sudah mendekati ambang keletihan dan kedinginan. Tenda berhasil berdiri kami mencari posisi masing-masing, bagaimana caranya agar bisa menutup mata.

Waktu-waktu berjalan seperti biasa dan dinginnya tidak biasa, lagi anginnya. Tenda kami seperti tertampar. Dalam kondisi dalam goa yang terlindung ¾ bagian ternyata angin masih terlampau hebat dalam berkelebat.

dua belas jam sudah lebih, kami di dalam tenda, melanjutkan ke puncak kami tunda, terlalu beresiko jika memaksakan diri, lagi pula bukankah puncak bukan tujuan, lebih penting kami selamat hingga awal mula kami berangkat.

Perjalanan dua

Bendera Pasrah Dihempas Angin

Pagi yang super itu, dengan sisa-sisa semangat yang sudah dibangun lewatnya hangatnya tenda, tawa, dan keluhkesah yang keluar dalam tenda, musik lewat telepon genggam mengalun menghangatkan gerak menyereupai senam organ-organ badan. Sambil memasak air dan mie rebus, mie rebus menjadi santapan yang istimewa dalam scene lawu saat itu.

Barisan Berteman Kabut

Kami sepakat untuk turun, bergabung rombongan dari bekasi jumlahnya 3 orang, kami turun, dan benar saja paket yang dihadapkan ke kami adalah lengkap, telah hujan, kabut tebal, angin kencang, belum berakhir, jalur punggung bukit dari sendang drakat harus kami lewati dengan berjalan duduk, karena angin begitu kencang jikalau nekat berdiri pastilah terbawa angin, dan sisi sebelahya adalah jurang.

Satu-satu

Kami bergantian, membaca angin, berkira-kira, berjalan seperti ngesot, bagi saya kalau saja tak membawawa tas kemungkinan bisa terbawa angin. Kami seperti ninja, bergegas maju satu per satu mencari perlindungan di balik pohon yang berdiri tegar disapa badai. Setelah bergeleng-geleng ria, kami sampai juga di pos 5. sukurlah.

Angin Menerjang

Perjalanan turun benar-benar seperti kura-kura, tetapi lebih cepat lebih dari mendaki, saudara dalam rombongan menjadi korban keganasan track lawu, Pertama sendalnya kedua sepatunya, rusak sol ekduanya, mereka jadi mangap. Akhirnya sendanlnya diikat dengan tali tambahan biar tak menganga sementara, semacam sendal wiro sableng.

Kami di belakang berempat, dua orang lebih cepat. Pos empat, tertinggal. Pos tiga bergabung. Tertinggal, pos dua bergabung, selanjutnya pos satu kami bergabung kembali. Wajah jalur yang kami daki kemarin melambai selamat jumpa, ladang warga, sendang panguripan, dan tiba di gerbang masuk. Setengah berlari saya mendahului rombongan bukan meninggalkan, tapi ingin merekam dengan mata rana.

Outro

Akhlakul Karimah Adventure :D

Menuju warung tempat menitip kendaraan, memesan soto ayam, memesan minum, membakar sigaret, menerima telepon dari rumah, membalas pesan singkat yang tertunda, membeli souvenit. Kami pulang, dan hujan mewarnai sepanjang jalan, sepanjang pegangan.

Lepas klaten kami mampir makan di garang asem, rekomendasi seorang saudara, kami makan, enaknya bukan bohongan, kenyangnya juga.

Kami berenam sampai di rumah kontrakan, kami berisitirahat caranya masing-masing tapi semua mirip, rata-rata berbaring. Terimakasih untuk kalian semua \m/ :)

Ingat patahan lagu yang dibawa the vines. “You can plan a pretty picnic, but you can’t predict the weather”. Semacam ucapan manja sang lawu yang meminta kami untuk mengunjungi lagi entah kapan, menjamah batunya, mencium wangi tanah yang terbawa angin bercampuran, menyimpan segudang cerita mistiknya, kebesaraan gunung   ramai saat satu suro, membekukan puncaknya. Hargo dumilah.

Langgam lawu terus mengalun dalam kepala, bagaimana tidak, badai angin yang cuma dapat dengar dari cerita-cerita akhirnya kami rasakan, resiko tinggi ketika kepala kau buat tinggi menjunjung awan, tertiup angin pastilah pindah, membumilah membuatmu berakar kuat tak mudah enyah, tak mudah terombang ambing. Angin lawu bukan angin lalu.

Senandung langgam lawu, mamayukero, bakumbabakumba teo, baturunturun bero. penggalan irama, cintaku padamu takkan berubah walau di telan waktu dari ita purnamasari. Meninggalkan coretan ini, rekaman ingatan dan citra imaji. Tentang mengapa harus ada naik dan turun dalam suatu perjalanan, pergi dan kembali. Dan lagi, angin lawu bukanlah angin lalu. dan coretan ini mudah-mudahan bukan titik. tapi adalah tanda tanya dan koma.

Dalam rinai lampu meja dan lampu pijar, serta melodi david gilmour, tanggal setelah tiga dibulan keempat

anakwayang

citra-citra lainya bisa dilihat disini atau disini 

One thought on “Angin Lawu Bukan Angin Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s