Dalam Dingin Ada Yang Mati?

Ya, pagi menjelang siang pada hari setelah minggu, kami berencana ke perpustakaan kampus, ajak seorang saudara. Mungkin saja dia rindu buku-buku, bisa pula rindu suasana di dalamnya yang berpendingin udara, sepertinya dia ingin menguburkan sesuatu untuk mengbangkitkan kepalan di dalam semangat barunya.

Saya mau, karena ingin tahu kondisi perpustakaan yang baru itu, sembari cuci mata melihat buku tanpa perlu mata basah berair karena harganya. Ruang itu tentunya banyak berubah. Tataletak barang-barang di dalamnya, dari rak-rak buku yang berbaris, meja kursi tak bernama. Tak luput orang dalam yang bertugas disana. Waktu berganti, wajah baru banyak menghiasi.

Ilustrasi / Sumber

Beribu-ribu jam lamanya, baru hari itu saya masuki kembali ruangan bermeja-kursi nyaman lagi teratur. Ruangan berpenghuni yang berbisik-bisik kalau bicara, kebanyakan lainnya membisu. Tampak serius dengan apa yang mereka genggam, bercengkrama hebat dengan apa yang mereka cengkram, membatasi jarak pandang pada rangkaian kalimat-kalimat, dan lembar-lembar laman digital.

Pesan singkat saya terima, yang mengirimnya saudara saya yang lebih dulu tiba di perpustakaan itu. Dia mengutarakan kesialan dalam menyambut pagi yang baru, menyapa semangatnya yang menggebu, semangat ke-perdanaannya dalam menjamah ruangan baca. Sialnya karena dia berjaket dan tak boleh masuk.

Beratnya karat mengenyahkan ruangan besar yang terletak dekat parkir kendaraan mahasiswa itu. Akhirnya langkah kecil saya lepaskan untuk mengikis karat yang menempel. Tak ada niat menggebu, seperti hari-hari kebanyakan, saya yang mengenakan kaos berselimut jaket kelas.

“Bila tak boleh masuk, ya saya keluar, besok lagi kesini. Kamu saja yang masuk dengan kemeja itu.” Saudara saya yang satu ikut meng-iyakan. Biarlah kami membaca asap yang keluar dari mulut kami sendiri. Canda kami di depan pintu perpustakaan.

Kami bertiga masuk, dan menitipkan tas kami dalam loker, yang kuncinya ditukar dengan kartu penghuni. Kami menuju rak yang berisi barisan karya berhadiah toga. Kertas-kertas yang bercover warna ungu, biru dan merah. Saya yang buta warna akhirnya pindah ke rak yang lebih berwarna banyak ketimbang rak yang satu warna saja.

Sudah dapat apa yang saudara saya cari. Dia duduk di salah saru kursi, dan mengeluarkan komputer jinjingnya, sambil ditemani saudara saya yang satunya lagi. Saya tetap hanya sendiri.

Kalian pernah dengar atau baca tentang kelebihan perpustakaan? Jika belum maka sekarang sudah. Adalah berpendingin udara, tentu saja koleksi buku yang berjejer, bertindihan, dan banyaknya penanda dari kelompok-kelompok buku. Di ruangan itu tentulah nyaman? Tapi kemana yang bisa menyamankan saya ketika mata dan jari begitu tidak seimbang. Buku-bukunya aneh, saya jadi aneh. Katalognya membingungkan, saya jadi bingung. Judul-judulnya lucu, Saya jadi melucu.

Bolak-balik di rak berjudul sama dan mendekati, kembali ke komputer katalog lagi, penasaran lalu ke rak buku yang itu, yang mendekati lagi . Perlahan tapi pasti, lelah sisi dalam dingin ruang dingin ini. Lancarnya data yang keluar dalam katalog belum juga berbanding lurus dengan ditemukan judul buku yang saya cari. Dalam dingin butuh adaptasi, dalam dingin ada yang mati.

Adakah yang mengalami kondisi seperti saya? Kenapa perpustakaan tidak dibuat untuk singkatnya adaptasi? Dengan teknologi tentunya tidaklah sulit mewujudkannya. Mengakui atau tidak, kemajuan teknologi harusnya lebih memudahkan mengakses fasilitas sekarang ini dibanding jaman saya dulu. Saya yang menjadi penghuni berpredikat lumayan aktif masuk ruang-ruang kelas.

Jikalau ada yang merasa sama, mana suaranya? Terlalu dingin? Mungkin. Atau terbiasa berbisik-bisik? Bisa jadi. Jangan-jangan saya yang terlalu tuli. Ah peduli.

Saya tergoda, oleh mereka yang berhasil mengajak saya untuk mebawa mereka dari ruang dingin yang aneh ini. Walau bukan pelepas dahaga, penghilang asam. Mereka berjumlah tiga buku saja. Tentang aplikasi, tentang huruf-huruf dan tentang dasar tata letak dan penerapan. Teruji kartu penanda itu masih berfungsi dengan baik. Saya masih beruntung, bersih dari rekam jejak lupa perihal pinjam-pinjaman buku.

Setelahnya, kami menyantap siang terik sementara itu dalam bentuk makanan penyetan. Sayap ayam dan tempe goreng tidak tinggal sambal dan kecapnya. Setianya gelas berisi air teh dan es, ada juga air jeruk. Sajian yang kami ikuti sejarahnya dari bermodalkan lima ribu rupiah mendapatkan makanan minuman, sebungkus kerupuk mini dan se-sigaret, sekarang lebih harus ditambah dua ribu kiranya.

Meja terisi penuh disana, ini jam makan kenyang. Sepoi-sepoi angin di bawah pohon rindang samping rumah makan tersebut menjadi atap. Sehingga terkesan kamilah yang menjadi penjaga parkir, tak apalah asal mereka dan kami kenyang. Bukan salah kesan mereka karena memang tempat itu biasanya dijadikan parkir. Saudara yang lain datang, ada yang bergabung. Ada yang memesannya dalam wujud bungkusan. Kami menyantap obrolan, ada obrolan ini juga, obrolan yang menglir dalam keadaan perut hampir terisi.

Setelah ke kedai yang mana saya harus mengantarkan harddisk kepunyaan saudara saya yang lain, yang sedang bermeja dengan kawan-kawannya. Hari itu berakhir di sebuah gerobak pedagang rujak, membeli santap buah buat si bowok, adik angkat saudara kami yang lucu bukan karangan.

Dan besok saya akan berkunjung lagi, bisa jadi ke tempat makan itu, tapi untuk ke kedai, kecil kemungkinan. Saya akan ke ruangan itu untuk mempertanyakan kembali, dalam dingin ada yang mati?

dihari kedua, bulan yang kerennya dibilang april,

mulut kering berisi naga.. haum.. haum..

anakwayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s